
ILUSTRASI
Di kepala, benda itu berdakwah dan berpolitik. Kita terbiasa melihat, tapi kadang alpa sejarah atau biografi. Dulu orang-orang berpeci dengan pesan-pesan mengalami perubahan atau penambahan, dari masa ke masa. Pilihan menaruh peci di kepala menandakan kesungguhan mengenalkan iman, ideologi, dan tradisi.
PADA 1927, Hamka meninggalkan Belawan menuju Jeddah. Ia ingin menunaikan haji dan mencari ilmu. Di sana, ia bergaul dengan orang-orang asal Indonesia. Perjumpaan dan kebersamaan di negeri jauh menampilkan keberagaman tradisi meski sesama penganut Islam. Hamka mencatat ada 64 ribu orang asal Indonesia naik haji. Hamka dalam buku Kenang-Kenangan Hidup (1951) menulis: ”Sudah bertahun-tahun masa berlalu belum djuga pernah orang naik hadji seramai itu. Banjak pula pemuka-pemuka Muhammadijah dan Sjarekat Islam jang naik hadji.”
Hamka saat itu berusia 19 tahun. Ia bertemu para tokoh dari Sumatera dan Jawa yang sama-sama mau menunaikan haji. Mereka itu para pemuka perkumpulan-perkumpulan besar di Indonesia. Di tempat jauh, Hamka melihat perubahan: ”Pemimpin-pemimpin itu djarang sekali jang memakai serban. Umumnja memakai petji Indonesia.” Hamka melihat peci mengabarkan ”mufakat” orang-orang Indonesia dalam menggerakkan kemauan menjadikan tanah air mulia dan terbebas dari kolonialisme. Pesan masih terpahami terbatas.
Hamka lahir dan tumbuh di Minangkabau. Sejak kecil, ia diminta menjadi ”anak alim”, tapi malah suka bermain, menonton film, membaca buku cerita, dan meninggalkan kitab-kitab pelajaran. Hamka memang anak tokoh agama di Minangkabau. Pada saat remaja dan dewasa, ia belum berpikiran mengenakan peci untuk menandai diri turut dalam pergerakan memajukan bangsa atau mewartakan iman. Di Arab Saudi, Hamka malah meminjam peci milik teman saat berusaha menemui Ibnu Saud: ”Sekali ini keluar pakaian simpanan, badju djas buka, dasi hitam, pantalon dan petji kawan dipinjam.”
Ia mungkin tak meramal bakal menjadi sosok ulama besar di Indonesia dengan kebiasaan berpeci. Pengalaman melihat dan meminjam peci itu memberi imbuhan pemaknaan berlatar masa 1920-an di Indonesia dan Arab Saudi. Peci-peci berwarna hitam mengartikan mereka memiliki tanah air. Berpeci mengartikan kemauan ”berpolitik” dengan tutup kepala di hadapan kaum penjajah. Peci pun mengikutkan kadar keimanan saat digunakan dalam ibadah dan acara-acara keagamaan.
Pengalaman dan pemaknaan berpeci itu memiliki kaitan dengan pengisahan Soekarno dalam buku susunan Cindy Adams berjudul Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (1966). Di sampul buku, kita melihat foto Soekarno mengenakan peci. Kita membaca pengakuan Soekarno berlatar 1921: ”Salah satu bagian daripada egoisme ini adalah berkat suksesku dalam pemakaian petji, kopiah beludru hitam jang mendjadi tanda pengenalku, dan mendjadikannja sebagai lambang kebangsaan kami.” Soekarno tanpa ragu mengatakan peran mengenalkan peci di arus ideologi masa 1920-an di tanah jajahan.
Ia membuktikan dengan peristiwa: ”Pengungkapan tabir ini terdjadi dalam pertemuan Jong Java, sesaat sebelum aku meninggalkan Surabaja. Sebelumnja telah terdjadi pembitjaraan jang hangat karena apa jang dinamakan dirinja kaum intelligensia, jang mendjauhkan diri dari saudara-saudaranja rakjat biasa, merasa terhina djika memakai blangkon, tutup kepala jang biasa dipakai orang Djawa dengan sarung, atau petji jang biasa dipakai oleh tukang betja dan rakjat-djelata lainnja.” Pemaknaan peci mengacu pengamatan, situasi zaman, dan keberanian meneguhkan identitas.
Masa 1920-an memang masa terpenting dalam pertaruhan makna tutup kepala. Pada 1924, Hamka berusia remaja pergi ke Jawa. Ia tinggal cukup lama di Jogjakarta, mengikuti pertemuan-pertemuan agama. Hamka ikut dalam pertemuan yang diadakan Sarekat Islam, mengikuti seri ceramah H.O.S. Tjokroaminoto kelak terbit menjadi buku Islam dan Sosialisme. Hamka mengenang sang tokoh: ”Kumisnja melentik ke atas, sikapnja agun, matanja tadjam laksana mata burung elang. Suaranja bulat, lebih dari suara Soekarno, lantang, laksana musik dan berkuasa, berwibawa. Beliau memakai blangkon dan berkain, memakai slop.” Ingatan itu penting untuk kita bisa membedakan kebiasaan H.O.S. Tjokroaminoto mengenakan belangkon dan peci. Foto sering beredar menampilkan sosok berpeci.
Kejadian-kejadian itu menjadi babak terpenting saat tutup kepala menggerakkan sekian ideologi, belum terlalu mengandung pesan keagamaan. Di kubu berbeda, orang-orang pun melihat kebiasaan mengenakan topi seperti orang Eropa. Di kepala, ide-ide dibarakan berbarengan tutup kepala. Kita makin mengetahui usaha ”mufakat” dan penarikan garis batas melalui acara-acara yang dianggap ”besar” dalam sejarah Indonesia. Pada 1928, kita melihat kaum muda mulai terbiasa berpeci. Di Indonesia, bermunculan ”kaum berpeci”.
Babak itu menemukan ”pemastian” pada masa kekuasaan Soekarno dan Soeharto. Presiden, menteri, tokoh politik, dan tokoh publik sering tampil mengenakan peci. Di kalangan agama, peci pun dikenakan dengan misi-misi berbeda. Indonesia berpeci dengan perbedaan situasi zaman dan dampak politik bila dibandingkan dengan masa kolonial.
KH A. Wahid Hasjim, sosok berpeci yang perlu mendapat perhatian sebelum publik mengingat Gus Dur dengan cara pengenaan peci ”miring”. Di buku berjudul Sedjarah Hidup KH A. Wahid Hasjim dan Karangan jang Tersiar (1957) yang disusun H Aboebakar, kita melihat foto-foto sang tokoh sering berpeci dalam babak-babak kehidupan. Di sampul buku, ia tampil rapi dengan dasi dan peci. Tangan tampak memegang pena. Penampilan itu berbeda dari foto Gus Dur berpeci di sampul buku susunan Greg Barton.
Birokrasi dan acara-acara resmi kenegaraan pada masa kekuasaan Soekarno memang mengesankan kaum berpeci. Para tokoh berpeci dalam pilihan busana modern. Mereka pun bisa berpeci dan bersarung. Sutjiatiningsih dalam buku berjudul KH Wahid Hasyim (1984) menerangkan: ”Wahid selalu berpakaian necis dan harmonis. Ia selalu mengenakan kombinasi warna yang serasi baik ketika mengenakan celana maupun kain sarung. Bila ia mengenakan celana, ia serasikan warna celana, kemeja, dasi, sepatu, maupun kaos kakinya. Begitu pula, bila mengenakan kain sarung, ia padukan warna kemeja dan kain sarungnya sehingga sedap dipandang.” Peci turut menentukan kerapian dan kewibawaan tokoh.
Pada masa berbeda, peci ”sangat” menentukan kewibawaan pemerintahan, terutama Orde Baru. Soeharto, menteri, gubernur, dan para pejabat tampil formal dengan peci. Mereka menjadikan Indonesia berpeci. Usaha besar menimbulkan kesan bahwa peci pun ”birokrasi”.
Masa lalu itu mengingatkan sosok bernama Haji Awing. Sosok pemasok peci atau songkok Soeharto dan para menteri masa Orde Baru. Di Kompas, 10 Januari 1999, kita membaca: ”… sampai suatu ketika diputuskannya mengundang para menteri dan pejabat negara untuk diukur lingkar kepalanya. Protokol negara pun sampai harus menutup sebuah toserba di Jakarta saat acara pengukuran.” Peci itu bermerek Awing menggunakan beludru impor. Pada saat rezim Orde Baru berakhir, ia pun mengajukan dagangan berupa peci berwarna merah, biru, hijau, dan kuning. Peci dalam situasi Indonesia sedang subur partai politik.
Pada abad XXI, pemaknaan peci terus bertambah. Pengetahuan sejarah masih perlu bertambah untuk mengetahui babak-babak penentuan peci. Kita masih mungkin mengumpulkan sumber-sumber tertulis dan foto-foto dalam pembuatan album sejarah peci di Indonesia. Kita masih meneruskan kebiasaan penampilan presiden dan para pejabat dalam foto-foto resmi sering berpeci (hitam). Foto-foto memiliki masa lalu memerlukan pengisahan dan penjelasan. Begitu. (*)

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Jadwal Piala AFF U-17 Timnas Indonesia U-17 vs Timor Leste, Siaran Langsung, dan Daftar Skuad Garuda Muda
Bupati Gresik Gus Yani Buka Suara soal Kasus SK ASN Palsu, Korban Rugi hingga Rp 150 Juta
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
Kronologi Kasus Pelecehan Seksual FH UI, 16 Mahasiswa Terduga Pelaku Disidang Terbuka
Tak Perlu ke Jogja, 12 Tempat Kuliner Gudeg Ini Ada di Malang yang Juga Istimewa dan Rasanya Juara
Momen Terduga Pelaku Pelecehan di FH UI yang juga Anak Polisi Dikonfrontasi Mahasiswa
12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
11 Tempat Kuliner Gudeg di Surabaya Paling Enak Soal Rasa Bikin Nostalgia dengan Jogja
