
Ilustasi gastrodiplomasi yang dimulai dari sebuah hidangan, dan menyatukan dunia lewat rasa. (theparliamentmagazine.eu)
JawaPos.com - Di tengah persaingan global yang semakin kompleks, makanan kini bukan sekadar urusan selera. Ia telah menjelma menjadi alat diplomasi lunak yang efektif, dikenal dengan istilah gastrodiplomasi. Melalui cita rasa khas, negara-negara memperkenalkan identitas budaya mereka, membangun citra positif, dan menjalin hubungan antarbangsa secara lebih emosional dan inklusif.
Thailand menjadi pelopor dalam strategi ini lewat program “Global Thai” yang diluncurkan sejak 2002. Tujuannya sederhana namun strategis, yakni memperluas kehadiran restoran Thai di berbagai negara sebagai cara memperkenalkan budaya dan meningkatkan pengaruh diplomatik. Menurut The Conversation, pendekatan ini terbukti berhasil membentuk persepsi global yang positif terhadap Thailand melalui makanan khas seperti pad thai dan tom yum.
Korea Selatan juga menerapkan strategi serupa lewat “Kimchi Diplomacy”. Kimchi, makanan fermentasi tradisional Korea, dipromosikan sebagai simbol nasional yang mencerminkan sejarah, nilai, dan gaya hidup masyarakat Korea.
“Kimchi bukan hanya makanan, tapi juga representasi budaya dan sejarah Korea,” tulis peneliti dalam artikel The Conversation yang membahas tren gastrodiplomasi Asia.
Indonesia pun mulai melirik gastrodiplomasi sebagai jalur baru untuk memperkenalkan diri di forum internasional. Dengan kekayaan rempah dan ragam kuliner, Indonesia memiliki modal besar untuk bersaing.
Penelitian dari The Conversation menyebutkan bahwa makanan nabati seperti tempe bisa menjadi pintu masuk yang efektif ke pasar Eropa. “Indonesia dapat memperluas gastrodiplomasinya melalui makanan berbasis nabati yang sehat dan ramah lingkungan,” ujar peneliti dalam artikel tersebut.
Tempe, sebagai produk fermentasi berbasis kedelai, bukan hanya makanan tradisional, tetapi juga simbol keberlanjutan dan inovasi. Di tengah tren global menuju pola makan sehat dan ramah lingkungan, tempe memiliki potensi besar untuk menjadi ikon kuliner Indonesia di panggung internasional. Strategi ini juga sejalan dengan diplomasi hijau dan promosi gaya hidup sehat yang kini digalakkan banyak negara.
Gastrodiplomasi bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal cerita. Makanan memiliki kekuatan untuk menciptakan pengalaman bersama, membuka ruang dialog, dan mengurangi ketegangan antarbangsa.
“Makanan adalah bahasa universal yang bisa menyatukan orang dari latar belakang berbeda,” tulis Ann Abel dalam artikel Forbes yang mengangkat kisah Chef Tohru Nakamura, seorang juru masak berdarah Jepang-Jerman yang menjadikan dapurnya sebagai ruang diplomasi budaya.
Selain membangun kedekatan emosional, gastrodiplomasi juga memperkuat identitas nasional. Ketika sebuah negara mampu memperkenalkan makanan khasnya secara konsisten dan menarik, citra positif akan terbentuk. Hal ini berdampak pada sektor pariwisata, perdagangan, hingga hubungan bilateral. Kuliner menjadi pintu masuk yang menyenangkan untuk mengenal budaya secara lebih dalam.
Namun, tantangan tetap ada. Persaingan global dalam promosi kuliner semakin ketat. Negara-negara seperti Jepang, Turki, dan Peru telah lebih dulu mengembangkan strategi gastrodiplomasi yang terstruktur. Indonesia perlu membangun narasi kuliner yang kuat, konsisten, dan relevan dengan isu global seperti keberlanjutan, kesehatan, dan inklusivitas.
Pemerintah dan pelaku industri kuliner perlu bersinergi dalam membangun ekosistem gastrodiplomasi. Dukungan terhadap UMKM, promosi makanan lokal di kedutaan besar, serta pelatihan chef sebagai duta budaya bisa menjadi langkah awal.
“Diplomasi makanan bukan hanya soal rasa, tapi juga soal cerita di baliknya,” tulis Abel dalam artikel yang sama, menekankan pentingnya narasi personal dalam strategi kuliner.
Gastrodiplomasi juga membuka peluang bagi generasi muda untuk terlibat dalam diplomasi kreatif. Lewat konten digital, festival kuliner, dan kolaborasi lintas negara, anak muda bisa menjadi agen perubahan yang memperkenalkan Indonesia lewat cita rasa. Makanan menjadi medium yang inklusif dan mudah diakses oleh semua kalangan.
Di masa depan, gastrodiplomasi akan semakin relevan sebagai strategi diplomasi budaya. Ketika dunia semakin terhubung, rasa menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan. Indonesia memiliki modal besar untuk bersaing, hanya tinggal bagaimana kita mengemasnya dengan cerdas dan berkelanjutan. (*)

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
