Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 22 Februari 2023 | 17.27 WIB

3 Korban Meninggal Akibat Ledakan di Blitar Dimakamkan di Satu Liang

TELITI: Petugas Labfor  Jatim mengambil sampel di lokasi yang diduga sumber ledakan di Dusun Tegalrejo, Desa Karangbendo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, kemarin (20/2). Ponggok termasuk satu dari tiga wilayah Kabupaten Blitar yang rawan peracakin da - Image

TELITI: Petugas Labfor Jatim mengambil sampel di lokasi yang diduga sumber ledakan di Dusun Tegalrejo, Desa Karangbendo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, kemarin (20/2). Ponggok termasuk satu dari tiga wilayah Kabupaten Blitar yang rawan peracakin da

JawaPos.com – Larangan membuat dan menyulut petasan sebenarnya gencar disosialisasikan sejak dulu. Namun, masih banyak warga yang nekat bermain-main dengan mercon. Insiden ledakan di Desa Karangbendo, Kabupaten Blitar, seharusnya menjadi pelajaran berharga.

Agar kejadian serupa tak terulang, Polda Jatim akan mengadakan operasi besar-besaran menjelang Ramadan dan Idul Fitri. ”Saat ini kami sedang melakukan operasi bina kusuma. Dimulai hari ini hingga hari raya,” ujar Kapolda Jatim Irjen Pol Toni Harmanto kemarin. Salah satu tujuan operasi tersebut adalah mengingatkan warga agar tidak lagi membuat atau membakar petasan.

Kemarin Toni datang ke Blitar untuk memantau langsung dampak ledakan akibat bubuk petasan itu.

Pantauan Jawa Pos Radar Blitar, Toni didampingi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Farid Makruf.

Toni menyadari, membakar mercon saat Ramadan dan Idul Fitri sudah menjadi tradisi di sebagian masyarakat. Tidak sedikit warga membuat mercon dengan ukuran beragam. Karena itu, razia akan digencarkan untuk mencegah kasus ledakan di Blitar terulang di daerah lain.

Kapolda menegaskan, pengusutan terhadap kasus ledakan di Blitar masih berlangsung. Polisi kini memburu pemasok bahan petasan itu. Yang pasti, siapa pun yang terlibat hingga mengakibatkan ledakan akan diproses hukum. ”Pengedar bahan baku petasan ini terus kami kejar. Ini sebagai salah satu upaya penyelidikan,” ucapnya.

Saat olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan barang bukti berupa bahan petasan yang disimpan dalam panci. Semua bukti kini diteliti tim laboratorium forensik (labfor). ”Hasil labfor sudah diketahui. Jadi, ada kandungan mesiu dan sulfur,” ungkap Toni.

Dia menerangkan, dua jenis bahan kimia itu memiliki sifat low explosive atau memiliki daya ledak rendah. Meski demikian, keduanya mudah terpicu percikan api. Karena itu, penyebab ledakan diduga karena puntung rokok. Itu berdasar temuan puntung rokok di TKP.

Ditanya terkait dengan jumlah bahan petasan yang meledak, Toni belum bisa mengungkapkan secara gamblang. Sebab, polisi belum memiliki cukup bukti. Saat ini tim tengah mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi.

Sebagaimana diberitakan, ledakan dahsyat terjadi di Desa Karangbendo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Minggu (19/2) sekitar pukul 22.30. Ledakan berasal dari rumah Sudarman, 65, warga Dusun Tegalrejo, Desa Karangbendo. Sumber ledakan diduga dari bubuk petasan yang disimpan Sudarman. Saking kerasnya ledakan, suaranya terdengar hingga radius sekitar 20 km.

Ledakan itu membuat Sudarman dan tiga orang lain yang berada di dalam rumah meninggal seketika. Tiga orang itu adalah Arifin, Deni Widodo, dan Betrisa Neswa Roszi alias Wawa. Arifin dan Deni Widodo adalah anak Darman, sedangkan Wawa adalah adik ipar Arifin. Sementara itu, jumlah rumah rusak akibat ledakan bertambah. Data BPBD Kabupaten Blitar menyebutkan, rumah yang rusak kini menjadi 33 unit.

Pada bagian lain, tiga korban meninggal dimakamkan kemarin. Yakni, Sudarman, Deni Widodo, dan Arifin. Jenazah mereka diserahkan kepada Prawoto, anak kedua Sudarman. Jenazah tiga orang itu tidak utuh. Potongan-potongan tubuh mereka dimasukkan ke tiga peti dan dimakamkan dalam satu liang lahad. Sebelum ketiganya dikebumikan, warga sekitar melangsungkan salat Jenazah.

Sementara itu, hingga kemarin jenazah Wawa masih dalam proses identifikasi DNA. Bagian tubuhnya yang belum lengkap menghambat proses identifikasi. ”Tapi, kita sudah kumpulkan data antemortem dari keluarga dan adik Pak Wawa. Semoga dalam waktu dekat bisa disampaikan,” jelas Kapolres Blitar Kota AKBP Argowiyono.

Pada bagian lain, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa berharap kejadian di Blitar merupakan kasus terakhir. Masyarakat bisa belajar dari kejadian yang mengakibatkan puluhan rumah rusak tersebut. Dia menjelaskan, pihaknya terus berkoordinasi dengan bupati Blitar. Gubernur meminta bupati menerbitkan surat keputusan (SK) tanggap darurat bencana sosial menyusul terjadinya ledakan bahan petasan. SK bisa berlaku selama 14 hari.

SK tersebut, lanjut Khofifah, sangat penting. Itu akan menjadi payung hukum dalam pemberian bantuan kepada warga terdampak. ”Jadi, saya koordinasi dengan bupati supaya bisa memberikan intervensi terhadap rehabilitasi rumah terdampak,” kata dia.

Menurut Khofifah, pemerintah bertanggung jawab atas kejadian di Blitar. Anggaran untuk penanganan korban dan kerusakan rumah akan ditanggung bersama antara pemprov dan pemkab. ”Saya sudah komunikasikan itu ke bupati. Setelah proses identifikasi selesai bisa dilakukan,” tambahnya.

Photo

IKUT TERDAMPAK: Personel BPBD Kabupaten Blitar mengevakuasi sapi milik warga setempat pasca ledakan kemarin. (WIDYA AMALIA/JAWA POS RADAR BLITAR)

Sementara itu, Pemkab Blitar membenarkan adanya rencana pemberian bantuan kepada para korban. ”Meski bukan bencana alam, pemerintah bisa menggunakan anggaran dari belanja tak terduga,” ujar Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Pemkab Blitar Kurdiyanto kepada Jawa Pos Radar Blitar.

Pria berambut cepak tersebut menjelaskan, besaran anggaran pada pos ini tidak begitu besar. Karena itu, pemkab menunggu kepastian besaran dukungan anggaran dari pemprov. ”Kalau total anggaran belanja tak terduga ada sekitar Rp 15 miliar. Kalau berapa nominal bantuan untuk perbaikan ini masih menunggu hasil asesmen,” kata Kurdiyanto.

Tim yang dipasrahi untuk mengidentifikasi kerusakan atau dampak ledakan adalah badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) serta dinas perumahan dan kawasan permukiman (DPKP). Hasil dari asesmen ini akan dilaporkan kepada bupati dan digunakan sebagai sarana untuk mengeluarkan anggaran belanja tak terduga.

Perhatian kepada warga terdampak, ungkap Kurdiyanto, tidak hanya sebatas perbaikan hunian. Pemerintah juga akan memberikan santunan kepada korban atau warga yang meninggal. Hanya, nominalnya belum bisa dipastikan. ”Bu Gubernur biasanya kan juga beri santunan,” ucapnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore