
Ilustrasi seseorang yang sedang tersenyum sinis atau memberikan pujian palsu, yang melambangkan kebencian tersembunyi./Freepik
JawaPos.com - Beberapa orang mungkin mengalami ini: menerima pujian tetapi disertai dengan perasaan yang nyaman. Sering kali, kesulitan menerima pujian ini berakar dari pengalaman saat masa kecil.
Pengalaman dan interaksi masa lalu mungkin telah membentuk reaksi kita saat mendapatkan afirmasi positif ketika dewasa. Dilansir dari Blog Herald, inilah tujuh pengalaman masa kecil yang mungkin menjelaskan mengapa Anda sulit menerima pujian.
Memahami perasaan ini untuk membantu Anda menyambut masa depan dengan sedikit lebih mencintai dan menerima diri sendiri.
1. Pujian bersyarat
Saat masih anak-anak, beberapa orang nampaknya sering kali menerima pujian setelah melakukan sesuatu. Mereka mungkin mendengar, "Bagus sekali, kamu anak yang pintar!" setelah lulus ujian atau "Kamu sangat membantu!" setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.
Pujian seperti itu, meskipun tampaknya positif namun bersifat kondisional. Pujian itu datang bergantung pada apa yang anak-anak lakukan, bukan siapa kita. Bila pujian sering kali dikaitkan dengan kinerja atau perilaku, anak-anak itu akan mulai mengaitkan pujian dengan syarat.
Hal ini menyebabkan mereka kesulitan menerima pujian dalam kehidupan dewasa karena selalu menunggu hasilnya atau syarat yang menyertainya.
2. Penguatan negatif
Orang dewasa ini tumbuh dengan masa anak-anak di mana orang tuanya mengatakan: “Kamu hanya bermain bagus karena kakakmu membantu kamu,” atau “Kamu tidak akan menang jika tim lain bermain lebih baik.”
Komentar semacan ini meskipun tidak bermaksud menyakiti dapat meninggalkan dampak yang bertahan lama, bahkan hingga mereka dewasa. Umpan balik semacan ini dapat membuatnya merasa bahwa pencapaian bukanlah benar-benar milik kita sendiri, melainkan hasil dari faktor situasional atau orang lain.
Akibatnya, mereka mulai meragukan diri sendiri dan kemampuannya. Pujian apapun rasanya tidak pantas atau palsu karena kita telah dikondisikan untuk percaya bahwa kita bukanlah alasan sebenarnya untuk kesuksesan kita.
3. Kurangnya umpan balik positif
Di beberapa keluarga, penguatan positif jarang terjadi. Pujian bukan bagian dari interaksi sehari-hari. Menurut sebuah penelitian, anak-anak yang menerima sedikit atau tidak sama sekali umpan balik positif cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang berjuang dengan masalah harga diri.
Tumbuh dalam lingkungan seperti itu dapat membuat kita tidak terbiasa dan tidak nyaman menerima pujian. Kita bahkan mungkin mulai tidak memercayai pujian, menganggapnya tidak tulus atau memiliki motif tersembunyi.
4. Harapan yang tinggi
Beberapa dari kita tumbuh dalam lingkungan yang standarnya sangat tinggi. Kita diharapkan untuk unggul dalam segala hal yang kita lakukan, dan apa pun yang kurang dari itu dianggap sebagai kegagalan.
Jika Anda tinggal di rumah yang menganggap mendapat nilai "A" sebagai norma dan nilai di bawah itu tidak dapat diterima, mungkin sulit untuk menerima pujian atas prestasi biasa. Anda mungkin merasa tidak melakukan sesuatu yang istimewa atau tidak layak dipuji.
Pola asuh seperti ini dapat menyebabkan kita meremehkan prestasi kita dan menolak pujian, karena kita telah dikondisikan untuk percaya bahwa kita harus selalu melakukan lebih banyak atau lebih baik.
5. Takut sombong
Mereka mungkin adalah anak-anak yang sering diberitahu, "Jangan sombong" setiap kali menerima pujian. Lama-kelamaan, hal ini membuatnya takut bahwa menerima pujian akan membuat mereka terlihat sombong atau angkuh.
Banyak dari kita yang pernah mengalami pola asuh seperti ini, di mana kesopanan sangat dihargai, dan pujian terhadap diri sendiri dipandang sebelah mata. Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan dalam menerima pujian karena kita takut terlihat sombong atau merasa hebat.
6. Kurangnya rasa cinta pada diri sendiri
Saat tumbuh dewasa, jika cinta dan validasi sebagian besar datang dari sumber eksternal, kita mungkin mengabaikan pentingnya mencintai diri sendiri dan validasi diri sendiri.
Dalam keluarga di mana anak-anak tidak didorong untuk menghargai pencapaian dan kelebihan mereka sendiri, maka tidak adanya rasa cinta pada diri sendiri pun terjadi.
Sebagai orang dewasa, hal ini dapat terwujud sebagai ketidaknyamanan terhadap pujian. Kita mungkin merasa sulit menerima pujian karena kita belum belajar menghargai diri sendiri tanpa bergantung pada validasi eksternal.
7. Menurunkan harga diri
Mungkin pengalaman masa kecil yang paling merusak adalah kritikan atau hinaan terus-menerus. Paparan komentar negatif secara terus-menerus dapat menurunkan harga diri anak dan membuat mereka mempertanyakan nilai diri mereka.
Sebagai orang dewasa, hal ini dapat mengakibatkan ketidakmampuan menerima pujian. Kita mungkin merasa tidak pantas dipuji atau berpikir bahwa orang yang memuji kita hanya bersikap sopan atau tidak bersungguh-sungguh.
