Logo JawaPos
Author avatar - Image
22 November 2025, 17.00 WIB

Caregiver, Pahlawan Kemanusiaan yang Sepi dari Hingar Bingar Pujian

Ilustrasi hasil pemeriksaan otak pada pasien yang mengalami meningitis (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi hasil pemeriksaan otak pada pasien yang mengalami meningitis (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Adzan shubuh berkumandang. Mendengar suara panggilan ibadah Umat Islam yang bersahutan-sahutan pada Kamis (20/11) pagi, Asep Subandi,32, pun bangun dari tempat peraduan. Tak berapa lama, usai mandi hingga menunaikan ibadah Salat Shubuh, dia bergegas pergi ke RS Dharmais Jakarta dengan menumpang Commuter Line (KRL) dan angkutan umum lain, menempuh waktu lebih dari tiga jam.

Seperti hari-hari biasa yang dilakoninya, hari itu,-Kang Asep-sapaan akrabnya tengah bergelut dengan waktu untuk mendampingi salah satu pasien. Kali ini, pasien yang akan didampinginya yakni pasien kanker payudara yang akan menjalani pengobatan, di rumah sakit pusat kanker nasional.

Karena tempat tinggalnya yang jauh dari lokasi rumah sakit, maka sejak pagi-pagi buta, Kang Asep pun sudah menempuh perjalanan panjang. Hal ini agar pagi hari dia sudah sampai dan bertemu dengan pasien yang akan didampinginya.

”Saya pendampingan dulu sampai selesai hari ini,” kata Kang Asep ketika JawaPos.com mengonfirmasi jadwal untuk bertemu muka.

Begitulah Kang Asep. Selalu totalitas setiap kali melakukan pendampingan. Dia tidak mau setengah-setengah. Bagi pria kelahiran 1993 tersebut, menjadi caregiver adalah jalan hidup baginya.

Sampai hari ini, sudah 15 tahun Kang Asep menjalani hari-hari sebagai seorang caregiver, atau teman berobat untuk siapa saja. Miskin, kaya. Tua, muda. Berbagi waktu, pikiran, tenaga, dan perasaan.

Asep yakin, setiap manusia yang diizinkan lahir punya peran. Membantu pasien untuk berobat ke rumah sakit, menemui dokter, menjalani terapi, hingga operasi, adalah panggilan untuk anak ketiga dari enam bersaudara tersebut.

”Yang menjadi motivasi saya karena ada yang pernah bilang hidup saya nggak berguna, nyusahin keluarga. Komentar itu yang menjadi motivasi, saya akan lebih berguna untuk orang lain dan saya akan buktikan itu,” tutur Asep.

Tekad kuat mengantarkan lelaki berkacamata tersebut melalui jalan panjang pengabdian senyap. Jauh dari ingar-bingar hidup kebanyakan orang yang hari ini seringkali tertangkap kamera, masuk ke dunia maya, sampai muncul di beranda para pengguna gawai. Asep menjalani hari demi hari sambil menggenggam harapan pasien-pasien yang memimpikan sembuh, ingin sehat dan kembali seperti sedia kala sebelum sakit datang menerjang.

Pernah dengar istilah yang paling sulit dalam hidup adalah belajar ilmu ikhlas? Rasa-rasanya tanpa sadar Asep sudah menamatkan ilmu tersebut. Dia sudah selesai dengan dirinya sendiri. Tidak heran yang ada dalam kepalanya bukan lagi angka-angka. Dia hanya ingin menolong, benar-benar membantu orang yang membutuhkan teman dan sandaran saat melalui masa-masa sulit berhadapan dengan rasa sakit.

Setiap kali melakukan pendampingan, Asep tidak pernah peduli soal imbal balik yang akan dia dapatkan. Meski yang dilakukan olehnya adalah jasa, tidak pernah terbesit dalam hati dan kepalanya untuk memasang tarif. Apalagi meminta kepada pasien dan keluarga pasien dengan nominal tertentu. Dia datang untuk membantu tanpa harapan berbalas rupiah. Keinginannya hanya memberi pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan. 

Relawan caregiver Agoes Soebandi alias Kang Asep usai berbincang dengan JawaPos.com, Kamis(20/11). Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

”Memang ketika memulai beberapa tahun lalu, niatnya karena memang ingin membantu,” imbuhnya.

Karena itu, yang dilakukan oleh Asep saat dihubungi oleh pasien atau keluarga pasien adalah melakukan pendekatan personal. Dia pasti akan menggali karakter pasien, mencari tahu cara keluarga memperlakukan pasien, dan memastikan paham kebiasaan-kebiasaan pasien. Untuk dia, setiap pasien adalah keluarga. Sebaliknya, dia juga selalu menekankan agar setiap pasien menganggap dirinya sebagai keluarga sendiri. Karena Asep bukan hanya mengurus masalah administrasi.

Dia akan mendampingi pasien dari urusan A-Z. Mendaftar, menemui dokter, menebus dan membeli obat, bahkan mendengar kabar-kabar tidak menyenangkan dari petugas medis terkait dengan kondisi pasien. Itu dilakukan oleh Asep karena tidak semua keluarga pasien yang dia dampingi siap dan bisa berkomunikasi langsung dengan dokter. Apalagi bila keluarga yang dia dampingi berasal dari daerah yang jauh dari kota. Seringkali banyak kendala yang harus Asep jembatani.

Editor: Kuswandi
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore