Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 24 September 2023 | 18.26 WIB

Dara Puspita dan Warisan-warisannya

Arsip - Image

Arsip

Menulis sejarah musik Indonesia mustahil melupakan Dara Puspita, grup band rock perempuan pertama di Indonesia. Grup band ini didirikan di Surabaya pada tahun 1964 di tengah gencarnya pelarangan terhadap peredaran musik Barat atau musik ngak-ngik-ngok di Indonesia.

PELARANGAN ini dilakukan karena musik Barat dianggap sebagai representasi dari gerakan imperialisme dan kolonialisme yang berseberangan dengan manifesto politik yang dicanangkan Presiden Soekarno.

Kendati mendapat berbagai tekanan dan intimidasi, grup band yang digawangi Titiek Adji Rachman, Lies Adji Rachman, Susy Nander, dan Titiek Hamzah itu menjadi satu-satunya grup band perempuan yang sukses go international. Mereka pernah melakukan serangkaian tur di wilayah Eropa dan Asia selama empat tahun. Bahkan ketika berada di Inggris pada tahun 1970, dengan nama Tikki, Takki, Suzy and Lies, mereka pernah diminta CBS Record untuk merekam sebuah EP (extended play) yang hanya berisi dua lagu: Dream Stealer dan Ba-Da-Da-Dum.

Selama berkiprah di dunia musik dari tahun 1966 sampai 1972, Dara Puspita telah merilis sejumlah album seperti Jang Pertama (1966), Dara Puspita (1966), A Go Go (1967), Green Green Grass (1967), atau Tabah dan Cobalah (1972). Hampir sebagian besar lagu yang diciptakan Dara Puspita berkaitan dengan kehidupan pemuda dan pemudi (urban) pada akhir tahun 1960-an. Ada lagu yang berkisah tentang pesta dansa, asmara yang mengharu, tetapi ada pula yang berkisah tentang patriotisme dan kehidupan religius. Salah satu lagu yang berkisah tentang patriotisme itu adalah lagu Surabaja yang begitu disukai Presiden Soekarno. Namun, fakta yang menarik adalah bahwa segala kisah dalam lagu-lagu itu disampaikan dari sudut pandang perempuan yang mampu bersuara dan mandiri.

Kesuksesan Dara Puspita tidak muncul begitu saja. Kehadiran mereka di belantika musik pada masa itu tidak terlepas dari peran Koes Bersaudara yang memberikan motivasi kepada mereka untuk hijrah ke Jakarta dan mencari peruntungan sebagai pemusik. Koes Bersaudara juga melatih sekaligus memperkenalkan mereka kepada publik. Sejak awal, Dara Puspita memang begitu mengagumi Koes Bersaudara dan musik rock and roll yang dimainkannya. Melalui Koes Bersaudara, mereka pun dapat mengenal sejumlah lagu yang dipopulerkan The Beatles dan Rolling Stones. Pada tahun 1967, Dara Puspita dan Koes Bersaudara merilis sebuah album split mini yang menghadirkan irama rock and roll yang sangat kental. Dalam album itu, Dara Puspita menyanyikan lagu yang berjudul Pesta Pak Lurah yang tanpa ragu merepresentasikan passion mereka pada musik rock and roll sebagai musik pembebasan. ”Si Mariam dan Mustafa/ Hippi hippi yang lagi berduaan/ Dua hati berpadu/ Hippi hippi ya bergerak tak ragu ragu.”

Tidak dapat dinafikan bahwa Dara Puspita telah menorehkan jejak yang begitu tebal dalam sejarah musik Indonesia. Meski hanya berkiprah selama delapan tahun di panggung musik, Dara Puspita setidaknya telah memberikan tiga warisan kepada kita.

Pertama, Dara Puspita menunjukkan bahwa musik dapat menjadi bahasa yang mengatasi sejumlah sekat dan batasan suku, agama, ras, golongan, dan ideologi yang berlaku dalam masyarakat. Kendati berada dalam tekanan politik sekalipun, Dara Puspita tetap bergeming untuk menyampaikan kisah kehidupan manusia yang rindu pada hadirnya cinta yang sejati, kebahagiaan, persahabatan dan persaudaraan, dan kebaikan Tuhan. Untuk itulah, musik harus menjadi berita pembebasan manusia dari segala kekhawatiran, ketakutan, dan kebencian yang memasungnya. Musik harus menjadi jembatan yang dapat mempertemukan manusia dengan kebahagiaan.

Kedua, Dara Puspita menunjukkan bahwa kesetaraan gender dalam pengungkapan ekspresi seni mutlak diupayakan agar ekosistem seni yang lebih toleran dan bermartabat dapat tercipta. Identitas dan independensi Dara Puspita sebagai pelaku kesenian tidak diperoleh melalui komodifikasi yang dihasilkan mesin kultural, tetapi diperoleh melalui upaya untuk menjadi suara nyaring bagi para perempuan yang kerap dibungkam dalam masyarakat. Dara Puspita ingin mengajak para perempuan yang mendengarkan irama dan lirik lagu-lagunya untuk berani menjadi storyteller bagi generasi yang lebih baik.

Ketiga, Dara Puspita menunjukkan bahwa untuk menjadi otentik diperlukan serangkaian proses penemuan diri yang tekun dan pantang menyerah. Otentisitas yang mereka miliki dapat membawa mereka untuk melintas dan menjumpai benua dan budaya baru. Keberhasilan Dara Puspita untuk go international dalam usia yang begitu belia itu tidak hanya berkaitan erat dengan rasa percaya diri yang tinggi, tetapi juga bersanding dengan kerendahan hati untuk terus mau belajar. Dalam konteks perkembangan musik Indonesia kontemporer, kepercayaan diri untuk menghadirkan otentisitas sudah terlihat pula pada grup band perempuan seperti Voice of Baceprot, grup metal perempuan dari Garut, yang telah mendunia pada saat ini.

Tidak ada kata goodbye bagi Dara Puspita dalam sejarah musik Indonesia. Jejak yang ditorehkannya memang begitu tebal. Kendati Dara Puspita tidak lagi berkiprah di panggung musik Indonesia pada hari ini, gema lagu-lagunya masih terus terdengar di dalam sanubari rakyat Indonesia. ”Marilah kemari, hey, hey, hey, hey /Hey, kawan/Akulah di sini, hey, hey, hey, hey / Hey, kasih / Mari bergembira bersama-sama/ Hilangkan hati duka lara…” (*)

---

PAUL HERU WIBOWO, Dosen dan penulis

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore