Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 29 Februari 2020 | 03.48 WIB

Iska, Lidya, dan Prasetyo Menggagas Pengenalan Karakter lewat Gambar

UNGKAP KARAKTER: Berdiri dari kiri, Lidya Sentanu, Prasetyo Irsa, dan Iska Ningrum Ristanti selaku founder Intuisi Consulting bersama klien mereka, Syahrul Hambali dan Laily Lurushati Muharra, di Kampi Hotel Rabu (26/2). (Nurul Komariyah/Jawa Pos) - Image

UNGKAP KARAKTER: Berdiri dari kiri, Lidya Sentanu, Prasetyo Irsa, dan Iska Ningrum Ristanti selaku founder Intuisi Consulting bersama klien mereka, Syahrul Hambali dan Laily Lurushati Muharra, di Kampi Hotel Rabu (26/2). (Nurul Komariyah/Jawa Pos)



Intuisi Consulting menggabungkan dua jenis ilmu. Psikologi komunikasi dan seni. Lewat gambar, mereka merumuskan solusi atas persoalan yang dihadapi klien yang datang.

NURUL KOMARIYAH, Surabaya

Iska Ningrum Ristanti, Lidya Sentanu, dan Prasetyo Irsa menerapkan cara tak biasa dalam mengungkap karakter seseorang. Salah satunya dengan teknik menggambar. Mereka membentuk wadah pada pertengahan Juli lalu. Namanya Intuisi Consulting.

Dalam melayani klien, Iska mengajaknya bertemu. Tempatnya bisa di mana-mana. Biasanya di co-working space atau bertemu di kafe. Iska lantas mengajaknya berkonsultasi dari hati ke hati. Bergantung masalahnya. Berapa lama waktunya amat bergantung dengan berat atau tidaknya masalah yang dihadapi. Biasanya kliennya karyawan perusahaan, direktur, atau ibu rumah tangga. Macam-macam ”Tidak banyak orang yang tahu kepribadian dirinya sendiri. Akhirnya dia tidak bisa mencintai dirinya secara utuh,” ujar Iska saat ditemui di Hotel Kampi Rabu (26/2).

Iska menggagas bisnisnya karena selama ini menggeluti pekerjaan sebagai guru privat menggambar. Dari sanalah Iska mempelajari jenis-jenis gambar. Beragam literasi dia lahap. Termasuk menggambar yang digunakan untuk penyembuhan mental.

Setidaknya ada empat teknik menggambar yang bisa dimanfaatkan untuk terapi penyembuhan mental. Di antaranya, doodle Art, coretan abstrak untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam menggambar.

Ada juga zentangle. Itu semacam pola berulang yang berfungsi mengeluarkan emosi-emosi negatif. Selain itu, ada lettering, huruf yang disertai dengan simbol-simbol.

Satu lagi mandala. Itu sebuah teknik menggambar pola secara berulang di dalam lingkaran dengan ritme yang sama dan berulang. ”Dari empat teknik itu, selama yang bisa mengeluarkan emosi terdalam manusia tanpa mereka sadari ya mandala,” imbuhnya.

Alumnus ilmu komunikasi Unair itu menjelaskan bahwa saat proses menggambar, fokus dan kreativitas seseorang digerakkan oleh alam bawah sadarnya. Coretan, goresan, bentuk, dan warna yang dipilih akan mengungkap karakter dengan jujur. ”Jadi, kami membantu orang itu tidak hanya bahagia dan rileks dengan menggambar. Tapi, ada manfaat psikologi juga di dalamnya. Kalau sudah tahu caranya, ketika tiba-tiba dia suntuk dan enggak tahu harus apa, bikin aja mandala,” paparnya.

Iska menjelaskan, mandala sudah dimanfaatkan sebagai terapi kemarahan di India. Semacam yoga yang menenangkan. Namun, berbentuk gambar.

Sementara itu, Lidya menuturkan bahwa layanan konsultasi yang digagasnya menggabungkan psikologi komunikasi dan seni. Salah satu manfaat yang didapat dari gabungan hal tersebut adalah menemukan strategi komunikasi yang tepat. Dengan demikian, antara orang satu dan yang lain bisa menyampaikan komunikasi berdasarkan tipe kepribadiannya. ”Misalnya, satu tim di kerjaan itu karakternya beda-beda. Pimpinan dan anak buahnya harus sama-sama mengerti. Kalau ngasih tahu ke teman yang kepribadiannya melankolis, enggak usah pakai suara keras-keras,” terang Lidya.

Dia menjelaskan bahwa strategi komunikasi yang disesuaikan berdasarkan tipe kepribadian akan membuat pekerjaan selesai tanpa ada hati yang terluka. Semua bahagia karena satu sama lain saling mengerti.

Setelah menggambar mandala, mereka enggak perlu malu atau takut buat ngomong. Karena gambar merekalah yang bicara. ”Hasilnya didiskusikan bersama dan dikasih solusi,” terangnya.

Bukan hanya untuk urusan pekerjaan. Iska, Lidya, dan Irsa juga mengenalkan mandala untuk komunikasi dalam hubungan pernikahan. Dengan begitu, pasangan bisa menyampaikan bahasa cintanya dengan cara yang tepat. Itu bertujuan membantu pasangan suami istri mencapai keharmonisan rumah tangga yang awet.

Selain itu, mereka menggagas program grooming. Semacam pelatihan menata tampilan hingga attitude atau tingkah laku demi personal branding. Tentu saja program itu sekali lagi disesuaikan dengan individu masing-masing. ”Bagaimana mengatur gaya busana, cara duduk, sampai lipstik yang dipakai,” ungkap Lidya.

Meski belum setahun berdiri, Intuisi pernah melakukan program sosial ke salah satu panti asuhan. Di sana mereka mengajari adik-adik panti menggambar doodle.

Iska bercerita, ada pengalaman menarik saat mereka mengunjungi panti. Ada salah seorang anak panti yang hasil gambarnya menunjukkan sisi yang muram dan gelap. Setelah ditelisik lebih jauh, ternyata anak itu memang sedang dirundung permasalahan. ”Ibu anak tadi ternyata dipenjara. Jadi, dia cenderung ndableg kalau di panti. Pengurus pantinya sampai berterima kasih kepada kami,” terangnya.

Ke depan mereka juga sedang merencanakan aksi sosial yang lebih banyak lagi. Setidaknya untuk menebar manfaat lewat gambar yang sekaligus bisa melepaskan stres






Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore