
Foto Pendulum Foucault. (Britannica)
JawaPos.com - Di bawah kubah megah Pantheon di Paris, sebuah bandul berat berayun perlahan, mengikuti jalur yang tampak bergeser seiring waktu.
Pemandangan ini merupakan demonstrasi visual yang kuat dari salah satu fenomena alam semesta yang paling mendasar, yakni rotasi bumi.
Di balik eksperimen ikonik terdapat sosok Leon Foucault, seorang fisikawan Prancis yang brilian.
Meskipun ia memberikan kontribusi penting di bidang lain, namanya cukup dikenal karena penemuan dan demonstrasi pendulumnya.
Lahirnya Sebuah Ide dari Foucault
Melansir Study.com, Leon Foucault lahir di Paris, pada tahun 1819. Awalnya ia dididik berprofesi di bidang medis, tetapi mintanya beralih ke fisika eksperimental.
Karakternya yang observatif dan suka bereksperimen membuat Foucault banyak melakukan eksplorasi. Ketertarikannya pada fenomena alam, khususnya yang berkaitan dengan optik dan mekanika, membawanya pada penemuan-penemuan penting.
Gagasan untuk mendemonstrasikan rotasi bumi secara visual muncul dari pemikirannya tentang bagaimana sebuah bandul yang berayun bebas akan berperilaku di permukaan bumi yang berputar.
Ia membayangkan sebuah eksperimen yang dapat secara langsung memvisualisasikan pergerakan bumi.
Demonstrasi Ikonik di Pantheon
Melansir Britannica, Pada tahun 1851, Foucault melakukan percobaan penting di Pantheon, Paris. Ia menggantungkan sebuah bola besi seberat 28 kilogram dengan tali baja yang sangat panjang, yaitu 67 meter, dari atap kubah Pantheon. Bayangkan sebuah bandul raksasa yang berayun-ayun.
Yang menarik dari bandul ini adalah arah ayunannya perlahan berubah seiring waktu. Foucault mengamati bahwa arah ayunan bandul tersebut berputar, bukan karena ada yang mendorong atau menariknya, tetapi karena bumi itu sendiri sedang berputar.
Mudahnya, bayangkan bandul tersebut mencoba untuk tetap berayun lurus ke satu arah di ruang angkasa. Sementara itu, tempat bandul itu digantung (yaitu, bumi) sedang berputar. Jadi, dari sudut pandang kita yang berdiri di bumi, arah ayunan bandul tampak berputar.
Kecepatan putaran arah ayunan bandul ini berbeda-beda, tergantung di mana bandul itu berada di bumi. Di daerah kutub (Kutub Utara atau Kutub Selatan), putaran arah ayunan bandul akan selesai dalam waktu 24 jam. Sementara itu, jika bandul tersebut berada di garis khatulistiwa (Ekuator), arah ayunannya tidak akan berputar sama sekali.
Lebih lanjut, di belahan bumi utara, arah ayunan bandul berputar searah jarum jam. Sebaliknya, di belahan bumi selatan, arah ayunan bandul berputar berlawanan arah jarum jam.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
