
Ilustrasi Ethereum. (Dhimas Ginanjar/Dall E/JawaPos.com)
JawaPos.com – Ethereum harus menutup bulan Maret dengan catatan suram. Altcoin terbesar kedua di pasar kripto ini mencatat salah satu performa kuartal pertama terburuk sepanjang sejarahnya, dengan penurunan hampir 50 persen dalam tiga bulan terakhir.
Harga Ethereum saat ini berada sedikit di atas USD 1.800 atau sekitar Rp 29,5 juta, melemah lebih dari 3 persen dalam 24 jam terakhir.
Dikutip dari Bitcoinist, Minggu (30/3), laporan terbaru dari Bloomberg menggarisbawahi sejumlah masalah mendasar dalam ekosistem Ethereum yang membuatnya semakin tertinggal dari Bitcoin.
Padahal, sejak diluncurkan pada Juli 2015, Ethereum digadang-gadang sebagai pesaing utama Bitcoin dan sempat merebut perhatian dunia kripto berkat fitur smart contract dan ekosistem DeFi.
Namun, memasuki dekade kedua usianya, Ethereum justru dinilai gagal memenuhi ekspektasi awal.
Bloomberg menyebut bahwa meskipun iklim regulasi kripto global mulai membaik setelah kemenangan Donald Trump dalam pemilu Amerika Serikat—dengan kebijakan yang lebih ramah terhadap aset digital—hal itu belum cukup untuk menyelamatkan Ethereum dari tekanan.
Salah satu faktor utama yang disorot adalah menurunnya jumlah pengembang aktif dalam jaringan Ethereum.
Data dari Electric Capital menunjukkan bahwa sepanjang 2024 terjadi eksodus signifikan pengembang dari platform ini. Di saat yang sama, pesaing seperti Solana justru menunjukkan tren sebaliknya.
Jumlah pengembang di jaringan Solana tumbuh 83 persen secara tahunan, menandakan kepercayaan yang meningkat terhadap ekosistem tersebut.
Bloomberg juga mengkritik cara Ethereum Foundation (EF) mengelola proyek ini. Salah satunya adalah kebijakan memindahkan sebagian besar aktivitas ke jaringan layer-2 untuk mengurangi biaya transaksi.
Meski langkah ini mendukung efisiensi pengguna, justru membuat volume dan biaya transaksi di jaringan utama Ethereum menurun drastis.
Bank investasi Standard Chartered bahkan menilai bahwa migrasi aktivitas tersebut turut menurunkan ekspektasi terhadap harga ETH karena dampaknya terhadap pendapatan jaringan inti.
Dengan tekanan internal seperti menurunnya aktivitas pengembang dan ketidakpastian arah strategi, Ethereum kini tengah berjuang mencari titik terendah baru dalam lebih dari setahun terakhir.
Di tengah dominasi Bitcoin dan kebangkitan altcoin lain seperti Solana, Ethereum kini perlu lebih dari sekadar dukungan regulasi untuk bisa kembali bersaing dalam lanskap kripto global.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
