Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 22 Agustus 2026 | 01.20 WIB

Jika Anda Ingin Berusaha Mengubah Cara Kerja Dunia, Ubahlah 7 Pola Pikir Ini Menurut Psikologi

seseorang yang berusaha mengubah pola pikir. (Magnific)

 

 
 
JawaPos.com - Ada orang yang menjalani hidup dengan mengikuti aturan yang sudah ada. Mereka bekerja sesuai sistem, berpikir sesuai kebiasaan, dan menerima keadaan sebagaimana adanya.

Namun, ada pula orang yang melihat dunia dengan cara berbeda.

Mereka melihat sesuatu yang dianggap biasa oleh orang lain, lalu bertanya, “Mengapa harus selalu seperti ini?”

Pertanyaan sederhana tersebut sering menjadi awal dari perubahan besar.

Hampir setiap perubahan yang berarti dalam kehidupan manusia berawal dari perubahan cara berpikir. Sebelum seseorang menciptakan teknologi baru, membangun bisnis yang berbeda, menemukan metode kerja yang lebih efektif, atau mengubah sebuah sistem, biasanya ada satu hal yang berubah terlebih dahulu: cara ia memandang masalah.

Psikologi menunjukkan bahwa pola pikir memengaruhi cara seseorang menafsirkan kegagalan, menghadapi ketidakpastian, mengambil keputusan, belajar, dan bertindak. Karena itu, jika Anda ingin menghasilkan sesuatu yang benar-benar berbeda—bahkan jika tujuan Anda adalah ikut mengubah cara kerja dunia—Anda tidak cukup hanya bekerja lebih keras.

Anda perlu berpikir dengan cara yang berbeda.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (21/8), terdapat tujuh pola pikir yang layak dikembangkan.

1. Berhenti Bertanya “Apa yang Ada?”, Mulailah Bertanya “Apa yang Mungkin Ada?”

Salah satu hambatan terbesar manusia bukan kurangnya kemampuan, melainkan terlalu cepat menerima keadaan sebagai sesuatu yang permanen.

Kita sering melihat sebuah sistem dan berpikir:

“Memang dari dulu seperti itu.”

“Semua orang melakukannya dengan cara tersebut.”

“Tidak mungkin dibuat lebih sederhana.”

“Memang beginilah dunia bekerja.”

Masalahnya, sesuatu yang sudah lama dilakukan bukan berarti sesuatu tersebut merupakan cara terbaik.

Psikologi kognitif mengenal berbagai bentuk bias yang membuat manusia cenderung mempertahankan cara berpikir yang sudah familiar. Salah satunya berkaitan dengan status quo bias, yaitu kecenderungan untuk lebih nyaman mempertahankan keadaan yang sudah ada dibandingkan menghadapi perubahan.

Inilah sebabnya mengapa perubahan sering terasa tidak nyaman.

Bukan karena perubahan selalu buruk, tetapi karena otak manusia menyukai sesuatu yang dapat diprediksi.

Orang yang ingin menciptakan perubahan perlu melatih dirinya untuk melihat dunia bukan hanya sebagaimana adanya, tetapi juga sebagaimana seharusnya bisa terjadi.

Alih-alih bertanya:

“Bagaimana orang biasanya menyelesaikan masalah ini?”

cobalah bertanya:

“Kalau saya tidak terikat oleh cara lama, bagaimana saya akan menyelesaikannya?”

Pertanyaan kedua membuka ruang kreativitas.

Banyak inovasi lahir bukan karena seseorang menemukan masalah baru, tetapi karena seseorang berani mempertanyakan solusi lama.

Anda tidak harus langsung menciptakan sesuatu yang revolusioner. Mulailah dari hal sederhana.

Jika sebuah pekerjaan membutuhkan sepuluh langkah, tanyakan apakah bisa menjadi lima.

Jika sebuah proses membutuhkan satu minggu, tanyakan apakah bisa menjadi satu hari.

Jika orang selama bertahun-tahun mengeluhkan masalah yang sama, tanyakan mengapa belum ada solusi yang lebih baik.

Perubahan besar sering dimulai dari keberanian untuk mempertanyakan sesuatu yang dianggap normal.

2. Gantilah Pola Pikir “Saya Harus Benar” Menjadi “Saya Harus Mau Belajar”

Ini salah satu perubahan mental yang paling penting.

Ada perbedaan besar antara orang yang ingin terlihat pintar dan orang yang benar-benar ingin berkembang.

Orang yang ingin terlihat pintar cenderung mempertahankan pendapatnya.

Ketika dikritik, ia mencari alasan.

Ketika gagal, ia mencari kambing hitam.

Ketika menemukan informasi yang bertentangan dengan keyakinannya, ia cenderung menolaknya.

Sebaliknya, orang yang berorientasi pada pembelajaran bertanya:

“Apa yang bisa saya pelajari dari hal ini?”

Dalam psikologi, gagasan tentang growth mindset yang dipopulerkan Carol Dweck menekankan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui pembelajaran, usaha, strategi, dan pengalaman. Ini berbeda dengan pola pikir yang menganggap kemampuan sebagai sesuatu yang relatif tetap.

Perbedaannya terlihat jelas ketika seseorang menghadapi kegagalan.

Orang dengan pola pikir tetap mungkin berpikir:

“Saya gagal. Berarti saya memang tidak berbakat.”

Orang dengan orientasi berkembang lebih mungkin berpikir:

“Cara saya belum berhasil. Apa yang harus saya ubah?”

Perbedaannya hanya beberapa kata, tetapi konsekuensinya sangat besar.

Kalimat pertama menutup kemungkinan.

Kalimat kedua membuka eksperimen.

Jika Anda ingin mengubah sesuatu yang besar, Anda harus bersedia menjadi pemula berkali-kali.

Anda mungkin akan membuat keputusan yang salah.

Produk pertama Anda mungkin gagal.

Ide pertama Anda mungkin ditolak.

Strategi pertama Anda mungkin tidak bekerja.

Dan itu bukan masalah.

Masalah sebenarnya adalah ketika ego membuat Anda tidak mau belajar dari semuanya.

Jangan menjadikan kesalahan sebagai identitas. Jadikan kesalahan sebagai data.

3. Jangan Takut pada Kegagalan, Takutlah pada Tidak Pernah Mencoba

Banyak orang ingin menghasilkan sesuatu yang besar, tetapi mereka menginginkan kepastian terlebih dahulu.

Mereka ingin tahu bahwa ide tersebut akan berhasil.

Mereka ingin tahu bahwa orang lain akan menyukainya.

Mereka ingin tahu bahwa tidak ada risiko.

Mereka ingin tahu bahwa mereka tidak akan terlihat bodoh.

Sayangnya, dunia tidak bekerja seperti itu.

Ketika Anda mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan, selalu ada ketidakpastian.

Karena itu, pola pikir yang lebih sehat bukan:

“Bagaimana saya memastikan agar tidak gagal?”

melainkan:

“Bagaimana saya membuat kegagalan menjadi murah dan pembelajaran menjadi cepat?”

Ini merupakan cara berpikir eksperimental.

Anda membuat hipotesis.

Anda mencoba.

Anda mengamati hasilnya.

Anda belajar.

Kemudian Anda memperbaiki pendekatan.

Orang yang berpikir seperti ini tidak melihat kegagalan sebagai akhir dari perjalanan. Kegagalan adalah bagian dari proses memperoleh informasi.

Bayangkan seseorang ingin menciptakan produk baru.

Ia bisa menghabiskan bertahun-tahun menyempurnakan produknya secara diam-diam karena takut menerima kritik.

Atau ia bisa membuat versi sederhana, memberikannya kepada beberapa orang, menerima masukan, lalu memperbaikinya.

Pendekatan kedua mungkin menghasilkan lebih banyak kesalahan.

Tetapi ia juga menghasilkan lebih banyak informasi.

Dan informasi adalah bahan bakar bagi perbaikan.

Jika Anda ingin menciptakan sesuatu yang belum ada, jangan menunggu sampai semuanya sempurna.

Mulailah dengan versi yang bisa diuji.

4. Berhentilah Mencari Validasi dari Semua Orang

Ada sebuah perangkap psikologis yang sangat halus:

keinginan untuk disukai.

Manusia adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan penerimaan, hubungan, dan rasa memiliki. Karena itu, pendapat orang lain secara alami memengaruhi keputusan kita.

Namun, jika keinginan untuk diterima menjadi terlalu dominan, kreativitas bisa mati.

Sebab ketika Anda memiliki ide yang berbeda, kemungkinan besar akan ada orang yang tidak memahaminya.

Bahkan, jika ide tersebut benar-benar baru, mungkin pada awalnya memang terlihat aneh.

Bayangkan seseorang membawa gagasan baru kepada sepuluh orang.

Delapan orang mengatakan, “Tidak akan berhasil.”

Apakah itu otomatis berarti idenya buruk?

Tidak.

Namun, bukan berarti semua kritik harus diabaikan.

Di sinilah pentingnya membedakan kritik yang berguna dengan penolakan yang hanya berasal dari ketidakbiasaan.

Tanyakan:

“Apakah orang ini menunjukkan masalah yang konkret?”

“Apakah ada bukti yang mendukung kritik tersebut?”

“Apakah kritik ini membantu saya memperbaiki ide?”

Jika jawabannya ya, dengarkan.

Tetapi jika seseorang hanya mengatakan, “Itu tidak biasa,” jangan langsung menganggap bahwa sesuatu yang tidak biasa berarti sesuatu yang salah.

Perubahan membutuhkan kemampuan untuk tetap berpikir mandiri tanpa menjadi keras kepala.

Anda harus bisa mengatakan:

“Saya mendengar pendapat Anda, tetapi saya tetap akan memeriksa buktinya sendiri.”

Itulah bentuk kemandirian berpikir.

5. Latih Diri untuk Berpikir Jangka Panjang

Dunia modern membuat manusia terbiasa dengan hasil cepat.

Kita menginginkan respons cepat.

Pertumbuhan cepat.

Keuntungan cepat.

Popularitas cepat.

Masalahnya, banyak hal yang benar-benar bernilai membutuhkan waktu.

Keahlian membutuhkan waktu.

Reputasi membutuhkan waktu.

Kepercayaan membutuhkan waktu.

Inovasi membutuhkan waktu.

Bahkan perubahan besar dalam masyarakat biasanya bukan hasil dari satu tindakan spektakuler, tetapi akumulasi dari ribuan tindakan kecil.

Karena itu, jika Anda ingin menciptakan sesuatu yang besar, Anda perlu mengembangkan kemampuan untuk menunda kepuasan.

Secara psikologis, kemampuan untuk mengendalikan impuls dan mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang merupakan bagian penting dari pengaturan diri.

Pola pikir jangka pendek bertanya:

“Apa yang saya dapatkan sekarang?”

Pola pikir jangka panjang bertanya:

“Apa yang sedang saya bangun?”

Pertanyaan kedua jauh lebih kuat.

Misalnya, daripada bertanya:

“Bagaimana saya mendapatkan uang sebanyak mungkin bulan ini?”

Anda bisa bertanya:

“Keahlian apa yang jika saya bangun selama lima tahun akan membuat nilai saya jauh lebih tinggi?”

Daripada bertanya:

“Bagaimana agar orang menyukai saya hari ini?”

Anda bisa bertanya:

“Bagaimana saya membangun reputasi sebagai orang yang dapat dipercaya dalam jangka panjang?”

Perubahan besar jarang dibangun dalam satu malam.

Ia dibangun oleh orang-orang yang bersedia melakukan pekerjaan kecil secara konsisten ketika belum ada yang melihat hasilnya.

6. Belajarlah Melihat Masalah sebagai Kesempatan

Kebanyakan orang melihat masalah sebagai sesuatu yang harus dihindari.

Orang yang memiliki pola pikir inovatif justru sering melihat masalah sebagai petunjuk.

Ketika banyak orang mengeluh tentang sesuatu, mereka melihat gangguan.

Seorang pemecah masalah melihat kemungkinan.

Ketika orang mengatakan:

“Ini terlalu rumit.”

Ia bertanya:

“Mengapa ini begitu rumit?”

Ketika orang mengatakan:

“Tidak ada cara yang lebih murah.”

Ia bertanya:

“Apa yang membuatnya mahal?”

Ketika orang mengatakan:

“Memang seperti itu.”

Ia bertanya:

“Mengapa?”

Pertanyaan “mengapa” sangat sederhana, tetapi dapat membuka lapisan masalah yang sebelumnya tidak terlihat.

Namun, melihat masalah sebagai peluang bukan berarti berpura-pura bahwa masalah itu menyenangkan.

Masalah tetap bisa sulit.

Kegagalan tetap bisa menyakitkan.

Ketidakpastian tetap bisa membuat takut.

Yang berubah adalah cara Anda memberikan makna terhadap pengalaman tersebut.

Daripada berpikir:

“Kenapa saya selalu mendapatkan masalah seperti ini?”

cobalah:

“Informasi apa yang sedang diberikan masalah ini kepada saya?”

Dengan demikian, masalah tidak lagi hanya menjadi sumber frustrasi.

Ia menjadi sumber informasi.

Dan semakin baik Anda membaca masalah, semakin baik Anda memahami kebutuhan manusia.

Pada akhirnya, banyak inovasi bukan tentang menciptakan kebutuhan baru, tetapi tentang menemukan cara yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan yang sudah ada.

7. Jangan Hanya Menjadi Konsumen Dunia—Jadilah Pencipta

Ini mungkin pola pikir yang paling penting.

Setiap hari kita mengonsumsi sesuatu.

Kita membaca.

Menonton.

Mendengarkan.

Menggunakan aplikasi.

Mengikuti tren.

Membeli produk.

Menerima informasi.

Tidak ada yang salah dengan menjadi konsumen.

Namun, jika hidup Anda hanya terdiri dari mengonsumsi apa yang dibuat orang lain, Anda akan semakin terbiasa melihat dunia sebagai sesuatu yang sudah selesai.

Padahal dunia belum selesai.

Teknologi terus berubah.

Budaya terus berkembang.

Cara manusia bekerja terus berubah.

Kebutuhan manusia terus berkembang.

Karena itu, selalu ada ruang bagi seseorang untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik.

Anda tidak harus menjadi seorang penemu terkenal.

Menjadi pencipta bisa berarti membangun bisnis.

Menulis buku.

Membuat karya seni.

Membangun komunitas.

Menciptakan metode kerja baru.

Membuat sistem yang membantu orang lain.

Mengajarkan sesuatu.

Menyelesaikan masalah di lingkungan sekitar.

Bahkan memperbaiki cara sebuah tim bekerja pun merupakan bentuk penciptaan.

Intinya adalah berhenti bertanya hanya:

“Apa yang bisa saya dapatkan dari dunia?”

dan mulai bertanya:

“Apa yang bisa saya berikan kepada dunia?”

Pertanyaan kedua mengubah posisi mental Anda.

Anda tidak lagi hanya menunggu peluang.

Anda mulai menciptakan peluang.

Anda tidak hanya mengomentari keadaan.

Anda mulai memperbaikinya.

Anda tidak hanya mengikuti perubahan.

Anda mulai menjadi bagian dari perubahan.

Dunia Tidak Berubah karena Semua Orang Berpikir Sama

Jika Anda benar-benar ingin berusaha mengubah cara kerja dunia, jangan berharap perjalanan itu selalu nyaman.

Anda akan menghadapi penolakan.

Anda akan mengalami kegagalan.

Ada saat ketika ide Anda tidak dipahami.

Ada saat ketika orang lain meragukan Anda.

Ada saat ketika Anda sendiri mulai meragukan keputusan yang telah dibuat.

Itu semua bagian dari proses.

Yang penting adalah Anda tidak kehilangan kemampuan untuk belajar.

Tujuh pola pikir tersebut pada dasarnya mengarah pada satu prinsip:

Jangan menerima dunia sebagai sesuatu yang sudah selesai.

Pertanyakan hal yang dianggap normal.

Belajar dari kegagalan.

Berpikir jangka panjang.

Dengarkan kritik tanpa kehilangan kemandirian.

Lihat masalah sebagai informasi.

Dan yang paling penting, beranilah menciptakan sesuatu.

Sebab perubahan tidak selalu dimulai dari orang yang memiliki sumber daya paling besar.

Sering kali perubahan dimulai dari seseorang yang melihat sesuatu yang selama ini dianggap biasa, lalu berkata:

“Mungkin ada cara yang lebih baik.”

Kemudian ia mencoba.

Gagal.

Belajar.

Mencoba lagi.

Memperbaiki.

Dan terus bergerak.

Pada akhirnya, mengubah dunia bukan selalu berarti melakukan sesuatu yang spektakuler.

Terkadang, perubahan dunia dimulai dari satu pekerjaan yang dilakukan dengan cara yang sedikit lebih baik.

Lalu orang lain melihatnya.

Mereka menirunya.

Orang berikutnya memperbaikinya.

Kemudian menjadi kebiasaan.

Kebiasaan menjadi sistem.

Dan sistem perlahan mengubah cara manusia bekerja.

Jadi, jika Anda ingin mengubah cara kerja dunia, jangan hanya mengubah apa yang Anda kerjakan. Mulailah dengan mengubah cara Anda berpikir.

Karena sebelum dunia berubah di luar diri Anda, biasanya ada sesuatu yang harus berubah terlebih dahulu di dalam kepala Anda.
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore