
Ilustrasi Selat Hormuz. (Better World Campaign).
JawaPos.com - Pemerintah Iran menegaskan bahwa jalur pelayaran strategis Selat Hormuz tetap dibuka untuk kapal-kapal internasional. Namun, akses tersebut tidak berlaku bagi kapal milik atau yang berafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel.
Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi akhir pekan kemarin. Dia menegaskan bahwa pembatasan hanya diberlakukan terhadap kapal yang terkait dengan Washington dan Tel Aviv.
“Selat Hormuz hanya ditutup untuk kapal AS dan Israel. Kapal lainnya bebas melintas," kata Araghchi.
Menurut Araghchi, hingga saat ini banyak kapal tanker dan kapal niaga dari berbagai negara yang tetap melewati jalur pelayaran tersebut. Namun, sebagian operator kapal memilih menghindarinya karena alasan keamanan.
“Banyak kapal tanker dan kapal yang masih melewati Selat Hormuz. Ada yang memilih tidak melintas karena kekhawatiran keamanan, tetapi itu tidak ada hubungannya dengan Iran,” ujarnya.
Respons terhadap Pernyataan Trump
Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump menuding Iran mencoba menutup Selat Hormuz. Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat bersama sejumlah negara akan mengirim kapal perang untuk memastikan jalur tersebut tetap aman.
Trump menyebut beberapa negara yang menurutnya terdampak oleh situasi di Selat Hormuz, termasuk Tiongkok, Prancis, Jepang, Korea Selatan, serta Britania Raya. Ia juga berharap negara-negara tersebut ikut mengirim kapal ke kawasan itu.
Dalam wawancara yang sama, Araghchi juga membantah klaim dari Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang menyebut pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengalami luka serius bahkan cacat.
Araghchi menegaskan tidak ada masalah dengan kondisi pemimpin Iran tersebut.
“Tidak ada masalah dengan pemimpin tertinggi,” kata Araghchi. “Dia mengirimkan pesannya kemarin dan akan menjalankan tugasnya sesuai konstitusi.”
Ia juga menekankan bahwa Republik Islam Iran memiliki sistem pemerintahan yang kuat dan tidak bergantung pada satu individu saja.
“Semua terkendali,” ujarnya.
Namun, beberapa jam setelah wawancara itu, Trump kembali membuat pernyataan kontroversial. Ia mengaku mendengar kabar bahwa Mojtaba Khamenei telah meninggal.
“Jika dia masih hidup, dia harus melakukan sesuatu yang sangat cerdas untuk negaranya, yaitu menyerah,” kata Trump dalam wawancara dengan NBC News.
