Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 9 September 2026 | 16.19 WIB

Hotspot Karhutla Kalbar Turun jadi 13 Titik, Menhut Minta Tak Lengah

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni turun langsung melakukan penyegelan terhadap lokasi yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kalimantan Barat, Selasa (8/9). - Image

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni turun langsung melakukan penyegelan terhadap lokasi yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kalimantan Barat, Selasa (8/9).

JawaPos.com - Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) berkurang. Berdasarkan pemantauan per malam sebelumnya, Senin (7/9), jumlah hotspot di Ketapang tercatat tinggal 13 titik.

Hal ini diungkapkan saat Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni meninjau langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar). Raja Juli mengecek kondisi di Desa Tanjung Pura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, pada Selasa (8/9).

Dalam kunjungan tersebut, Raja Juli mengingatkan seluruh pihak untuk tetap waspada meskipun jumlah titik panas atau hotspot di wilayah Ketapang terus mengalami penurunan. Ia menyebut penurunan tersebut tidak terlepas dari kolaborasi berbagai unsur dalam penanganan karhutla.

“Sekali lagi dari data yang ada per malam tadi, hotspot di Ketapang, berkat kerjasama semua pihak, Pak Bupati, TNI, Polri, KPH, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, Masyarakat Peduli Api, dan seterusnya, angkanya terus turun, tinggal 13 hotspot,” kata Raja Juli.

Meski jumlah titik panas telah berkurang, Raja Juli menegaskan kondisi tersebut bukan alasan untuk menghentikan upaya pemadaman. Sebaliknya, sisa hotspot yang ada harus segera ditangani agar tidak kembali meluas.

“Tetapi jangan sampai penurunan angka hotspot ini membuat kita justru menganggap kerjaan sudah selesai. Membuat kita menjadi berleha-leha,” tegasnya.

Ia kemudian meminta seluruh unsur yang terlibat memanfaatkan kondisi tersebut untuk menuntaskan titik api yang masih tersisa.

“Justru momentum mumpung 13, semua harus mengejar ya titik-titik apinya dan diselesaikan dipadam, dipadamkan," urainya.

Raja Juli juga menyoroti karakteristik lahan gambut yang membuat proses pemadaman karhutla menjadi lebih sulit dibandingkan kebakaran di lahan mineral. Api yang terlihat di permukaan belum tentu menandakan kebakaran benar-benar telah berakhir.

Menurut dia, bara atau sumber api masih dapat bertahan di bawah permukaan gambut meski dari atas tidak lagi terlihat kobaran api. Kondisi tersebut berpotensi memicu munculnya kembali api, terutama ketika angin bertiup.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore