Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 25 November 2018 | 19.38 WIB

Transformasi Teluk Bayur Menuju Wisata Pelabuhan

Aktifitas di Pelabuhan Teluk Bayur - Image

Aktifitas di Pelabuhan Teluk Bayur

Teluk Bayur tak asing di telinga masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) dan populer di kancah nasional hingga internasional. Selain sudah tua, "buah tangan" Belanda yang dulunya bernama Emmahaven tercatat sebagai satu dari lima pelabuhan besar tersibuk di Indonesia sejak era perang dunia kedua.


Laporan: Riki Chandra, Sumatera Barat


Seiring perkembangan waktu, pelabuhan yang berdiri sejak tahun 1858 itu pun terus berinovasi memenuhi tuntutan zaman. Perjalanan Teluk Bayur berawal dari pelabuhan angkutan orang yang akhirnya lesu dan bermuara sebagai pelabuhan barang.


Namun, setelah beberapa kali pembangunan, pelabuhan ini kini menjadi terminal peti kemas pertama di Sumbar.


Dari catatan, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) Cabang Teluk Bayur kian gencar mengubah "wajah" pelabuhan terbesar di Pantai Barat Sumatera ini sejak 6 tahun terakhir. Fondasi pelabuhan yang dulunya hanya berbahan kayu pun berubah menjadi beton.


Pada 2013 juga, PT Pelindo II menetapkan Pelabuhan tertua kedua setelah Sunda Kepala itu menjadi Pelabuhan kelas satu bersertifikat ISO 9002. Ratusan miliar rupiah dikucurkan Pelindo II melengkapi beragam fasilitas demi memperkokoh spesifikasi Teluk Bayur menjadi penghubung ekspor dan import komoditas hasil bumi antar negara.


Di tahun yang sama, PT Pelindo II juga memutuskan untuk membangun Terminal Peti Kemas (TPK). Pembangunan ini dipersiapkan tak lain untuk mendukung geliat ekonomi sekaligus memudahkan mobilisasi lintas barang dari daerah Sumbar ke Teluk Bayur.


"Tagline kami, 'Telur Bayur Bangkit' menuju pelabuhan terbesar, terkemuka dan modern di Indonesia," kata General Manager (GM) Pelindo II Cabang Teluk Bayur Armen Amir, pekan lalu.


Armen menyebutkan, luas lahan pelabuhan Teluk Bayur mencapai 90 hektare dengan panjang dermaga 1,4 km. Dalam setahun, sedikitnya 2.000 unit kapal bersandar di pelabuhan yang namanya juga diabadikan dalam sebuah bait lagu di era 80-an.


Area yang cukup luas menjadi modal bagi Teluk Bayur sebagai sarana transportasi ekspor komoditas bumi dari Sumbar untuk terus maju dalam meningkatkan pelayanan. "Setiap tahun, jumlah ekspor komoditi yang melalui Teluk Bayur selalu meningkat," kata Armen.


Saat ini, terang Armen, Sumbar memiliki lima komoditas unggulan yang telah dipasarkan ke sejumlah penjuru dunia. Kelimanya yakni, CPO, Cangkang (biji sawit), Bungkil, Semen dan Batubara. Bahkan, Semen Padang justru meminta dermaga diperpanjang sekitar 50 meter. Hal ini tak lain untuk lebih memudahkan akses ekspor.


"Batubara ke India, CPO ke India, USA, Thailand, Bangladesh dan negara lain. Teluk Bayur hadir mendukung perputaran gerak ekonomi masyarakat. Sehingga, hasil bumi dari Sumbar dapat dijual kemana saja," bebernya.


Khusus CPO, di tahun 2017 saja, ekspor Sumbar mencapai 2,5 juta ton. Sedangkan tahun ini sudah mencapai kisaran 2,7 juta hingga 3 juta ton.


"2020 nanti, kita targetkan ekspor CPO dan komoditas lainnya mencapai 5 juta ton pertahun. Sekarang sudah ada 5 perusahaan CPO yang akan MoU dengan kami," sebut GM yang membawahi hampir 300 orang pekerja di Teluk Bayur itu.


Selain menyempurnakan sarana dan prasarana Teluk Bayur, PT Pelindo II juga menginisiasi pengintegrasian lima pelabuhan lain di laut Ranah Minang. Masing-masing pelabuhan Teluk Tapang di Pasaman Barat, Panasahan di Pesisir Selatan, Mentawai, Tiram di Padang Pariaman, dan Muaro Padang.

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore