
seseorang yang membangun kembali tujuan (Freepik/syda_productions)
JawaPos.com - Masa pensiun sering dianggap sebagai akhir dari fase produktif seseorang. Setelah puluhan tahun bekerja, rutinitas berhenti, jabatan dilepas, dan identitas profesional perlahan memudar. Tidak sedikit pensiunan yang mengalami apa yang oleh psikolog perkembangan seperti Erik Erikson sebut sebagai krisis makna pada tahap akhir kehidupan—fase ketika seseorang mempertanyakan kembali kontribusi dan nilai hidupnya.
Namun, tidak semua pensiunan tenggelam dalam kehilangan arah. Banyak di antaranya justru diam-diam sedang membangun kembali tujuan hidup yang lebih autentik. Proses ini sering tidak terlihat dramatis. Ia tumbuh perlahan, melalui perubahan kecil dalam pola pikir, kebiasaan, dan cara memaknai waktu.
Menurut berbagai perspektif psikologi perkembangan dan makna hidup—termasuk gagasan tentang makna dari Viktor Frankl—fase pensiun bisa menjadi momen paling subur untuk menemukan kembali alasan untuk bangun setiap pagi.
Dilansir dari Geediting, terdapat tujuh tanda bahwa seorang pensiunan sebenarnya sedang membangun kembali tujuan hidupnya.
1. Ia Mulai Menyusun Rutinitas Baru dengan Sadar
Pada awal pensiun, banyak orang merasa “kehilangan jam biologis sosial”. Tidak ada lagi jadwal kantor, rapat, atau tenggat waktu. Namun, ketika seorang pensiunan mulai menyusun rutinitas baru—olahraga pagi, membaca di jam tertentu, mengikuti kelas, atau mengatur jadwal bertemu teman—itu bukan sekadar mengisi waktu.
Dalam psikologi, ini adalah bentuk self-regulation. Ia sedang membangun struktur baru untuk menopang identitas barunya. Rutinitas menciptakan rasa kendali, dan rasa kendali adalah fondasi dari makna hidup.
Rutinitas yang dibangun sendiri, bukan dipaksakan institusi, sering kali jauh lebih selaras dengan nilai pribadi.
2. Ia Mulai Memilah Hubungan Sosial dengan Lebih Selektif
Pensiunan yang sedang membangun tujuan hidup cenderung lebih sadar dalam memilih lingkaran sosialnya. Mereka mungkin mengurangi interaksi yang terasa melelahkan dan memperbanyak waktu bersama orang-orang yang memberi energi.
Teori Socioemotional Selectivity menjelaskan bahwa semakin seseorang menyadari keterbatasan waktu hidup, semakin ia memprioritaskan hubungan yang bermakna secara emosional. Fokusnya bukan lagi kuantitas, melainkan kualitas.
Perubahan ini bukan sikap anti-sosial. Justru sebaliknya: ini tanda kedewasaan emosional dan penajaman prioritas.
3. Ia Kembali ke Minat Lama yang Pernah Tertunda
Banyak orang selama masa kerja menunda hobi atau minat pribadi. Ketika seorang pensiunan mulai kembali melukis, berkebun, menulis, belajar musik, atau bahkan mengambil kursus baru, itu bukan sekadar “mengisi waktu luang”.
Dalam kerangka self-determination theory, aktivitas yang didorong oleh minat intrinsik memperkuat rasa kompetensi dan otonomi. Kedua hal ini adalah komponen penting dalam membangun kesejahteraan psikologis.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Soal Penolakan Pembangunan Gereja di Citraland, Wali Kota Eri: Tidak Sesuai Site Plan
Prediksi Skor Singapura vs Thailand: Ilhan Fandi Jadi Ancaman, Tuan Rumah Bisa Bikin Kejutan
Prediksi Skor Sabah FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bidik Puncak Dewata Challenge Series 2026
Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kasus Penjahit Rasis Bali Kembali Diperbincangkan, Diduga Ada Intimidasi Saat Audiensi
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Pembangunan Gereja di Citraland Surabaya Ditolak Warga, Ternyata karena salah soal Perizinannya
Jadwal Siaran Langsung Sabah FC vs Persib Bandung di Dewata Challenge Series 2026: Live di Indosiar
5 Weton Aras Kembang yang Bisa Memikat Lawan Jenis karena Kharismatik danMempesona Menurut Primbon Jawa
