Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 November 2024 | 03.04 WIB

Pamer Kesedihan di Media Sosial, Mengenal Sadfishing pada Remaja dan Peran Orang Tua akan Kondisi Ini

Ilustrasi sadfishing/freepik.com - Image

Ilustrasi sadfishing/freepik.com

JawaPos.com - Media sosial kini menjadi bagian penting dalam kehidupan remaja, tetapi perubahan fungsinya dari alat sederhana untuk terhubung menjadi berbeda saat berbagai konten bertaburan dan perlu adanya filter sebelum mengonsumsinya.

Seperti munculnya tren sadfishing, di mana remaja melebih-lebihkan emosi mereka secara daring guna menarik simpati. Ini bisa berupa foto sedih atau kutipan mengharukan.

Walapun berbagi momen rentan itu wajar, namun jika dilakukan secara berlebihan, ini bisa menjadi indikasi masalah kesehatan mental atau tanda mereka buruh pertolongan.

Kecemasan, depresi, dan kurangnya dukungan sosial menjadi faktor yang memengaruhi fenomena ini. Mengutip parents.com, berikut ini asal mula, alasan hingga peran orang tua terkait tren sadfishing yang dilakukan para remaja.

Asal Mula Sadfishing

Istilah sadfishing diciptakan oleh jurnalis Rebecca Reid pada tahun 2019 usai Kendall Jenner membuat unggahan Instagram yang kontroversial. Dalam postingan tersebut, Jenner berbicara tentang perjuangan yang melelahkan dalam melawan jerawat. Unggah tersebut mendapatkan banyak tanggapan simpati dari pengikutnya.

Sayangnya, pada akhirnya terungkap bahwa unggahan tersebut sebenarnya merupakan bagian dari strategi pemasaran untuk kemitraan perawatan kulitnya dengan Proactiv. Reid kemudian menilai perilaku Jenner sebagai contoh sadfishing.

Mengapa Remaja melakukan Sadfishing?

Para ahli menyatakan bahwa sadfishing sering terjadi ketika seorang anak atau remaja sedang menghadapi kesulitan dan ingin membagikan perasaan mereka. Banyak dari mereka merasa tidak punya seseorang yang dapat dipercayai untuk berbagi, sehingga mereka beralih ke media sosial.

Sebuah studi tahun 2023 yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Psychology menemukan bahwa remaja yang terlibat dalam sadfishing cenderung menunjukkan tanda-tanda kecemasan dan depresi, dengan rendahnya dukungan sosial sebagai faktor utama.

Peneliti juga mencatat bahwa anak laki-laki melaporkan kecenderungan sadfishing yang lebih tinggi pada usia 12 tahun, tetapi kecenderungan ini menurun seiring bertambahnya usia. Sebaliknya, bagi anak perempuan, kecenderungan ini meningkat seiring bertambahnya usia.

Studi lain yang lebih baru menunjukkan bahwa sadfishing juga terjadi pada orang yang kesulitan mengatasi masalah kompleks atau memakai media sosial secara tidak sadar. Penelitian tersebut menemukan bahwa mereka yang memiliki perilaku mencari perhatian akibat gangguan kepribadian lebih cenderung melakukan sadfishing.

Dampak Sadfishing

Peneliti menemukan bahwa umumnya respons terhadap postingan sadfishing bersifat positif dan mendukung. Namun, dalam beberapa situasi, respons negatif bisa muncul hingga meningkatkan stres atau kecemasan. Apabila unggahan tidak memperoleh simpati, hal ini bisa menyebabkan ejekan, terutama jika unggahan itu tulus.

Meskipun respons apa pun bisa membuat remaja merasa diperhatikan, hal ini juga dapat membuat mereka rentan terhadap pelanggaran privasi dan perilaku predator. Selain itu, beberapa interaksi di media sosial telah dihubungkan dengan tindakan menyakiti diri sendiri.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore