Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 April 2022 | 20.32 WIB

Mudik di Jalur Selatan Jawa, Jalanan Mulus, Penerangan Jadi PR Besar

RUTE ALTERNATIF: Suasana jalan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) di kawasan Sumedang, Jawa Barat (9/4). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS) - Image

RUTE ALTERNATIF: Suasana jalan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) di kawasan Sumedang, Jawa Barat (9/4). (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

Pemerintah terus mempromosikan jalur selatan Jawa sebagai alternatif rute mudik. Bagaimana kondisi sebenarnya? Jawa Pos menelusurinya dari Jakarta sampai Banyuwangi dan akan menurunkannya secara bersambung mulai hari ini.

---

MENTERI Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyebutnya sebagai ”jalan dengan pemandangan yang indah”.

Dan, penelusuran Jawa Pos memang menemukannya demikian: jalur lintas pantai selatan (pansela) Jawa dibangun melintasi sejumlah destinasi wisata.

Sejauh ini sudah sepanjang 1.242 kilometer yang diselesaikan dari Bayah di Lebak, Banten, sampai Pacitan di Jawa Timur. Tapi, proyek pembangunan jalur baru, perbaikan jalur lama, dan lainnya baru sampai Wonogiri, Jawa Tengah. Targetnya pada 2024 sudah menyambung sampai Banyuwangi di ujung timur Pulau Jawa.

Secara umum, jalur panoramik yang membentang ribuan kilometer itu berkualitas baik. Nyaris seluruhnya mulus. Hanya bergelombang dan sedikit berlubang di beberapa titik. Pengguna akan merasakannya jika sudah sampai di Jogjakarta dan hendak masuk Bantul dari Kulon Progo tanpa melintasi pusat Kota Pelajar itu.

Namun, bukan berarti tanpa catatan sama sekali. Berdasar pengalaman Jawa Pos yang memulai perjalanan pada 8 sampai 17 April, jalur tersebut masih menyisakan setumpuk pekerjaan rumah (PR).

Yang bakal terasa paling menyusahkan adalah akses. Untuk mencapai jalur lintas selatan Jawa dari kota-kota besar yang banyak ditinggali oleh masyarakat seperti Jakarta dan Bandung, butuh waktu berjam-jam.

Melintasi jalan berkelok puluhan kilometer dengan waktu tempuh sampai tiga jam perjalanan. Dari Jakarta, pemudik yang ingin menjajal sensasi mudik seperti disampaikan oleh Basuki bisa masuk lewat Sukabumi. Atau mereka bisa pilih rute lain melalui Bandung, Garut, dan Tasikmalaya.

Tak heran, Basuki hanya menyebut jalur lintas pansela sebagai alternatif. ”Sehingga beban lalu lintas terbagi dan tidak menumpuk di lintas pantura (pantai utara) Jawa dan lintas tengah Jawa,’’ kata Basuki setelah meninjau jalur pansela di Wonogiri pada 9 April lalu.

Menurut Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno, jalur lintas pansela Jawa akan berfungsi optimal bila akses penghubung dari jalur utara dan jalur tengah sudah memadai. Salah satu harapannya ada di proyek pembangunan jalan tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap atau Getaci.

Jalan tol yang diproyeksikan tembus dari Bandung di Jawa Barat sampai Cilacap di Jawa Tengah itu diyakini oleh Djoko akan menghidupkan jalur lintas pansela Jawa. Khususnya jalur di Jawa Tengah dan Jogjakarta. ”Kita tunggu sama-sama, mudah-mudahan sesuai dengan target 2024 nanti Getaci selesai,” harap Djoko.

Keberadaan jalan tol Getaci akan semakin baik saat jalan tol Cileunyi–Sumedang–Dawuan (Cisumdawu) terhubung total dengan jalan tol trans-Jawa melalui jalan tol Cikopo–Palimanan. Dengan begitu, jalur utara, tengah, dan selatan Jawa akan terhubung secara penuh.

Jawa Pos merasakan langsung bagaimana jalur lintas selatan Jawa tidak bisa cepat-cepat dilibas seperti jalan tol trans-Jawa atau jalan lintas pantura Jawa. Di sepanjang jalan setelah keluar dari gerbang tol Cileunyi, karakter jalan langsung berubah. Jalur berkelok. Naik turun.

Lengkap dengan tikungan-tikungan tajam di beberapa titik. Belum lagi jalan yang didominasi dua arah. ”Karakter di jalur selatan memang begitu. Jalannya sempit dan sulit dilebarkan lagi,” imbuh Djoko.

Bila ada kendaraan besar mogok, kecelakaan, atau mendadak harus ada bagian jalan yang diperbaiki, pasti terjadi kemacetan. Kemudian bila arus lalu lintas di kedua arah padat, tidak mudah bagi kendaraan yang melintas bisa saling salip.

Maka, tidak heran bila pemudik yang sudah umum dengan jalur tersebut menyebut itu sebagai seni mudik lewat selatan Jawa. Djoko pun mengakui hal itu. ”Karena beda karakternya dengan jalur utara,” imbuhnya.

Sembari menunggu tuntasnya pengerjaan proyek jangka panjang yang dilakukan pemerintah, Djoko menambahkan bahwa pemerintah harus mengerjakan PR lainnya di selatan Jawa dan jalur lintas pansela Jawa. Yakni, ketersediaan fasilitas penerangan.

Jalur tersebut harus dilengkapi dengan lampu penerangan jalan umum atau PJU yang lebih memadai. Itu sangat penting karena karakter jalan di selatan Jawa berbeda dengan jalur utara.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore