
ILUSTRASI
Album ini keluar dari sistem volume seperti album-album Soneta sebelumnya sehingga sering dianggap sebagai album solo. Ia bergambar sampul sosok Rhoma Irama dalam serban putih, menunggang kuda putih, dengan pedang siap disabetkan.
Tahun-tahun itu, Rhoma tampaknya sedang sangat menyukai tampil memakai serban. Selain di sampul album Pemilu, ia juga tampil beserban di album konser Pementasan Soneta Group (1983) dan yang paling ikonik tentu saja di film kolosal Satria Bergitar (1984). Apa pun yang dipikirkan tentang gambar-gambar itu, entah Pangeran Diponegoro atau Imam Bonjol, atau gambaran mistis pejuang Islam mileniaris di masa kolonial yang lain, atau pejuang Islam dari negeri dongeng sekalipun (seperti yang digambarkan oleh film Satria Bergitar), itu jelas sebuah gestur yang menantang-nantang. Apalagi itu tahun 1982.
Itu adalah tahun-tahun penuh mara bahaya bagi siapa pun yang mencoba membuat perhitungan dengan pemerintah Orde Baru, apalagi jika Anda memakai atribut Islam. Di tahun-tahun itu, Islam dilekatkan dengan aksi teror, subversi, bahkan pemberontakan. Dari mulai Komando Jihad, Peristiwa Woyla, pengeboman Borobudur, hingga berpuncak di Tragedi Priok, semua diatribusikan kepada Islam. Pada 1981, Menteri Dalam Negeri Amir Machmud bahkan sampai pada simpulan yang sangat jauh bahwa orang-orang (bekas) komunis sedang menyusupi Islam.
Album Pemilu tampaknya dikeluarkan hanya untuk merilis satu lagu, ”Pemilu”. Lagu ini ada di dua side (Side A dan Side B) kaset, dengan delapan lagu sisanya adalah lagu-lagu yang sudah dikenal, entah di album-album sebelumnya atau dari OST film. Jelas sekali, lagu ini untuk ”menyambut” Pemilu 1982.
Seperti lagu ”Hak Azasi” (1977), lagu ini sekilas terdengar normal-normal saja. Dibanding lagu ”Pemilihan Umum” (cipt Muchtar Embut) yang jadi lagu resmi pemerintah, tak ada yang sangat berbeda. Selain mengajak untuk meramaikan dan menyukseskan pemilu, lagu ini menjelaskan asas dasar pemilu, yang langsung-umum-bebas-rahasia (luber). Sampai kemudian kita ketemu beberapa kata yang sedikit ”berbeda” dan mulai membayangkan bagaimana jika lagu ini dinyanyikan di depan puluhan ribu massa dalam sebuah kampanye partai oposisi.
”Bebas artinya,” dendang Rhoma, ”tidak boleh dipaksa”. Dan ”Apabila ada yang memaksa,” Rhoma memperingatkan dengan keras, ”Itulah pengkhianat Pancasila.”
Meski demikian, yang paling menarik dari lagu ini adalah sebuah jab rahasia yang disembunyikan pada larik: ”Di antara tiga tanda gambar, pilih SATU yang Anda suka”. Untuk Anda yang melewati masa-masa Orde Baru pasti tahu ke mana anjuran ini diarahkan. (*)
---
MAHFUD IKHWAN, Penulis asal Lamongan

12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Jadwal Piala AFF U-17 Timnas Indonesia U-17 vs Timor Leste, Siaran Langsung, dan Daftar Skuad Garuda Muda
Penjelasan PLN Jakarta Mati Lampu Serentak Hari Ini, MRT hingga Lampu Merah Padam Total
Muncul Dua Nama Terduga Pelaku Penipuan Rekrutmen ASN Pemkab Gresik, Satu Pegawai Aktif
Selain Tangkap Bupati Tulungagung, KPK Amankan Sekda hingga Kadis PUPR
Bupati Gresik Gus Yani Buka Suara soal Kasus SK ASN Palsu, Korban Rugi hingga Rp 150 Juta
7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
11 Tempat Kuliner Gudeg di Surabaya Paling Enak Soal Rasa Bikin Nostalgia dengan Jogja
Link Live Streaming Timnas Futsal Indonesia vs Thailand di Final Piala AFF 2026
