seseorang yang sedang dalam mode bertahan hidup. (Magnific)
JawaPos.com - Ada masa dalam hidup ketika seseorang tidak benar-benar merasa sedang menjalani kehidupan. Ia hanya berusaha melewati hari.
Bangun tidur, bekerja, menyelesaikan kewajiban, menjawab pesan, mengurus keluarga, menghadapi masalah, kemudian tidur. Besok semuanya dimulai lagi. Dari luar, mungkin hidupnya terlihat baik-baik saja. Ia masih bekerja. Masih bercanda. Masih bertemu orang lain. Bahkan mungkin masih bisa mencapai berbagai hal.
Namun, di dalam dirinya ada sesuatu yang berbeda.
Ia merasa lelah, tetapi bukan sekadar lelah secara fisik. Ia seperti terus-menerus bersiap menghadapi sesuatu yang buruk. Sulit merasa tenang. Sulit menikmati hal-hal sederhana. Sulit benar-benar beristirahat meskipun sedang tidak melakukan apa-apa.
Dalam psikologi populer, keadaan seperti ini sering disebut survival mode atau mode bertahan hidup.
Istilah ini bukan diagnosis psikologis resmi. Namun, konsepnya berkaitan dengan bagaimana tubuh dan pikiran merespons stres berkepanjangan atau situasi yang dirasakan mengancam. Ketika seseorang terlalu lama berada dalam tekanan, sistem tubuh yang bertugas mendeteksi bahaya dapat menjadi sangat aktif.
Akibatnya, seseorang bisa lebih banyak berfokus pada bertahan daripada menjalani hidup.
Dan yang menarik, mode bertahan hidup tidak selalu terlihat seperti kepanikan.
Kadang-kadang justru terlihat seperti menjadi sangat produktif.
Kadang terlihat seperti tidak membutuhkan siapa pun.
Kadang terlihat seperti terlalu tenang.
Kadang terlihat seperti seseorang yang berkata, "Aku baik-baik saja," padahal sebenarnya ia sudah terlalu lelah untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (9/10), jika beberapa hal berikut terasa sangat familiar, mungkin ada baiknya kamu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:
"Apakah selama ini aku benar-benar hidup, atau hanya berusaha melewati semuanya?"
1. Kamu Selalu Merasa Harus Siap Menghadapi Sesuatu
Salah satu tanda yang sering muncul ketika seseorang berada dalam tekanan berkepanjangan adalah tubuh dan pikirannya sulit benar-benar rileks.
Bahkan ketika tidak ada masalah yang sedang terjadi, pikiran tetap mencari kemungkinan masalah berikutnya.
"Bagaimana kalau nanti terjadi sesuatu?"
"Bagaimana kalau pekerjaanku bermasalah?"
"Bagaimana kalau orang itu marah?"
"Bagaimana kalau uangku tidak cukup?"
"Bagaimana kalau semuanya tiba-tiba berantakan?"
Pikiran semacam ini bisa membuat seseorang hidup dalam keadaan hypervigilance, yaitu kewaspadaan yang terus meningkat terhadap kemungkinan ancaman.
Bukan berarti kamu selalu sadar bahwa kamu sedang takut.
Kadang rasanya hanya seperti tidak bisa santai.
Ketika sedang duduk, pikiran berjalan.
Ketika sedang berlibur, kamu memikirkan pekerjaan.
Ketika masalah selesai, kamu justru mulai mencari masalah lain.
Bahkan ketika semuanya tampak baik-baik saja, ada bagian dari dirimu yang seperti berkata:
"Jangan terlalu tenang. Sebentar lagi mungkin ada sesuatu yang terjadi."
Inilah salah satu alasan mengapa seseorang dalam mode bertahan hidup bisa merasa bersalah ketika sedang bersantai.
Istirahat terasa seperti kemewahan.
Tidak melakukan apa-apa terasa seperti membuang waktu.
Dan ketika akhirnya memiliki waktu luang, bukannya menikmati waktu tersebut, pikiran justru sibuk memikirkan hal-hal yang belum selesai.
Padahal, kemampuan untuk beristirahat merupakan bagian penting dari kesehatan psikologis.
Tubuh manusia tidak dirancang untuk berada dalam keadaan siaga terus-menerus.
Kita membutuhkan periode aktivasi dan periode pemulihan.
Jika kehidupan sehari-hari terasa seperti keadaan darurat yang tidak pernah berakhir, mungkin masalahnya bukan karena kamu "kurang kuat".
Mungkin tubuhmu sudah terlalu lama diminta untuk waspada.
2. Kamu Sulit Menikmati Hal-Hal yang Sebenarnya Kamu Sukai
Dulu kamu mungkin punya banyak hal yang membuatmu bersemangat.
Menonton film.
Bermain gim.
Mendengarkan musik.
Bertemu teman.
Pergi jalan-jalan.
Mencoba makanan baru.
Atau sekadar duduk sambil menikmati sore.
Tetapi sekarang, semuanya terasa datar.
Bukan berarti kamu membenci aktivitas tersebut.
Kamu hanya tidak merasakan sesuatu yang berarti.
Kamu menonton film, tetapi pikiran tetap memikirkan pekerjaan.
Pergi berlibur, tetapi merasa harus kembali bekerja.
Bertemu teman, tetapi tidak benar-benar hadir dalam percakapan.
Mendapat sesuatu yang dulu sangat kamu inginkan, tetapi hanya merasa:
"Ya sudah."
Dalam kondisi stres berkepanjangan, perhatian dan energi mental seseorang dapat lebih banyak dialokasikan untuk menghadapi masalah dibandingkan menikmati pengalaman.
Seolah-olah otak berkata:
"Menikmati hidup bukan prioritas sekarang. Kita harus menyelesaikan semuanya terlebih dahulu."
Masalahnya, "semuanya" tidak pernah benar-benar selesai.
Selalu ada pekerjaan berikutnya.
Tagihan berikutnya.
Masalah berikutnya.
Target berikutnya.
Tanggung jawab berikutnya.
Akibatnya, seseorang bisa terus menunda kehidupan.
"Nanti kalau sudah punya uang."
"Nanti kalau pekerjaan sudah beres."
"Nanti kalau masalah keluarga selesai."
"Nanti kalau semuanya sudah lebih stabil."
Namun ketika satu masalah selesai, muncul masalah lainnya.
Akhirnya, bertahun-tahun berlalu dalam mode "nanti".
Kamu bekerja keras demi mendapatkan kesempatan untuk menikmati hidup, tetapi ketika kesempatan itu datang, kamu justru sudah terlalu lelah untuk menikmatinya.
3. Kamu Menjadi Sangat Produktif, Tetapi Tidak Pernah Merasa Cukup
Ini adalah tanda yang cukup menarik.
Mode bertahan hidup tidak selalu membuat seseorang menjadi tidak produktif.
Justru sebaliknya.
Sebagian orang merespons tekanan dengan bekerja semakin keras.
Mereka selalu sibuk.
Selalu mengerjakan sesuatu.
Selalu punya target.
Selalu mencari hal yang bisa diperbaiki.
Ketika menyelesaikan satu tugas, mereka langsung mencari tugas berikutnya.
Ketika mendapatkan pencapaian, mereka segera memikirkan pencapaian selanjutnya.
Dan ketika seseorang bertanya:
"Kapan kamu mau istirahat?"
Jawabannya mungkin:
"Nanti."
Produktivitas kemudian bukan lagi sekadar alat untuk mencapai tujuan.
Produktivitas menjadi cara untuk merasa aman.
Selama aku sibuk, aku merasa berguna.
Selama aku menghasilkan sesuatu, aku merasa berharga.
Selama aku tidak berhenti, aku tidak perlu menghadapi apa yang sebenarnya kurasakan.
Inilah bagian yang sering tidak disadari.
Seseorang mungkin terlihat sangat disiplin dari luar, tetapi di dalam dirinya terdapat ketakutan yang membuatnya merasa tidak boleh berhenti.
Ia bukan hanya bekerja karena ingin sukses.
Ia bekerja karena berhenti terasa menakutkan.
Ada perbedaan besar antara:
"Aku ingin melakukan banyak hal."
dan
"Aku merasa harus terus melakukan sesuatu agar aku merasa aman."
Jika kamu hanya merasa berharga ketika produktif, mungkin yang perlu diperhatikan bukan hanya manajemen waktumu.
Tetapi juga hubunganmu dengan dirimu sendiri.
4. Kamu Sulit Mengatakan "Tidak"
Orang yang terbiasa bertahan dalam lingkungan yang penuh tekanan terkadang belajar bahwa menjaga keadaan tetap aman jauh lebih penting daripada mengungkapkan kebutuhannya sendiri.
Akibatnya, ia menjadi sangat mudah mengiyakan permintaan orang lain.
"Bisakah kamu membantu?"
"Iya."
"Kamu bisa datang?"
"Iya."
"Bisa dikerjakan sekarang?"
"Iya."
Padahal sebenarnya ia sudah kelelahan.
Ia ingin menolak.
Ia ingin mengatakan tidak.
Tetapi ada sesuatu yang menahannya.
Mungkin takut mengecewakan.
Takut dianggap egois.
Takut membuat orang marah.
Takut ditinggalkan.
Atau takut hubungan menjadi tidak nyaman.
Akhirnya, ia lebih memilih mengorbankan dirinya sendiri agar keadaan tetap tenang.
Dalam jangka pendek, strategi ini mungkin terasa efektif.
Tidak ada konflik.
Tidak ada pertengkaran.
Orang lain senang.
Tetapi dalam jangka panjang, seseorang dapat kehilangan kontak dengan kebutuhannya sendiri.
Ia menjadi sangat pandai membaca perasaan orang lain, tetapi tidak tahu bagaimana membaca perasaannya sendiri.
Ia tahu kapan orang lain kecewa.
Tahu kapan seseorang marah.
Tahu kapan harus meminta maaf.
Tetapi ketika ditanya:
"Sebenarnya kamu mau apa?"
Ia justru bingung.
5. Kamu Terlihat Tenang, Padahal Sebenarnya Sudah Mati Rasa
Ini mungkin salah satu bentuk mode bertahan hidup yang paling mudah disalahpahami.
Tidak semua orang yang sedang mengalami tekanan akan menangis atau terlihat panik.
Sebagian justru menjadi sangat datar.
Masalah besar terjadi?
"Ya sudah."
Seseorang pergi?
"Enggak apa-apa."
Rencana gagal?
"Memang begini hidup."
Mendapat kabar buruk?
"Sudah biasa."
Dari luar, orang ini mungkin terlihat sangat kuat.
Tetapi terkadang ketenangan yang ekstrem bukan berarti seseorang tidak merasakan apa-apa.
Bisa saja ia sudah terlalu lama menghadapi tekanan sampai respons emosionalnya menjadi tumpul.
Dalam psikologi, keadaan seperti ini dapat berkaitan dengan emotional numbing atau mati rasa emosional.
Bukan berarti seseorang tidak memiliki emosi.
Justru mungkin emosinya terlalu berat untuk terus dirasakan, sehingga pikiran dan tubuh mencoba menciptakan jarak.
Kamu mungkin pernah mengalami sesuatu seperti ini:
Kamu tahu seharusnya kamu sedih, tetapi tidak bisa menangis.
Kamu tahu seharusnya kamu bahagia, tetapi tidak benar-benar merasakan kebahagiaan.
Kamu tahu sesuatu penting bagimu, tetapi rasanya seperti tidak peduli.
Dan yang paling membingungkan:
Kamu bahkan tidak tahu kapan terakhir kali kamu benar-benar merasa menjadi dirimu sendiri.
Jika ini terasa familiar, jangan buru-buru menyebut dirimu dingin.
Bisa jadi kamu hanya sudah terlalu lama bertahan.
6. Kamu Merasa Bersalah Saat Beristirahat
Coba perhatikan apa yang terjadi ketika kamu akhirnya tidak melakukan apa-apa.
Apakah kamu merasa nyaman?
Atau justru merasa bersalah?
Kamu duduk sebentar dan langsung berpikir:
"Aku seharusnya melakukan sesuatu."
Kamu tidur lebih lama dan merasa malas.
Kamu mengambil cuti tetapi merasa harus tetap memeriksa pekerjaan.
Kamu menghabiskan waktu untuk diri sendiri dan merasa seperti sedang mengabaikan kewajiban.
Jika iya, mungkin kamu sudah terlalu lama menghubungkan nilai dirimu dengan seberapa banyak hal yang dapat kamu selesaikan.
Padahal manusia bukan mesin produksi.
Kita tidak harus selalu menghasilkan sesuatu untuk pantas mendapatkan istirahat.
Istirahat bukan hadiah karena kamu sudah cukup produktif.
Istirahat adalah kebutuhan manusia.
Ketika seseorang hidup dalam mode bertahan hidup, otak dapat terus memprioritaskan ancaman dan kewajiban.
Akibatnya, keadaan tenang justru terasa asing.
Ini bisa menjelaskan mengapa sebagian orang berkata:
"Aku capek, tapi kalau libur malah bingung mau ngapain."
Karena tubuhnya sudah terbiasa berada dalam mode melakukan.
Bukan mode menikmati.
Mengapa Kita Bisa Terjebak dalam Mode Bertahan Hidup?
Ada banyak kemungkinan penyebab.
Tekanan pekerjaan yang terus-menerus.
Masalah finansial.
Konflik keluarga.
Hubungan yang tidak sehat.
Pengalaman kehilangan.
Perubahan hidup yang besar.
Lingkungan yang tidak aman.
Tanggung jawab yang terlalu berat.
Atau berbagai pengalaman sulit yang berlangsung dalam waktu lama.
Kadang penyebabnya bahkan tidak mudah dijelaskan.
Tidak selalu ada satu kejadian besar.
Bisa jadi justru akumulasi dari banyak hal kecil yang terjadi berulang kali.
Satu masalah mungkin tidak terlalu berat.
Tetapi sepuluh masalah yang datang bersamaan, bulan demi bulan, tahun demi tahun, dapat membuat seseorang hidup dalam keadaan tegang yang terus-menerus.
Tubuh kemudian belajar:
"Dunia tidak aman. Aku harus selalu siap."
Dan setelah keadaan membaik sekalipun, pola tersebut tidak selalu langsung hilang.
Itulah mengapa seseorang bisa berada dalam kondisi yang relatif aman tetapi tetap merasa cemas, tegang, atau sulit bersantai.
Tubuh membutuhkan waktu untuk belajar kembali bahwa tidak semua keadaan adalah keadaan darurat.
Bertahan Hidup Tidak Sama dengan Hidup
Ini mungkin bagian yang paling penting.
Ada perbedaan antara bertahan dan hidup.
Bertahan berarti:
"Apa yang harus aku lakukan agar hari ini selesai?"
Hidup berarti:
"Apa yang sebenarnya ingin aku rasakan dan jalani?"
Bertahan berarti:
"Apa yang harus aku selesaikan?"
Hidup berarti:
"Apa yang penting bagiku?"
Bertahan berarti:
"Bagaimana agar tidak terjadi sesuatu yang buruk?"
Hidup berarti:
"Apa yang ingin aku bangun?"
Ketika seseorang terlalu lama berada dalam mode bertahan hidup, masa depan bisa terasa sangat jauh.
Ia tidak lagi bertanya apa yang diinginkannya.
Ia hanya bertanya apa yang harus dilakukan berikutnya.
Dan mungkin itu sebabnya hidup terasa seperti daftar tugas.
Bangun.
Kerja.
Selesaikan.
Bayar.
Urus.
Pulang.
Tidur.
Ulangi.
Hari berganti.
Bulan berganti.
Tahun berganti.
Tetapi dirinya terasa tidak bergerak ke mana-mana.
Jika Kamu Mengalami Ini, Bukan Berarti Kamu Lemah
Ada kecenderungan untuk menyalahkan diri sendiri.
"Kenapa aku begini?"
"Kenapa aku tidak bisa santai?"
"Kenapa aku terlalu banyak berpikir?"
"Kenapa aku tidak bisa menikmati hidup seperti orang lain?"
Tetapi penting untuk melihatnya dengan lebih penuh kasih.
Banyak respons psikologis sebenarnya merupakan cara tubuh dan pikiran mencoba melindungi kita.
Kewaspadaan membuat kita lebih siap.
Produktivitas membantu kita menyelesaikan masalah.
Menghindari konflik mungkin membuat hubungan tetap aman.
Menekan emosi mungkin membuat kita mampu menjalani hari ketika emosi terasa terlalu berat.
Masalahnya muncul ketika strategi yang dulu membantu kita bertahan terus digunakan meskipun situasinya sudah berubah.
Seperti seseorang yang terus memakai baju zirah meskipun perang sudah selesai.
Pada suatu titik, baju zirah tersebut bukan lagi hanya melindungi.
Ia juga membuat kita sulit bergerak.
Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?
Keluar dari mode bertahan hidup biasanya bukan tentang tiba-tiba menjadi positif.
Bukan juga dengan memaksa diri untuk "jangan overthinking".
Dan bukan dengan mengulang kalimat motivasi setiap pagi.
Langkah pertama justru bisa sangat sederhana:
sadari bahwa kamu sedang lelah.
Bukan hanya lelah bekerja.
Tetapi mungkin lelah secara mental.
Lelah selalu harus kuat.
Lelah memikirkan semuanya.
Lelah menjaga perasaan orang lain.
Lelah mencoba memastikan semuanya baik-baik saja.
Kemudian mulai belajar memberikan ruang bagi kebutuhan diri sendiri.
Tidur ketika tubuh membutuhkan tidur.
Beristirahat tanpa harus merasa bersalah.
Mengatakan tidak ketika memang tidak mampu.
Berbicara dengan orang yang dipercaya.
Mengurangi tuntutan yang sebenarnya tidak semuanya harus dilakukan sekaligus.
Dan jika perasaan tertekan, mati rasa, cemas, atau kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari terasa menetap atau semakin berat, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang sangat masuk akal.
Meminta bantuan bukan tanda bahwa kamu gagal bertahan.
Justru terkadang meminta bantuan adalah cara untuk berhenti menjalani semuanya sendirian.
Mungkin Kamu Tidak Kehilangan Dirimu
Mungkin selama ini kamu hanya terlalu sibuk menyelamatkan dirimu sendiri.
Kamu mungkin masih ada di sana.
Versi dirimu yang dulu suka tertawa.
Yang punya rasa ingin tahu.
Yang punya impian.
Yang bisa menikmati hal-hal sederhana.
Yang tidak selalu merasa harus waspada.
Yang bisa mengatakan "tidak" tanpa merasa bersalah.
Yang bisa tidur tanpa memikirkan seribu kemungkinan buruk.
Mungkin bagian itu bukan hilang.
Mungkin hanya tertutup oleh terlalu banyak hal yang harus kamu tanggung.
Dan mungkin perjalanan berikutnya bukan tentang menjadi orang yang lebih kuat.
Mungkin justru tentang belajar bahwa kamu tidak harus kuat setiap saat.
Kamu boleh berhenti.
Kamu boleh beristirahat.
Kamu boleh meminta bantuan.
Kamu boleh tidak punya semua jawaban.
Kamu boleh mengatakan bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja.
Dan yang paling penting:
hidup seharusnya bukan hanya tentang berhasil melewati hari.
Ada saatnya kita perlu bertanya lebih jauh:
"Setelah sekian lama bertahan, sebenarnya kehidupan seperti apa yang ingin aku jalani?"
Karena pada akhirnya, tujuan manusia bukan hanya untuk selamat dari kehidupan.
Kita juga berhak merasakan kehidupan itu sendiri.
Catatan: "survival mode" adalah istilah populer untuk menggambarkan pola respons terhadap stres atau ancaman yang berkepanjangan, bukan diagnosis psikologis resmi. Enam tanda di atas juga tidak otomatis berarti seseorang sedang mengalami kondisi klinis tertentu. Jika gejalanya menetap, mengganggu fungsi sehari-hari, atau terasa semakin berat, bantuan profesional dapat membantu memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.***