Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 31 Januari 2025 | 17.03 WIB

Orang-orang yang Sering Overthinking dan Merasa Cemas Biasanya Memiliki 7 Pengalaman Masa Kecil Berikut

Ilustrasi orang yang overthinking dan cemas (freepik) - Image

Ilustrasi orang yang overthinking dan cemas (freepik)

JawaPos.com - Overthinking dan anxiety atau kecemasan sering kali berjalan beriringan. Dan lebih seringnya, akar keduanya dapat ditelusuri kembali ke pengalaman masa kecil kita.

Banyak orang tidak menyadarinya, tetapi pengalaman masa kecil tertentu dapat menjadi pemicu pemikiran berlebihan dan kecemasan seumur hidup.

Faktanya, ada tujuh pengalaman spesifik di masa kecil yang umum ditemukan pada mereka yang kerap berjuang melawan overthinking dan rasa cemas.

Dilansir JawaPos.com dari laman Hack Spirit, Jumat (31/1), berikut tujuh pengalaman masa kecil yang biasanya dimiliki oleh orang-orang yang sering overthinking dan merasa cemas.

1. Harapan yang tinggi

Bukan rahasia lagi bahwa orangtua kita memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan kita. Dan salah satu cara untuk mewujudkannya adalah melalui harapan yang mereka berikan kepada kita.

Banyak individu yang berjuang melawan overthinking dan kecemasan, sering kali melaporkan tumbuh dalam lingkungan di mana ekspektasi tinggi merupakan norma. Entah itu meraih nilai A, unggul dalam olahraga, atau menjadi anak yang sempurna.

Harapan-harapan ini dapat menanam benih-benih kecemasan. Tekanan untuk terus-menerus tampil baik dapat menyebabkan siklus berpikir berlebihan, saat kita berusaha memenuhi harapan tersebut.

Kita mulai meragukan setiap keputusan, mengkhawatirkan potensi kegagalan atau kesalahan. Penting untuk diingat bahwa memiliki ekspektasi yang tinggi tidak selalu merupakan hal yang buruk.

Masalah muncul ketika anak-anak merasa mereka hanya dihargai atau dicintai berdasarkan prestasi mereka. Hal ini dapat membentuk pola pikir berlebihan dan kecemasan seumur hidup. Memahami hal ini dapat membantu kita memutus siklus tersebut dan menemukan cara yang lebih sehat untuk menghadapi tekanan dan ekspektasi.

2. Pembatalan emosional

Tumbuh dalam lingkungan di mana emosi tidak dianggap serius dapat meninggalkan dampak yang bertahan lama. Sebagai orang dewasa, hal ini sering kali berujung pada pikiran yang berlebihan.

Setiap emosi dianalisis, 'Apakah saya benar-benar kesal, atau saya hanya bersikap dramatis?' Mereka ragu untuk mengekspresikan diri, karena takut diabaikan atau dihakimi. Alih-alih memercayai insting mereka, mereka mencari validasi eksternal.

Memutar ulang situasi dalam pikiran mereka untuk mencari tahu apakah perasaan mereka dapat dibenarkan. Keraguan diri yang terus-menerus ini memicu kecemasan. Alih-alih bereaksi secara alami, setiap pemikiran berubah menjadi perdebatan yang tidak pernah benar-benar berakhir.

3. Kurangnya kesadaran

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore