Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 13 Desember 2024 | 17.20 WIB

Pasangan yang Menuju Perceraian Sebelum Usia 40 Tahun, Sering Menunjukkan 8 Perilaku Halus Ini Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang memiliki hubungan yang menuju perceraian di usia sebelum 40 tahun. (freepik) - Image

Ilustrasi seseorang yang memiliki hubungan yang menuju perceraian di usia sebelum 40 tahun. (freepik)

JawaPos.com - Perceraian di usia muda bukanlah hal yang jarang terjadi. Banyak pasangan yang menikah di usia 20-an atau awal 30-an menghadapi tantangan yang dapat menggoyahkan fondasi pernikahan mereka.

Terkadang, tanda-tanda bahwa hubungan tersebut sedang dalam bahaya muncul secara halus, tanpa disadari oleh kedua belah pihak.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (13/12), terdapat delapan perilaku halus yang sering ditunjukkan oleh pasangan yang menuju perceraian sebelum usia 40 tahun, menurut psikologi dan pengalaman banyak konselor pernikahan.

1. Kurangnya Komunikasi yang Bermakna

Komunikasi adalah inti dari hubungan yang sehat. Pasangan yang mulai menghindari percakapan mendalam, lebih banyak berbicara tentang hal-hal sepele, atau bahkan lebih sering diam daripada berbicara, biasanya berada di zona bahaya.

Ketidakmampuan untuk berbagi pikiran dan perasaan menciptakan jarak emosional yang sulit dijembatani.

2. Mengutamakan Aktivitas Individu daripada Kebersamaan

Ketika salah satu atau kedua pasangan lebih sering menghabiskan waktu untuk hobi, pekerjaan, atau teman tanpa melibatkan pasangannya, ini bisa menjadi tanda bahwa hubungan mereka mulai kehilangan keintiman.

Pasangan yang harmonis biasanya menjaga keseimbangan antara waktu pribadi dan waktu bersama.

3. Sikap Apatis terhadap Konflik

Berbeda dengan pasangan yang sering bertengkar, pasangan yang menuju perceraian seringkali menunjukkan sikap apatis terhadap konflik.

Mereka berhenti peduli, tidak mau membahas masalah, atau menganggap semua sudah terlambat untuk diperbaiki. Apatisme adalah musuh terbesar dari upaya rekonsiliasi.

4. Kritik yang Berlebihan

Kritik yang terus-menerus, terutama yang menyentuh aspek pribadi seperti karakter, nilai, atau gaya hidup, dapat merusak harga diri pasangan.

Jika kritik menjadi pola yang sering terjadi tanpa adanya penghargaan atau pujian, hubungan akan terasa seperti medan perang daripada tempat yang aman.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore