
Ilustrasi bulan puasa Ramadhan. (Dimas Pradipta/JawaPos.com)
JawaPos.com - Secara resmi Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mulai menggunakan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT). Sehingga tanggal-tanggal penting dalam Islam sudah mereka tetapkan. Bahkan sampai dengan 30 tahun ke depan.
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Hamim Ilyas mengatakan, mereka mulai menggunakan KHGT pada 1447 Hijriyah. Sehingga mereka sudah menetapkan tanggal-tanggal penting terkait ibadah umat Islam untuk 2026.
Misalnya awal puasa atau 1 Ramadan 1447 Hijriyah jatuh pada 18 Februari 2026. Penetapan ini merevisi ketetapan sebelumnya yang menyebutkan 1 Ramadan 1447 Hijriyah jatuh pada 19 Februari. Kemudian untuk penghujung bulan puasa atau 30 Ramadan jatuh pada 19 Maret 2026. Sehingga lebaran tahun depan diputuskan jatuh pada 20 Maret.
Hamim mengatakan KHGT merupakan produk dari Organisasi Kerjasama Islam (OKI). "Mereka (OKI) berharap negara-negara Islam menggunakan KHGT)," katanya (25/9). Pertimbangan dari OKI supaya menjaga nama baik Islam. Karena belum memiliki kalender tunggal untuk agama Islam, OKI memandangnya kurang baik.
"Kok pada zaman begini belum memiliki kalender tunggal kan aneh. Karena secara ilmu itu bisa," tuturnya. Dengan pertimbangan itu, Muhammadiyah memutuskan untuk menggunakan KHGT. Keputusan itu diambil dalam Muktamar Muhammadiyah di Makassar 2015 lalu.
Kemudian benar-benar diterapkan pada 1447 Hijriyah sekarang. Hamim mengatakan di Asean baru Indonesia saja yang mengadopsi KHGT tersebut. Negara lain yang menerapkan KHGT adalah Turki. "Arab Saudi belum," tandasnya.
Dia mengatakan salah satu kriteria dari KHGT adalah ketinggian hilal 5 derajat dengan sudut elongasi 8 derajat. Sistem kalender ini diperkenalkan oleh OKI sejak 2008 lalu. Dengan kriteria itu, negara-negara Islam cukup mengikutinya saja.
Hamim menegaskan Muhammadiyah sepakat menggunakan KHGT karena memenuhi dua aspek penting. Yaitu aspek syariah Islam dan keilmuan. Dia mengatakan saat ini Muhammadiyah sudah membuat kalender Islam atau Hijriyah berbasis KHGT untuk 30 tahun ke depan.
"Sebenarnya sudah ada yang menghitung sampai 350 tahun ke depan," katanya. Namun Hamim mengatakan, mereka tetap menggunakan prinsip bahwa Muhammadiyah terbuka dengan perkembangan ilmu pengetahuan di masa mendatang.
Seperti diketahui bahwa di Indonesia ada dua sistem penentuan kalender Hijriyah terkait dengan pelaksanaan ibadah. Selain metode hisab, juga metode rukyat dengan pengamatan hilal secara langsung. Untuk mengakomodasi dua metode itu, Pemerintah melakukan sidang isbat. Untuk penetapan awal Ramadan, lebaran, dan Idul Adha.
