Ilustrasi, generasi milenial dan Gen Z di tempat kerja. Magnific/ DC Studio.
JawaPos.com - Terjadi pergeseran nilai, prinsip, dan cara pandang antara generasi milenial dengan Gen Z, termasuk di tempat kerja.
Hal ini membuat etos kerja yang dimiliki generasi milenial sering kali disalahpahami oleh Gen Z.
Padahal, beberapa etos kerja menjadi bekal penting untuk menjaga produktivitas, konsistensi, dan kesuksesan jangka panjang dalam karier.
Dilansir JawaPos.com dari yourtango pada Jumat (5/6), berikut ini enam etos kerja generasi milenial yang kerap disalahpahami oleh Gen Z menurut ahli.
1. Fokus
Etos kerja pertama yang sering tak dipahami oleh Gen Z adalah tentang fokus.
Gen Z cenderung melebih-lebihkan fokus dalam bekerja yang membuat mereka semakin menutup diri.
Padahal, memaksa diri lebih produktif justru membuat seseorang menjadi kurang produktif.
Jadi, ketika menemui jalan buntu, tidak apa-apa menjauh dari tugas yang sedang dikerjakan dan kembali saat kondisi pikiran lebih baik.
Psikolog Dr. Sherrie Bourg Carter mengungkapkan, mulailah dari tempat yang bebas tekanan, seperti kelelahan, stres, serta kecemasan yang tidak ditangani.
Jika terus dikerjakan, maka hanya akan menghasilkan hasil yang dipaksakan.
2. Pola Pikir
Etos kerja selanjutnya yang disalahpahami Gen Z, yaitu terkait pola pikir.
Banyak diantara Gen Z yang terperangkap oleh cerita-cerita negatif tentang diri sendiri, seperti 'Saya selalu malas'.
Padahal, kata-kata tersebut hanya akan menyabotase diri sendiri dan menghambat mereka dari apa pun.
Menurut psikolog klinis Dr. Michael P. Leiter, sikap sinis terhadap diri sendiri berdampak kuat merusak perasaan yang pada akhirnya berpengaruh pada nilai pekerjaan seseorang yang seharusnya menjadi motivasi untuk melewati masa-masa sulit.
Jadi, lebih baik berorientasi pada tindakan dan biarkan tindakan membentuk identitas baru, bukan cerita lama tentang diri mereka.
3. Motivasi
Gen Z berpikir bahwa menyelesaikan pekerjaan itu butuh motivasi. Sementara mereka tidak melakukan apa-apa untuk menumbuhkan motivasi itu.
Padahal, motivasi memerlukan alasan untuk termotivasi dan hanya individu yang bersangkutan-lah yang bisa menciptakan alasan tersebut.
Lalu, menuliskan alasan akan memunculkan antusiasme yang membuat seseorang bangkit dari kursi malas.
4. Multitasking
Banyak dari Gen Z yang melakukan beberapa hal secara bersamaan saat daftar tugas begitu banyak.
Padahal, multitasking tidak pernah berhasil dan melakukan banyak hal sekaligus hanya akan mempersulit keadaan.
Sadarlah kalau seseorang hanya dapat melakukan satu hal dalam satu waktu tanpa gangguan dari lingkungan dan pikiran lain.
Bedakan antara 'mendesak' dan 'penting'.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Prediksi Skor Fiorentina vs Napoli: Peluang I Partenopei Petik 3 Poin di Stadion Artemio Franchi
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Real Betis di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Menang Lagi
Prediksi Skor Getafe vs Malaga di Liga Spanyol: Azulones Libas Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Villarreal vs Levante di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Libas Tim Tamu
Prediksi Skor Schalke 04 vs Elversberg di Liga Jerman: Duel Tim Papan Tengah Rawan Imbang
Prediksi Skor Parma vs Genoa di Liga Italia: Duel Tim Papan Bawah Berakhir Imbang
Prediksi Skor FC Twente vs PSV Eindhoven: Pemuncak Klasemen Berpeluang Pesta Gol

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022