
Diskusi Laboratorium (Lab) 45 dalam peluncuran buku 'Jam Pasir Indonesia' di Jakarta, Selasa (5/5).
JawaPos.com - Generasi Z disebut menjadi harapan baru bagi masa depan demokrasi Indonesia. Tumbuh di era internet dan media sosial membuat Gen Z dinilai lebih kritis, cepat menyuarakan isu publik, dan aktif di ruang digital.
Namun di balik potensi besar tersebut, mereka juga menghadapi ancaman serius mulai dari pengangguran, rendahnya upah, hingga tekanan otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) yang bisa memengaruhi masa depan ekonomi dan politik generasi muda.
"Kalau dilihat dari demografinya, Gen Z merupakan kelompok demografi terbesar, mencapai 27 persen dari total populasi Indonesia. Mereka cukup unik dibandingkan kelompok usia lainnya karena tumbuh sebagai digital native," kata Jessica Arreta, dalam peluncuran buku 'Jam Pasir Indonesia' di Jakarta, Selasa (5/5).
Jessica menjelaskan, Gen Z terbiasa hidup dengan internet dan teknologi, termasuk dalam menyalurkan aktivisme politik melalui ruang digital. Hal ini dinilai menjadi modal awal yang positif bagi perjalanan Indonesia menuju 2045, terutama dalam memperkuat kualitas demokrasi.
Secara mendasar, kata Jessica, Gen Z telah memiliki fondasi yang cukup kokoh untuk menjadi penerus demokrasi di masa depan. Meski demikian, ia menilai partisipasi politik Gen Z saat ini masih cenderung terbatas pada aspek elektoral.
Menurutnya, banyak dari Gen Z memaknai pemilu lima tahunan sebagai bentuk utama keterlibatan politik, sementara keterlibatan substantif masih belum optimal.
"Misalnya, mereka merasa suatu isu sudah dilontarkan dan sebagian sudah dipenuhi pemerintah. Mereka bisa menjadi terfragmentasi, bahkan narasi untuk menggaungkan demokrasi itu sendiri bisa melemah," jelasnya.
Selain itu, Gen Z juga dinilai sebagai kelompok yang rentan secara ekonomi. Mereka menghadapi berbagai tekanan untuk memenuhi kebutuhan hidup, dengan sekitar 20 persen di antaranya berada dalam kondisi tidak bekerja, tidak bersekolah, atau tidak menjalani pelatihan. Bahkan bagi yang bekerja, banyak yang menerima upah lebih rendah dibandingkan kelompok usia lainnya.
Sebagian dari mereka juga tidak terserap di sektor formal, sehingga harus bekerja di sektor informal atau mengalami setengah pengangguran (underemployment).
"Ancaman otomasi dan juga ancaman AI turut memperburuk kerentanan Gen Z," ujar Jessica.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Brighton vs Crystal Palace di Liga Inggris: The Seagulls Kunci Kemenangan di Derby M23
Prediksi Skor Persebaya vs PSS Sleman: Green Force Diunggulkan, Elang Jawa Tak Bisa Diremehkan
Prediksi Skor Persib vs Persik di Super League: Pangeran Biru Susah Payah Jinakkan Macan Putih
Prediksi Skor Lyon vs Nice: Les Gones Buru Kemenangan demi Melesat ke 3 Besar Klasemen Ligue 1
Celios Benarkan Akuisisi Saham BYAN Salah Satu Sebab Pasar Saham RI Terancam Downgrade
Francisco Rivera dan Matheus Lagoa Absen, Persebaya Surabaya Tetap Pede Pecundangi PSS Sleman
Prediksi Skor Juventus vs Lazio: Biancocelesti Bakal Merepotkan Tuan Rumah di Allianz Stadium
Prediksi Skor Nottingham Forest vs Arsenal: Ujian Ketajaman Lini Serang Skuad Mikel Arteta
Prediksi Skor Persib Bandung vs Persik Kediri: Marcos Reina Tak Mau Anggap Remeh
Prediksi Skor Leeds United vs Manchester United: Lisandro Martinez Sulit Masuk Starter

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022