
Ilustrasi orang yang gemar pamer kemewahan.
JawaPos.com - Semakin canggihnya akses media sosial saat ini sangat memudahkan seseorang untuk mengunggah segala kehidupannya, baik itu hal menyedihkan maupun menyenangkan.
Seringkali kita digemparkan oleh media sosial dengan kabar menyedihkan seperti isu perselingkuhan yang membuat kita takut menjalani sebuah hubungan, ada pula yang mengunggah kemewahan sehingga mengurangi rasa syukur kita terhadap kehidupan saat ini.
Padahal media sosial tidak mencerminkan murni 100 persen tentang kehidupan seseorang, banyak dari mereka untuk memiliki tujuan tertentu ketika mengunggah sesuatu. Bisa karena ingin viral, dipuji, atau diperhatikan oleh semua orang.
Namun, perlu diperhatikan bahwa jika kita tidak memiliki batasan untuk mengunggah sesuatu di media sosial, bisa berakibat fatal dan membuat pandangan orang lain menjadi negatif. Seperti halnya ketika seseorang gemar flexing kemewahan di media sosial.
Mengutip dari laman Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara, menurut psikologi, kepribadian seseorang yang suka gemar flexing kemewahan adalah senang dilihat, seneng menjadi pusat perhatian, serta suka menonjolkan sesuatu yang mereka miliki.
Seseorang yang gemar flexing kemewahan di media sosial akan merasa senang mendengar pujian, pengakuan dari orang lain, dan hal yang paling mendominasi saat ini adalah mereka hanya flexing soal harta bukan prestasi.
Melansir dari laman Psikologi Universitas Medan Area, di era serba canggih ini sulit bagi setiap orang untuk tidak flexing. Pada umumnya, di dalam dunia maya seseorang ingin digambarkan menjadi hal yang menarik, memilik kekayaan, atau kecantikan.
Sikap gemar flexing kemewahan ini tentunya sering menjadi masalah, hal ini disebabkan ketika kita menceritakan kesenangan dalam diri sendiri belum tentu orang lain menanggapinya dengan baik.
Khususnya ketika kehidupan di media sosial itu berbanding terbalik dengan dunia nyata, tanggapan seseorang juga akan berbeda, bukannya senang malah menjelek-jelekkan dari belakang.
Terlebih saat kamu gemar flexing kemewahan, entah ada orang yang mengetahui bagaimana caramu mencari uang, ada pihak yang pernah kamu tipu, atau mungkin dirimu sempat memiliki utang pada mereka.
Maka sebagai pengguna media sosial, sebaiknya kita perlu bijak hal untuk mengelola konten yang diunggah di media sosial, serta tidak berdampak buruk pada diri sendiri.
Dari fenomena flexing kemewahan ini, sejatinya kita harus dapat lebih jeli dalam menentukan hal yang kita butuhkan, karena dorongan kebutuhan pada dasarnya dapat mempengaruhi kepribadian individu tersebut.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
