
Drone laser NTT Jepang yang digunakan untuk mengusir burung liar di peternakan ayam guna mencegah penyebaran flu burung. (NTT e-Drone Technology Co., Ltd)
JawaPos.com — Teknologi yang biasanya diasosiasikan dengan bidang pertahanan kini hadir di peternakan ayam Jepang. Perusahaan telekomunikasi raksasa Jepang, Nippon Telegraph and Telephone Corporation (NTT), meluncurkan sistem drone laser otomatis untuk melindungi peternakan unggas dari ancaman flu burung.
Langkah ini menandai penerapan inovasi teknologi tinggi dalam sektor agrikultur guna mencegah penyebaran virus influenza avian yang selama ini menimbulkan kerugian besar bagi industri unggas.
Dilansir dari Tom’s Hardware, Rabu (8/10/2025), NTT melalui anak perusahaannya, NTT e-Drone Technology Co., Ltd., bekerja sama dengan NTT East Japan serta pemerintah Prefektur Chiba dalam mengembangkan sistem laser-drone tersebut.
Teknologi ini dirancang untuk menghalau burung liar seperti gagak dan merpati yang sering menjadi pembawa virus penyebab flu burung ke area peternakan.
Dalam pernyataan resminya, NTT menjelaskan, “Antara Januari dan Februari 2025, situasi serius terjadi di Prefektur Chiba, yang menyebabkan pemusnahan lebih dari 3,3 juta unggas.”
Pernyataan ini menyoroti betapa besarnya ancaman epidemi terhadap industri unggas, sekaligus urgensi langkah preventif sebelum wabah kembali terjadi.
Berangkat dari pengalaman pahit tersebut, NTT kemudian mengembangkan sistem berbasis drone model BB102 (Bird and Beast) sebagai solusi pencegahan jangka panjang.
Perangkat ini dilengkapi sinar laser berwarna merah dan hijau yang diproyeksikan dalam bentuk multi-sinar dan dioperasikan secara berkala dengan pola menyala-padam.
Rancangan ini membuat burung liar sulit beradaptasi atau menembus celah sinar, sehingga drone dapat mengusir burung tanpa menimbulkan cedera, menjadikannya inovasi pengendalian yang efektif sekaligus ramah lingkungan.
Menurut laporan NTT, sistem ini bekerja sepenuhnya otomatis melalui navigasi mandiri, sehingga mampu menjangkau area yang sulit diakses manusia.
Metode ini juga dianggap lebih ramah lingkungan dibanding penggunaan bahan kimia, suara keras, atau upaya pengusiran manual yang selama ini umum dilakukan peternak.
Pemerintah Prefektur Chiba turut memberikan subsidi untuk membantu peternak mengadopsi teknologi ini. Dukungan tersebut muncul karena metode tradisional seperti pemasangan jaring atau atap pelindung masih menyisakan celah bagi burung liar untuk masuk ke area kandang.
“Kami berharap teknologi ini dapat mencegah penyebaran flu burung tanpa membebani peternak dengan biaya tambahan,” ujar seorang pejabat Pemerintah Prefektur Chiba, dikutip Tom’s Hardware.
NTT menegaskan bahwa upaya pencegahan harus dimulai sejak di luar area peternakan.
“Burung liar bisa membawa virus melalui kontak langsung atau kotoran yang terbawa angin. Karena itu, pencegahan paling efektif dilakukan sebelum mereka mendekat ke kandang,” kata perwakilan NTT e-Drone Technology Co., Ltd., dalam pernyataan resminya.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
