
KAYA PRESTASI: Karisma Evi Tiarani (kiri) dan medali emas lari 100 meter dalam ASEAN Para Games di Solo Agustus lalu. Desy Ramadhani Maghfiro Ayu Putri saat menjuarai Lomba Kebaya Milenial di Festival Kebaya 2021 di Banyuwangi. (ISTIMEWA)
Dengan Keterbatasan Masing-Masing, Tidak Ada Batasan bagi Evi dan Fira Meraih Mimpi
Kaki kiri yang lebih pendek dari kaki kanan tak mengendurkan niat Karisma Evi Tiarani menekuni olahraga dan berbuah raihan tiga emas di ASEAN Para Games. Tak bisa mendengar, berkat kegigihan berlatih dan dorongan kuat mama, Desy Ramadhani Maghfiro Ayu Putri tumbuh jadi model dengan seabrek prestasi.
LAILATUL FITRIANI, Surabaya
---
KARISMA Evi Tiarani terlahir dengan kaki kiri lebih pendek 7 sentimeter dan tidak sekuat kaki kanan. Karena itu, bahkan dalam mimpi terliarnya pun, dia tidak pernah membayangkan bakal bisa mengharumkan nama bangsa.
Tawaran dari kenalan orang tuanya ikut seleksi olahraga untuk penyandang disabilitas semasa dia duduk di SMP yang mengubah semuanya. Bukan di bulu tangkis memang, olahraga yang awalnya dia tekuni, melainkan lari.
Tapi, dari tawaran tersebut, gadis 21 tahun itu berhasil menembus asrama atlet di Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLOP) Jawa Tengah.
Dan, selebihnya adalah sejarah. Dalam ASEAN Para Games 2022 di Solo pada 30 Juli sampai 6 Agustus lalu, dia menyabet tiga emas sekaligus untuk kategori lari 100 meter, lari 200 meter, dan lompat jauh.
’’Nggak kepikiran jadi atlet lari, malah sempat pengin jadi atlet bulu tangkis untuk difabel,” tutur Evi kepada Jawa Pos.
Begitu masuk atletik, dia menemukan kenyamanan. Evi juga tidak mendapat kendala berarti selama menjalani pelatihan. Hanya, dia mengakui, membagi waktu untuk akademik dan latihan cukup membuatnya pening.
Beruntung, gadis kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, itu mendapat dukungan penuh dari keluarga. Meski awalnya tidak demikian. ’’Pas mau masuk asrama itu juga sempat nggak dibolehin ortu sebenarnya karena aku kan emang nggak pernah jauh dari mereka,” ungkap mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, itu.
Evi berusaha meyakinkan kedua orang tuanya bahwa dia ingin menjajal dunia olahraga. ’’Kalau misal sampai sekarang ada dari teman-teman yang ingin melakukan sesuatu tapi belum dapat support dari ortu, buat mereka yakin,” ujar Evi.
Fira justru sebaliknya. Mamanya turut andil dalam menemukan passion-nya di dunia modeling. Fira kecil dikenalkan berbagai kegiatan yang tidak memerlukan pendengaran. Salah satunya fashion show yang hanya membutuhkan hitungan.
’’Belajar dari mama. Jadi, dari kecil memang sudah sering ikut tampil fashion show, akhirnya saya suka,” ungkap pemilik nama lengkap Desy Ramadhani Maghfiro Ayu Putri itu.
Tentu tidak mudah bagi anak berkebutuhan khusus dan berhijab untuk menjadi seorang model. Fira sampai harus dua kali pindah agensi. Dorongan dari keluarga menjadi penguat. ’’Mereka sangat support sekali. Selalu ikut mengantar saya lomba fashion show, terutama mama. Jadi percaya diri meski lombanya dengan anak-anak reguler,” lanjut mahasiswa DKV Universitas Negeri Surabaya itu.
Model asli Surabaya tersebut mampu membuktikan tidak ada batasan untuk meraih mimpi. Fira berhasil menjuarai berbagai lomba modeling. Dia juga terpilih menjadi delegasi Indonesia dalam Cultural Performance and Fashion Show di Turki. ’’Saya tidak menyangka sih kalau bisa juara di mana-mana, yang penting saya terus berlatih dan terus ikut lomba,” ujar duta fashion anak berkebutuhan khusus itu.
Perjalanan karier modeling Fira tidak serta-merta mudah. Tidak jarang dia mendapat kata-kata kurang mengenakkan dari peserta lain. ’’Pernah dibilang kok yang juara itu. Saya tahu dari mama. Saya diam aja tidak mendengarkan kata orang, wong saya juga tidak bisa dengar,” tuturnya.
Putri Fashion Jawa Timur 2021 itu memilih fokus pada impiannya. Buktinya, dia dan sang mama berhasil mendirikan sekolah modeling di awal 2021. Namanya Fira Modeling Disabilitas (FMD). Sudah ada 10 anak dan 15 remaja yang bergabung. Dari tunarungu, autis, down syndrome, slow learner, tunadaksa, hingga tunagrahita.
’’Saya melihat teman-teman disabilitas itu kurang berani dan kurang percaya diri. Jadi, sekolah fashion khusus ini dibangun agar mereka punya kepercayaan diri dan berani tampil di depan umum,” jelas Fira.
Tak hanya modeling, ada berbagai bidang lain yang diajarkan. Di antaranya beauty class, menari, photo shoot, hingga pembelajaran bahasa isyarat. Fira dan mamanya turut menjadi pengajar di sana.
’’Untuk memperingati Hari Disabilitas Internasional, Sabtu (10/12) (pekan) lalu kami mengadakan event fashion show khusus disabilitas,” imbuhnya.
Acara yang berlangsung di DBL Arena, Surabaya, itu diikuti 23 peserta dari berbagai daerah. Mulai Surabaya, Sidoarjo, Banyuwangi, hingga Semarang. Tahun ini, fashion show FMD mengangkat tema kasual agar lebih mudah dikreasikan dan nyaman dikenakan.
Baik Fira maupun Evi ingin menunjukkan bahwa semua orang bisa mewujudkan mimpinya. Tak terkecuali mereka yang disabilitas. Kuncinya berani dan percaya diri, kata Fira. Sebab, semua manusia itu berbeda, tambah Evi.
’’Hanya, kami sedikit lebih kelihatan bedanya. Jadi, jangan takut bermimpi apa pun kondisimu saat ini,” kata Evi.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
