
Gus Yahya saat menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Nasional di Surabaya. (Novia Herawaati/JawaPos.com)
JawaPos.com - Nama Ketua Umum PBNU, Dr. (H.C.) K.H. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, kembali menjadi sorotan. Hal ini setelah kabar bahwa dirinya diminta mundur dalam Rapat Harian Syuriyah atau Dewan Pembina PBNU yang digelar Kamis (19/11) di Hotel Aston City, Jakarta.
Terlepas dari dinamika organisasi yang mencuat, rekam jejak Gus Yahya selama puluhan tahun berkiprah di Nahdlatul Ulama dan dunia internasional menunjukkan posisi sentralnya dalam khazanah pemikiran Islam Indonesia.
Lahir di Rembang pada 16 Februari 1966, Gus Yahya berasal dari keluarga pesantren dan tokoh NU yang berpengaruh. Ia merupakan putra dari K.H. M. Cholil Bisri, ulama besar dan salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Tak hanya itu, Gus Yahya juga merupakan keponakan K.H. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) serta kakak kandung Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Selain aktivitasnya di PBNU, Gus Yahya masih tercatat sebagai salah satu pengasuh Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin, Rembang, yang juga menjadi pusat tradisi keilmuan keluarga besar Bisri.
Sebelum berkiprah di PBNU, perjalanan pendidikan Gus Yahya dimulai dari lingkungan pesantren, yakni di Madrasah Al Munawwir Krapyak, Bantul yang merupakan salah satu pusat pendidikan Islam ternama di Yogyakarta di bawah bimbingan K.H. Ali Maksum.
Ia kemudian menyelesaikan pendidikan menengah di SMA Negeri 1 Yogyakarta, sebelum melanjutkan kuliah di FISIP Universitas Gadjah Mada (UGM), jurusan Sosiologi. Saat menjadi mahasiswa, Gus Yahya aktif berorganisasi dan tercatat sebagai Ketua Komisariat HMI Fisipol UGM periode 1986–1987.
Rekam Jejak Gus Yahya di PBNU
Kiprah Gus Yahya di struktur Nahdlatul Ulama semakin mengemuka ketika ia dipercaya sebagai Katib ‘Aam PBNU periode 2015–2021. Pada Muktamar ke-34 NU di Lampung, ia terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2022–2027, menggantikan Prof. K.H. Said Aqil Siroj.
Selama kepemimpinannya, Gus Yahya dikenal mendorong agenda modernisasi organisasi. Salah satunya memperkuat sistem kaderisasi yang menurutnya menjadi fondasi NU sebagai organisasi modern, sebagaimana pernah disinggung dalam pernyataannya beberapa waktu lalu.
Selain itu, nama Gus Yahya juga lekat dengan era Presiden Abdurrahman Wahid. Ia pernah menjadi juru bicara Presiden Gus Dur, posisi yang membuatnya sering tampil dalam isu-isu nasional maupun internasional.
Kemudian pada tahun 2018, ia kembali dipercaya pemerintah ketika Presiden Joko Widodo mengangkatnya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Selain berkiprah di dalam negeri, Gus Yahya dikenal sebagai tokoh Islam Indonesia yang aktif di kancah internasional.
Pada 2014, ia turut mendirikan Bait ar-Rahmah, sebuah institut berbasis di California yang mengembangkan kajian Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Ia juga terlibat dalam forum bilateral Indonesia–Amerika Serikat melalui Dewan Eksekutif Agama-Agama, hasil kerja sama Presiden Joko Widodo dengan Presiden Barack Obama.
Bahkan, Gus Yahya kerap diundang sebagai pembicara di berbagai konferensi global seperti American Jewish Committee (AJC) dan International Religious Freedom Summit (IRF Summit). Dalam beberapa pidatonya, termasuk di Washington D.C. pada 2021, ia menyoroti meningkatnya nasionalisme religius dan pentingnya mengelola keragaman nilai untuk mencegah konflik global yang lebih besar.
Gagasannya tentang Islam damai dan dialog antaragama menjadikannya salah satu suara penting dari Indonesia di panggung internasional. Kendati begitu, saat ini Gus Yahya diminta mundur dari jabatannya dalam waktu 3 hari.
