
Aan Rukmana, Dosen Universitas Paramadina, Jakarta. (Abdul Rahman/JawaPos.com)
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan orang-orang beriman agar mereka benar-benar menyadari bahwa pada akhirnya kita semua akan pulang ke hadirat-Nya. Kesadaran inilah yang membuat hidup menjadi terarah. Kesadaran inilah yang membuat Ramadhan menjadi begitu berarti.
Setelah sebulan penuh berpuasa, kita biasanya akan memasuki momen Idul Fitri. Idul Fitri bukan sekadar hari raya, tetapi momentum “kembali kepada fitrah.” Kembali menjadi hamba yang bersih, yang suci, yang lebih dekat kepada Allah.
Secara sosiologis, Idul Fitri identik dengan mudik, pulang kampung. Orang-orang berbondong-bondong kembali ke kampung halaman. Berbagai bekal dipersiapkan, berbagai usaha dilakukan, demi satu tujuan: bisa pulang.
Namun ada satu hal yang tak boleh kita lupakan. Pulang kampung yang sejati bukan hanya kembali ke rumah orang tua. Pulang kampung yang sejati adalah pulang ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jika untuk mudik kita menyiapkan bekal dengan sungguh-sungguh, maka seharusnya untuk "mudik" menuju akhirat kita lebih sungguh-sungguh lagi mempersiapkannya bekalnya. Bukan pakaian baru, bukan oleh-oleh, tetapi amal saleh, keikhlasan, taubat, dan kebaikan yang kita lakukan sepanjang hidup.
Semoga Ramadhan ini menjadi momentum bagi kita untuk mempersiapkan perjalanan pulang yang sesungguhnya.
Semoga Allah memasukkan kita ke dalam surga-Nya dan mengumpulkan kita dalam rahmat-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
