Mengenal Chuseok, 'lebaran' di Korea Selatan / Foto : Yonhap, NEWS1
JawaPos.com - Lebaran identik dengan mudik, libur panjang, berkumpul bersama keluarga. Lebaran bukan hanya ada di Indonesia, namun juga ada di Korea Selatan.
Setiap tahun, Korea Selatan merayakan dengan liburan musim gugur tahunan yang memiliki suasana seperti 'lebaran' yang disebut dengan Chuseok.
Kata Chuseok berasal dari karakter Tionghoa untuk musim gugur 'chu' dan malam 'seok'.
Hari raya ini dirayakan setiap tahun pada tanggal 15 bulan kedelapan kalender lunar, yang jatuh di antara pertengahan bulan September dan pertengahan bulan Oktober dalam kalender surya.
Di tahun ini Chuseok jatuh pada hari Kamis (24/9), sehingga memberikan warga Korea Selatan libur empat hari dari hari Kamis hingga Minggu.
Chuseok tiba sebelum panen raya dilakukan. Tanaman padi sudah menguning, namun masih berdiri tegak di ladang.
Hari raya Korea ini, merupakan ungkapan rasa syukur karena telah berhasil melewati masa-masa sulit menjelang musim gugur, sekaligus doa agar panen mendatang membawa hasil yang melimpah.
Chuseok juga merupakan momen untuk menghormati leluhur. Keluarga melaksanakan 'charye', sebuah ritual peringatan di mana mereka mempersembahkan hasil panen pertama tahun itu kepada leluhur mereka.
Menurut tradisi Chuseok, anak-anak yang sudah dewasa akan mengunjungi orang tua mereka, atau mertua bagi mereka yang sudah berkeluarga untuk berkumpul bersama.
Keluarga juga akan mengunjungi makam leluhur, yang sering kali terletak di lereng gunung berumput untuk melakukan 'beolcho', yaitu kegiatan membersihkan rumput liar.
Saat berkunjung, keluarga juga menyiapkan makanan dan minuman untuk dipersembahkan di makam tersebut.
Jeon (panekuk yang digoreng), sayuran, ikan, kurma, dan buah segar melengkapi sajian tersebut, termasuk apel dan pir Korea berukuran besar pada musimnya, yang semuanya mendapat tempat di meja ritual. Setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri dalam bahan dan pembuatan setiap hidangan.
Penataan meja tradisionalnya sangat ketat dan rumit, dengan setiap hidangan memiliki tempat yang telah ditentukan, seperti yang dikutip dari Korea JoongAng Daily.
Tahun ini, perayaan tersebut bertepatan dengan gelaran Asian Games yang sedang berlangsung di Jepang, serta pertandingan pertama tim nasional sepak bola Korea Selatan di bawah kepemimpinan baru, sehingga ada banyak hal menarik untuk dinikmati warga.
Sama seperti di Indonesia, tradisi mudik ini biasanya akan menyebabkan arus lalu lintas yang sangat padat dari Seoul dan wilayah Gyeonggi menuju berbagai daerah lain di seluruh negeri.
Tingkat kemacetan di jalur menuju dan dari luar kota bisa mencapai tiga kali lipat dari biasanya, sementara kereta api, bus, dan bahkan penerbangan domestik penuh sesak hingga kapasitas maksimal.
Tidak hanya jalur yang transportasi yang padat, suasana di supermarket juga menjadi ramai oleh keluarga-keluarga yang berbelanja bahan makanan untuk hidangan tradisional Korea.
Seiring berjalannya waktu di Korea Selatan masa kini, banyak tradisi yang telah ditinggalkan namun sebagian keluarga banyak yang masih mempertahankannya.
Selama musim tersebut, wisatawan mancanegara dapat menikmati fasilitas bebas biaya masuk keempat istana utama di pusat kota Seoul, seperti Istana Gyeongbok, Istana Changdeok hingga serta Kuil Jongmyo.
Kuil Jongmyo yang biasanya mengharuskan adanya pemesanan terlebih dahulu, akan mengizinkan pengunjung masuk tanpa reservasi (walk-in) secara gratis selama periode tersebut.
Pengunjung juga dapat menyaksikan upacara pergantian penjaga di Istana Gyeongbok, tanpa reservasi terlebih dahulu selama masa liburan.
Museum Nasional Seni Modern dan Kontemporer Korea, yang terletak di Distrik Jongno, pusat Seoul, juga akan membebaskan biaya tiket masuk selama masa liburan dan menerima pengunjung yang datang langsung tanpa reservasi.