seseorang yang enggan pergi tidur / foto: Magnific/magnific
JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa sebenarnya sudah sangat mengantuk, tubuh terasa lelah, tetapi tetap saja enggan pergi tidur?
Anda mungkin sudah tahu bahwa besok harus bangun pagi. Anda bahkan mungkin sudah mengatakan kepada diri sendiri, “Lima menit lagi, setelah ini aku tidur.” Namun, lima menit berubah menjadi setengah jam. Anda membuka media sosial, menonton satu video lagi, membaca berita, memainkan gim, membalas pesan, atau sekadar duduk sambil melamun.
Menariknya, fenomena ini tidak selalu berarti seseorang malas tidur atau tidak memiliki disiplin. Dalam psikologi, keengganan untuk tidur dapat berkaitan dengan berbagai faktor: kebutuhan akan waktu pribadi, kebiasaan, regulasi emosi, kecemasan, dorongan mencari kesenangan, hingga cara seseorang merespons tuntutan kehidupan sehari-hari.
Bagi sebagian orang, malam hari justru menjadi satu-satunya waktu ketika mereka merasa benar-benar memiliki kendali atas hidupnya. Ketika semua pekerjaan, kewajiban, dan tuntutan sosial berhenti, mereka akhirnya mendapatkan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang benar-benar ingin dilakukan.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (1/9), terdapat delapan alasan psikologis yang dapat membantu menjelaskan mengapa seseorang sangat sulit mengakhiri hari dan memilih pergi tidur meski malam sudah larut.
1. Malam hari terasa seperti satu-satunya waktu yang benar-benar milik sendiri
Salah satu alasan yang cukup umum adalah seseorang merasa tidak memiliki cukup waktu untuk dirinya sendiri sepanjang hari.
Pada siang hari, kehidupan dipenuhi berbagai tuntutan. Ada pekerjaan, sekolah, kuliah, pekerjaan rumah, keluarga, perjalanan, komunikasi dengan orang lain, dan berbagai kewajiban lain.
Ketika malam tiba, semuanya mulai tenang.
Tidak ada lagi pesan pekerjaan yang harus segera dibalas. Tidak ada rapat. Tidak ada orang yang meminta sesuatu. Tidak ada kewajiban untuk terus produktif.
Untuk pertama kalinya dalam sehari, seseorang merasa bebas.
Akibatnya, tidur dapat terasa seperti sebuah "kehilangan kesempatan".
Misalnya, seseorang mungkin berpikir:
"Kalau aku tidur sekarang, besok semuanya dimulai lagi."
Sebaliknya, jika ia tetap terjaga, ia mendapatkan beberapa jam tambahan yang terasa sepenuhnya miliknya.
Fenomena semacam ini sering dibahas dalam psikologi populer dengan istilah revenge bedtime procrastination, yaitu kecenderungan menunda tidur untuk mendapatkan waktu pribadi setelah menjalani hari yang terasa terlalu penuh oleh tuntutan.
Yang menarik, orang tersebut sebenarnya mungkin sangat menyadari bahwa kurang tidur akan membuatnya lelah keesokan harinya. Namun, kebutuhan untuk memiliki waktu pribadi pada saat itu terasa lebih mendesak.
Dengan kata lain, masalahnya bukan selalu karena seseorang tidak menghargai tidur.
Bisa jadi justru karena mereka merasa tidak mendapatkan cukup waktu untuk dirinya sendiri ketika masih terjaga di siang hari.
Apa yang biasanya terjadi?
Seseorang menghabiskan hari untuk memenuhi kebutuhan orang lain atau berbagai kewajiban.
Malam datang → tuntutan berkurang → muncul rasa bebas → muncul keinginan menikmati waktu sendiri → tidur ditunda.
Semakin seseorang merasa kehidupannya sehari-hari dikendalikan oleh tuntutan eksternal, semakin berharga waktu malam yang terasa bebas tersebut.
2. Tidur dianggap sebagai akhir dari kebebasan dan awal dari kewajiban baru
Bagi sebagian orang, pergi tidur bukan sekadar aktivitas biologis.
Secara psikologis, tidur bisa menjadi simbol bahwa hari telah berakhir.
Dan ketika hari berakhir, besok akan dimulai.
Masalahnya, "besok" mungkin identik dengan berbagai hal yang tidak menyenangkan.
Ada pekerjaan yang menumpuk.
Ada tugas yang belum selesai.
Ada sekolah atau kuliah.
Ada atasan yang harus dihadapi.
Ada perjalanan panjang.
Ada konflik yang belum terselesaikan.
Ada tanggung jawab keluarga.
Karena itu, tidur secara tidak sadar dapat terasa seperti pintu menuju hari berikutnya yang penuh tuntutan.
Seseorang mungkin tidak mengatakan kepada dirinya sendiri:
"Aku takut menghadapi besok."
Namun, perilakunya bisa menunjukkan pola yang serupa.
Ia terus mencari alasan untuk tetap terjaga.
"Aku mau lihat satu episode lagi."
"Aku mau scroll sebentar."
"Aku belum ngantuk."
"Nanti saja tidurnya."
Padahal, yang sebenarnya sulit dilakukan mungkin bukan tidur itu sendiri, melainkan mengakhiri hari dan menghadapi hari berikutnya.
Dalam kondisi seperti ini, semakin seseorang tidak menyukai aktivitas atau situasi yang menunggunya keesokan hari, semakin besar kemungkinan malam terasa seperti zona aman.
Malam memberikan jarak psikologis dari masalah.
Untuk beberapa jam, seseorang tidak perlu menghadapi apa pun.
3. Aktivitas menyenangkan membuat otak sulit beralih ke mode istirahat
Alasan lain berkaitan dengan sistem penghargaan di otak.
Saat seseorang melakukan aktivitas yang menyenangkan—misalnya bermain gim, menonton video pendek, membaca konten menarik, berbelanja online, atau berbicara dengan teman—ia mendapatkan stimulasi dan penghargaan psikologis.
Masalahnya, aktivitas semacam itu tidak memiliki titik akhir yang jelas.
Satu video bisa dilanjutkan dengan video berikutnya.
Satu episode bisa dilanjutkan dengan episode berikutnya.
Satu unggahan bisa membawa seseorang ke unggahan lain.
Akibatnya, muncul pola:
"Satu lagi."
Lalu:
"Yang ini terakhir."
Dan akhirnya:
"Kok sudah jam dua pagi?"
Hal ini semakin mudah terjadi ketika seseorang menggunakan perangkat digital di tempat tidur.
Ponsel menyediakan rangsangan yang hampir tidak ada habisnya. Bahkan ketika tubuh mulai lelah, pikiran masih mendapatkan sesuatu yang baru untuk diproses.
Ini menciptakan konflik antara dua kebutuhan:
Tubuh: "Aku butuh istirahat."
Otak yang sedang terstimulasi: "Tunggu, ini menarik."
Ketika stimulasi terus berlangsung, transisi menuju tidur menjadi semakin sulit.
Karena itu, seseorang bisa merasa mengantuk tetapi tetap tidak mau berhenti melakukan aktivitas.
4. Menunda tidur menjadi cara untuk mendapatkan kembali rasa kendali
Manusia memiliki kebutuhan psikologis untuk merasa bahwa dirinya memiliki kendali atas kehidupannya.
Ketika sebagian besar hari dihabiskan mengikuti jadwal, aturan, permintaan, atau ekspektasi orang lain, seseorang dapat merasa bahwa hidupnya bukan sepenuhnya miliknya.
Malam hari kemudian menjadi kesempatan untuk mengambil kembali kendali tersebut.
Contohnya:
Siang hari:
"Aku harus bekerja."
"Aku harus menyelesaikan tugas."
"Aku harus menghadiri rapat."
"Aku harus membantu keluarga."
"Aku harus membalas pesan."
Malam hari:
"Sekarang aku yang menentukan."
Perasaan memiliki kendali tersebut dapat membuat seseorang sengaja memperpanjang waktu terjaga.
Ironisnya, keputusan tersebut mungkin merugikan dirinya sendiri.
Ia tahu bahwa kurang tidur akan membuatnya lelah.
Namun, secara psikologis, keuntungan jangka pendek berupa rasa bebas dan berkuasa atas waktu sendiri terasa lebih kuat daripada kerugian yang baru akan dirasakan keesokan harinya.
Ini merupakan contoh sederhana dari kecenderungan manusia untuk lebih mengutamakan kepuasan saat ini dibanding konsekuensi yang masih jauh.
5. Ada kecemasan atau pikiran yang justru muncul ketika suasana mulai tenang
Tidak semua orang menghindari tidur karena ingin bersenang-senang.
Sebagian justru menghindari tidur karena ketika segala sesuatu menjadi tenang, pikiran mereka mulai menjadi terlalu aktif.
Pada siang hari, seseorang mungkin sibuk sehingga tidak sempat memikirkan banyak hal.
Pekerjaan membuat pikirannya teralihkan.
Percakapan dengan orang lain mengalihkan perhatian.
Aktivitas sehari-hari membuat otak terus sibuk.
Namun, ketika berbaring dalam kondisi gelap dan sunyi, distraksi tersebut menghilang.
Kemudian pikiran mulai bermunculan.
"Bagaimana kalau aku gagal?"
"Kenapa tadi aku mengatakan hal itu?"
"Besok bagaimana?"
"Apa yang akan terjadi dengan pekerjaan ini?"
"Kenapa hidupku terasa seperti ini?"
Seseorang mungkin kemudian mengambil ponsel lagi bukan karena benar-benar ingin bermain, tetapi karena tidak nyaman berada sendirian dengan pikirannya.
Dalam kondisi seperti ini, aktivitas sebelum tidur berfungsi sebagai distraksi.
Selama seseorang menonton video atau membaca sesuatu, ia tidak perlu sepenuhnya berhadapan dengan pikirannya sendiri.
Inilah sebabnya beberapa orang justru merasa lebih gelisah ketika mencoba tidur dalam keadaan benar-benar tenang.
6. Malam memberikan ruang untuk memenuhi kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi pada siang hari
Manusia tidak hanya membutuhkan tidur.
Kita juga membutuhkan kesenangan, koneksi sosial, relaksasi, kebebasan, dan waktu untuk melakukan hal-hal yang bermakna bagi diri sendiri.
Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi sepanjang hari, seseorang mungkin mencoba "membayarnya" pada malam hari.
Misalnya, seseorang bekerja selama 10 jam dan hampir tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri.
Begitu pulang, ia harus mengurus berbagai hal.
Setelah semuanya selesai, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Barulah ia memiliki kesempatan untuk membaca buku, menonton film, bermain gim, menggambar, mendengarkan musik, atau berbicara dengan teman.
Secara emosional, aktivitas tersebut mungkin sangat berharga.
Karena itu, berhenti untuk tidur terasa seperti mengorbankan satu-satunya kesempatan untuk melakukan sesuatu yang benar-benar disukai.
Ini menjelaskan mengapa seseorang terkadang lebih memilih tidur lebih sedikit daripada kehilangan waktu untuk aktivitas yang memberinya rasa puas.
Dengan kata lain, perilaku tersebut bisa menjadi bentuk kompensasi:
"Aku sudah menghabiskan sepanjang hari melakukan apa yang harus kulakukan. Sekarang aku ingin melakukan apa yang ingin kulakukan."
7. Ada pola kebiasaan yang sudah terbentuk
Tidak semua perilaku menunda tidur memiliki alasan emosional yang dalam.
Kadang-kadang, seseorang hanya sudah terbiasa melakukannya.
Otak manusia sangat mudah membentuk pola berdasarkan pengulangan.
Jika selama berbulan-bulan seseorang terbiasa tidur pukul 1 atau 2 pagi, tubuh dan pikirannya dapat mulai menganggap waktu tersebut sebagai waktu normal untuk beraktivitas.
Akibatnya, pada pukul 10 atau 11 malam, ia belum merasa bahwa "hari sudah selesai".
Kebiasaan malamnya mungkin sudah menjadi ritual.
Misalnya:
Pukul 10 → membuka ponsel.
Pukul 11 → menonton video.
Pukul 12 → mulai bermain gim.
Pukul 1 → merasa mengantuk.
Pukul 1.30 → baru memutuskan tidur.
Lama-kelamaan, urutan tersebut menjadi otomatis.
Yang lebih menarik, lingkungan modern juga dapat memperkuat kebiasaan ini.
Ponsel, laptop, layanan streaming, media sosial, dan internet membuat seseorang dapat terus mendapatkan rangsangan kapan pun ia mau.
Tidak ada lagi batas alami yang memaksa aktivitas berhenti ketika malam tiba.
Dulu, ketika toko tutup, televisi berhenti menayangkan program tertentu, atau lingkungan mulai benar-benar sunyi, malam secara otomatis memberi sinyal bahwa hari telah berakhir.
Sekarang, seseorang dapat bekerja, berbelanja, bersosialisasi, menonton hiburan, dan mencari informasi hingga dini hari.
Karena itu, kemampuan untuk "mengakhiri hari" semakin banyak bergantung pada pengendalian diri.
8. Seseorang mungkin sedang berusaha menghindari perasaan bahwa hidupnya berjalan terlalu cepat
Ada alasan yang lebih filosofis sekaligus psikologis.
Tidur berarti satu hari telah berlalu.
Bagi sebagian orang, hal tersebut dapat menimbulkan perasaan yang tidak nyaman.
"Hari ini sudah selesai."
"Besok akan datang."
"Waktu terus berjalan."
Orang yang sedang merasa hidupnya terlalu cepat berlalu mungkin secara tidak sadar berusaha memperpanjang waktu terjaga.
Selama belum tidur, rasanya hari itu belum benar-benar berakhir.
Ia masih memiliki beberapa jam lagi.
Masih bisa melakukan sesuatu.
Masih bisa menikmati suasana.
Masih bisa merasa bahwa hidup berada dalam kendalinya.
Dalam konteks ini, menunda tidur bukan semata-mata tentang tidak mengantuk.
Ini dapat menjadi cara psikologis untuk memperlambat transisi dari satu hari ke hari berikutnya.
Tentu saja, tidak semua orang yang tidur larut memiliki perasaan seperti ini. Tetapi bagi sebagian individu, malam memang menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari tekanan waktu dan tuntutan kehidupan.
Mengapa seseorang tetap melakukannya meski tahu akibatnya?
Pertanyaan menarik berikutnya adalah:
Jika seseorang tahu kurang tidur membuatnya lelah, mengapa ia tetap menunda tidur?
Jawabannya berkaitan dengan perbedaan antara manfaat jangka pendek dan konsekuensi jangka panjang.
Bayangkan dua pilihan:
Pilihan A: tidur sekarang dan mendapatkan manfaat beberapa jam kemudian.
Pilihan B: tetap terjaga dan mendapatkan kesenangan sekarang.
Secara psikologis, otak manusia sering kali lebih sensitif terhadap penghargaan yang segera tersedia.
Jika seseorang sedang lelah setelah menjalani hari yang panjang, kesempatan untuk menikmati hiburan selama 30 menit mungkin terasa sangat berharga.
Konsekuensi berupa rasa lelah pada pagi berikutnya masih terasa jauh.
Karena itu, seseorang dapat membuat keputusan yang sebenarnya bertentangan dengan kepentingan jangka panjangnya.
Ini bukan berarti orang tersebut tidak memahami konsekuensinya.
Ia mungkin sangat memahami.
Masalahnya adalah pengetahuan tidak selalu otomatis menghasilkan perilaku yang sesuai.
Kita semua dapat mengetahui sesuatu itu buruk bagi diri sendiri tetapi tetap melakukannya karena manfaat emosional jangka pendek terasa lebih kuat.
Apakah enggan tidur selalu berarti ada masalah psikologis?
Tidak.
Ini penting untuk dipahami.
Tidur larut atau sesekali menunda tidur tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan psikologis.
Seseorang mungkin tidur larut karena pekerjaannya, jadwal sosial, kebiasaan, atau sekadar menikmati malam.
Yang patut diperhatikan adalah ketika pola tersebut terjadi terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Misalnya:
sering tidur jauh lebih larut daripada yang direncanakan,
sulit bangun pada pagi hari,
merasa sangat lelah pada siang hari,
produktivitas menurun,
suasana hati terganggu,
sulit berkonsentrasi,
terus mengulang pola yang sama meskipun ingin mengubahnya,
atau tidur menjadi sangat terkait dengan kecemasan dan pikiran yang sulit dikendalikan.
Dalam situasi seperti itu, masalahnya mungkin lebih kompleks daripada sekadar "kurang disiplin".
Jika kesulitan tidur berlangsung lama atau sangat mengganggu kehidupan sehari-hari, berbicara dengan tenaga profesional kesehatan dapat menjadi langkah yang tepat.
Apa yang bisa dilakukan jika seseorang ingin berhenti menunda tidur?
Daripada hanya mengatakan kepada diri sendiri, "Aku harus lebih disiplin," akan lebih efektif jika mencari tahu mengapa sebenarnya Anda tidak ingin tidur.
Coba tanyakan:
"Apa yang sebenarnya ingin saya dapatkan dengan tetap terjaga?"
Jawabannya bisa berbeda-beda.
Mungkin Anda ingin:
memiliki waktu sendirian,
bersantai,
bermain,
berbicara dengan seseorang,
melupakan stres,
menghindari pikiran tertentu,
atau sekadar merasa memiliki kendali atas waktu.
Setelah mengetahui kebutuhan sebenarnya, Anda dapat mencari cara untuk memenuhinya lebih awal.
Jika masalahnya adalah kurangnya waktu pribadi, sisihkan waktu pribadi sebelum malam terlalu larut.
Jika masalahnya adalah stres, buat ritual relaksasi yang membantu transisi dari aktivitas ke istirahat.
Jika masalahnya adalah penggunaan ponsel, buat batas waktu yang realistis dan kurangi rangsangan menjelang tidur.
Jika masalahnya adalah pikiran yang terus berputar, menuliskan kekhawatiran atau hal-hal yang perlu dilakukan keesokan hari dapat membantu mengeluarkannya dari kepala sebelum berbaring.
Yang terpenting, jangan hanya berusaha "mengalahkan" kebiasaan tanpa memahami fungsi kebiasaan tersebut.
Sebuah kebiasaan biasanya bertahan karena memberikan sesuatu.
Jika Anda menghilangkan kebiasaan tanpa mengganti kebutuhan yang dipenuhinya, kemungkinan besar Anda akan kembali melakukannya.
Kesimpulan
Keengganan untuk tidur meskipun malam sudah larut bukan selalu persoalan sederhana seperti malas atau tidak disiplin.
Bagi sebagian orang, malam adalah satu-satunya waktu ketika mereka merasa bebas dari tuntutan. Bagi yang lain, tidur berarti harus menghadapi hari berikutnya. Ada pula yang terus terjaga karena mencari kesenangan, menghindari pikiran yang tidak nyaman, atau sekadar mengikuti kebiasaan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
Dalam banyak kasus, perilaku tersebut dapat dipahami sebagai usaha seseorang untuk memenuhi kebutuhan psikologis tertentu—seperti kebebasan, kendali, relaksasi, hiburan, atau ketenangan emosional.
Ironisnya, cara tersebut justru dapat menciptakan masalah baru apabila dilakukan terus-menerus.
Karena itu, daripada hanya bertanya:
"Mengapa saya tidak bisa tidur lebih awal?"
mungkin pertanyaan yang lebih berguna adalah:
"Apa yang sebenarnya saya cari ketika saya memilih tetap terjaga?"
Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membantu seseorang memahami dirinya sendiri dengan lebih baik.
Sebab, terkadang yang kita hindari bukanlah tidur.
Kita mungkin sedang berusaha memperpanjang sedikit waktu untuk diri sendiri sebelum menghadapi dunia lagi keesokan harinya.