Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 29 Maret 2026 | 05.16 WIB

Orang-Orang yang Tidak Bisa Meminta Maaf Tanpa Menambahkan 'Tetapi' Memiliki 6 Masalah Kepribadian Ini Menurut Psikologi

seseorang yang tidak bisa meminta maaf dengan tulus./Sumber foto: Freepik/Wavebreak Media - Image

seseorang yang tidak bisa meminta maaf dengan tulus./Sumber foto: Freepik/Wavebreak Media

JawaPos.com - Meminta maaf adalah salah satu bentuk kedewasaan emosional yang paling sederhana—namun justru paling sulit dilakukan. Tidak sedikit orang yang mampu mengucapkan kata “maaf”, tetapi langsung merusaknya dengan tambahan kata “tetapi”.

Contohnya:

“Maaf ya aku telat, tapi tadi macet.”
“Aku minta maaf kalau kamu tersinggung, tapi aku cuma jujur.”

Sekilas terdengar seperti permintaan maaf, tetapi sebenarnya mengandung pembelaan diri. Dalam psikologi, fenomena ini bukan sekadar kebiasaan bicara, melainkan bisa mencerminkan pola kepribadian tertentu.

Dilansir dari Expert Editor pada Jumat (27/3), terdapat enam masalah kepribadian yang sering dimiliki oleh orang yang tidak bisa meminta maaf tanpa embel-embel “tetapi”.

1. Sulit Mengakui Kesalahan (Defensiveness Tinggi)

Orang yang selalu menambahkan “tetapi” cenderung memiliki mekanisme pertahanan diri yang kuat. Mereka merasa bahwa mengakui kesalahan sepenuhnya sama dengan menunjukkan kelemahan.

Akibatnya:

Mereka mencari alasan untuk membenarkan diri
Mengalihkan fokus dari kesalahan ke situasi
Lebih fokus “menjelaskan” daripada “memperbaiki”

Dalam psikologi, ini disebut sebagai defensiveness, yaitu kecenderungan melindungi ego dari rasa bersalah atau malu.

2. Ego yang Tinggi

Permintaan maaf yang tulus membutuhkan kerendahan hati. Namun bagi sebagian orang, ego mereka terlalu besar untuk mengakui bahwa mereka sepenuhnya salah.

Kata “tetapi” menjadi cara halus untuk berkata:

“Aku salah, tapi tidak sepenuhnya.”

Orang dengan ego tinggi biasanya:

Sulit menerima kritik
Ingin selalu terlihat benar
Tak nyaman berada dalam posisi “bersalah”

3. Kurangnya Empati

Permintaan maaf sejati berfokus pada perasaan orang lain. Sebaliknya, permintaan maaf dengan “tetapi” berfokus pada diri sendiri.

Contoh:

“Maaf kalau kamu sakit hati, tapi aku lagi capek.”

Di sini, perasaan lawan bicara tidak benar-benar divalidasi.

Ini menunjukkan kurangnya empati, yaitu:

Tidak sepenuhnya memahami perasaan orang lain
Tidak menempatkan diri di posisi orang lain
Lebih peduli pada pembenaran diri daripada dampak tindakan

4. Ketidakdewasaan Emosional

Kedewasaan emosional terlihat dari kemampuan seseorang untuk:

Mengakui kesalahan tanpa syarat
Menahan dorongan untuk membela diri
Bertanggung jawab atas tindakan

Orang yang selalu berkata “maaf, tapi…” sering kali belum mencapai tingkat ini.

Mereka cenderung:

Reaktif
Sulit mengelola rasa bersalah
Menghindari tanggung jawab penuh

5. Takut Kehilangan Kendali atau Status

Bagi sebagian orang, mengakui kesalahan terasa seperti kehilangan posisi atau kendali—terutama dalam hubungan atau lingkungan kerja.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore