
seseorang yang tidak pernah mendekorasi rumah untuk hari raya./Freepik/The Yuri Arcurs Collection
JawaPos.com - Setiap menjelang hari raya, sebagian rumah berubah drastis. Lampu hias dipasang, ornamen bertema perayaan memenuhi sudut ruangan, dan suasana visual dibuat semeriah mungkin.
Namun, di tengah euforia tersebut, selalu ada kelompok orang yang memilih untuk tidak mendekorasi rumah sama sekali.
Bukan karena tidak peduli, apalagi anti-perayaan, melainkan karena mereka memiliki cara yang berbeda dalam memaknai ketenangan dan kebahagiaan.
Dalam sudut pandang psikologi, pilihan untuk tidak mendekorasi rumah saat hari raya sering kali berkaitan dengan nilai-nilai batin yang stabil, tenang, dan dewasa secara emosional.
Mereka cenderung merayakan momen secara internal, bukan melalui simbol visual.
Dilansir dari Geediting pada Senin (19/1), terdapat sembilan nilai tenang yang umumnya tercermin dari kepribadian tersebut.
1. Merasa Nyaman dengan Kesederhanaan
Orang yang tidak mendekorasi rumah biasanya memiliki hubungan yang sehat dengan konsep sederhana.
Mereka tidak merasa perlu menambahkan ornamen eksternal untuk merasakan makna hari raya. Dalam psikologi, ini menunjukkan kemampuan menikmati hidup apa adanya tanpa ketergantungan pada rangsangan visual berlebihan.
Kesederhanaan bagi mereka bukan kekurangan, melainkan ruang untuk bernapas.
2. Fokus pada Makna, Bukan Tampilan
Alih-alih sibuk mempercantik rumah, mereka lebih memusatkan perhatian pada esensi perayaan itu sendiri—kebersamaan, refleksi, atau spiritualitas. Psikologi menyebut ini sebagai orientasi nilai intrinsik, yaitu ketika seseorang menilai pengalaman dari kedalaman maknanya, bukan dari pengakuan sosial.
Bagi mereka, hari raya tetap sakral meski tanpa dekorasi.
3. Tidak Tergantung pada Validasi Sosial
Dekorasi sering kali, secara tidak sadar, menjadi bentuk komunikasi sosial: menunjukkan partisipasi, selera, atau bahkan status. Orang yang memilih tidak mendekorasi umumnya tidak merasa tertekan oleh ekspektasi sosial tersebut.
