Hening langsung terasa saat memasuki Gua Kalak, Pacitan. Hawanya adem. Hiruk pikuk kehidupan duniawi tak terasa di sini. Sesekali, suara tetesan air dari stalaktit terdengar. Suasana inilah yang dicari para pertapa. Kabarnya, mereka yang tuntas menjalankan ritual di Gua Kalak akan mendapat wibawa yang luar biasa.
---
SUASANA Gua Kalak sangat eksotis. Deretan stalaktit atau batu tetesan yang menjuntai dari langit-langit gua atau stalagmit yang menjulang di lantai gua seakan membentuk karya seni alami yang memesona. Kisah tentang gua yang berada di bawah jalan raya arah Pantai Klayar tersebut juga tak kalah menarik.
Keberadaan Gua Kalak ditandai dengan plang bertulisan Gua Kalak. Sangat sederhana. Tapi, saat melangkahkan kaki menuruni anak tangga menuju ke dalam, suasana magis langsung terasa. Saat Jawa Pos bertandang akhir pekan lalu, tak ada pengunjung sama sekali. Biasanya, mereka yang berkunjung harus menemui juru kunci terlebih dahulu. Lokasinya hanya 100 meter dari gua.
Pintu gua hanya terbuat dari pagar besi. Yang menjadi juru kunci adalah Tugiman. Pria 83 tahun itu adalah generasi ketiga juru kunci Gua Kalak. Dia sudah 55 tahun menjaga tempat tersebut. Bagian dalam Gua Kalak gelap gulita. Penerangan hanya dengan senter. Sebuah bangunan seperti pendapa berada di dalam gua tersebut. Tepatnya di bawah batu sokoguru. Sebuah stalaktit yang cukup besar.
Tempat tersebut sangat sakral. Banyak pengunjung yang menjalani lelaku spiritual di lokasi tersebut. ’’Itu tempat Prabu Brawijaya V bertapa,’’ kata pria yang akrab disapa Manrejo itu.
Bagian tengah gua juga sering dibuat untuk semedi. Pada 1972, Presiden Kedua RI Soeharto pernah bertapa di lokasi tersebut. Kata Manrejo, Pak Harto waktu itu menghadap ke barat. Presiden kedua tersebut semedi selama semalam. ”Pak Soekarno juga pernah ke sini, tapi tahun berapa kurang tahu,’’ ucapnya.
Menurut Manrejo, ada dua macan gaib yang konon sebagai penjaga gua. Salah satunya berjenis macan tutul. Tapi, sejak tiga tahun terakhir mereka tak pernah menampakkan diri. Setiap malam Jumat, gua di Desa Sendang, Kecamatan Donorojo, itu ramai dikunjungi orang. Sebagian besar melakukan meditasi. Tujuannya apa, Manrejo juga tidak tahu.
Gua Kalak sendiri dulu berada di Desa Kalak. Hanya, sekarang ada pemekaran wilayah dan masuk Desa Sendang. ”Banyak yang ke sini untuk mencari kewibawaan,’’ kata tokoh masyarakat Desa Kalak Heru Suprianto.
Menurut Heru, Gua Kalak dijamah orang sekitar tahun 1015. Menjelang runtuhnya Majapahit, Prabu Brawijaya V datang ke Gua Kalak. Dia dan rombongan ke Pacitan mencari putranya Raden Prawiroyodo untuk diajak pulang. Tujuannya, bisa meneruskan takhta kerajaan. Sayangnya, putra mahkota itu tidak mau pulang. Prabu Brawijaya akhirnya bertapa di dalam gua.
Di bagian dalam gua juga ada bagian khusus menyepi. Lokasinya berada di balik sebuah batu besar. Pada bulan tertentu, air keluar dari sebuah batu. Orang menyebutnya batu sumber. Airnya sering dibawa pulang untuk keberkahan. Di sebelah timur batu sokoguru juga terdapat lorong kecil. Kata Heru, lorong itu konon tembus laut selatan. Pernah ada yang masuk, tapi justru hilang.
Heru menambahkan, Gua Kalak memang destinasi untuk lelaku spiritual. Pengunjung akan menyendiri di dalam. Menyatu dengan alam. Tidak sedikit juga yang datang untuk mencari pusaka. Tapi, yang paling banyak mencari wibawa kepemimpinan. Konon, siapa saja yang berhasil lelaku spiritual di Gua Kalak akan mendapatkan takhta yang diinginkan.
Selain itu, ada juga pengunjung yang punya agenda lain. Beberapa orang menggunakan Gua Kalak sebagai tempat untuk memikat pasangan. Tampak sebuah foto pasangan muda-mudi diletakkan di dekat batu sokoguru.





