Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 Oktober 2024 | 17.41 WIB

Keberanian Speak Up dan Kesehatan Mental

IRWAN DWI ARIANTO - Image

IRWAN DWI ARIANTO

Dunia kembali memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober 2024. Momentum bagi kita semua untuk membicarakan kesehatan mental dengan lebih terbuka. Salah satu kunci untuk mencapai hal itu adalah keberanian speak up (berbicara jujur) tentang apa yang kita rasakan dan kita alami.

Media sosial kini makin berperan sebagai ruang yang memungkinkan bagi banyak orang untuk menembus batas stigma dan menemukan dukungan dari komunitas yang lebih luas. Namun, apakah kita benar-benar memahami kekuatan di balik speak up pada era digital ini?

Ketika berbicara tentang kesehatan mental, masih banyak orang yang enggan mengungkapkan perasaan mereka karena takut dihakimi atau dianggap lemah. Inilah salah satu bentuk kekuasaan sosial yang menekan individu untuk tetap diam sebagaimana teori Michel Foucault tentang relasi kuasa.

Foucault menunjukkan, kekuasaan tidak hanya berbentuk fisik atau kontrol langsung. Namun, kekuasaan juga bekerja melalui norma-norma yang mengendalikan cara kita berpikir dan berbicara. Ketika seseorang akhirnya berani speak up, itu bukan sekadar tindakan individu, melainkan juga sebuah tantangan terhadap relasi kuasa yang selama ini membelenggu.

Medsos sebagai Ruang

Di sinilah peran media sosial (medsos) menjadi sangat penting. Platform digital seperti X (Twitter) dan TikTok telah membuktikan diri sebagai alat yang efektif dalam memberikan ruang bagi mereka yang ingin menyuarakan pengalaman pribadi tentang kesehatan mental. Dalam kurun waktu 8 September hingga 9 Oktober 2024, data menunjukkan, puncak interaksi terkait dengan speak up terjadi pada Kamis pukul 17.00. Intensitas percakapan yang signifikan juga terlihat pada Senin siang. Fakta itu menunjukkan bahwa ada momen-momen khusus di mana audiens lebih aktif terlibat dalam diskusi tentang isu-isu kesehatan mental.

Sentimen yang mendominasi dalam diskusi itu bersifat netral. Yaitu, 58,3 persen diskusi berfokus pada informasi dan opini tanpa terlalu banyak emosi. Namun, perasaan jijik (disgust) muncul sebanyak 30,2 persen dan rasa kecewa atau sedih (sadness) 2,4 persen. Hal itu mengindikasikan adanya ketidakpuasan publik atas ketidakadilan sosial yang sering memicu orang untuk speak up.

Di sisi lain, terdapat emosi admiration (6,1 persen) yang menandakan adanya penghargaan dan dukungan bagi mereka yang berani mengungkapkan cerita secara terbuka. Angka-angka itu menunjukkan, di tengah rasa frustrasi dan kecewa, ada pula solidaritas yang tumbuh di kalangan komunitas digital.

Penting diakui, medsos tidak hanya memfasilitasi percakapan, tetapi juga mengubah dinamika kekuasaan. Penggunaan akun alter atau anonim di platform-platform medsos telah membantu individu berbicara tanpa takut dihakimi. Mereka tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga menginspirasi orang lain yang mungkin merasa terjebak dalam situasi yang sama. Itulah contoh nyata bagaimana kekuatan kolektif bisa melawan relasi kuasa yang menekan individu untuk tetap diam.

Dukungan Komunitas

Berbicara tentang kesehatan mental dan berbagi cerita di ruang publik juga bukan tanpa risiko. Masih ada fenomena victim blaming (serangan balik) dari mereka yang tidak sepenuhnya memahami atau menghargai keberanian seseorang dalam speak up. Di sinilah dukungan komunitas online sangat penting untuk membangun ruang aman di mana setiap suara bisa didengar serta dihormati.

Pentingnya speak up dalam konteks Hari Kesehatan Mental Sedunia bukan sekadar seruan satu kali setahun. Gerakan itu harus menjadi bagian dari budaya kita sehari-hari di mana kita menciptakan lingkungan yang lebih peduli, penuh empati, dan mendukung mereka yang berani berbicara tentang perasaan serta tantangan mereka. Jika kita mengabaikan pentingnya mendengarkan dan memberikan dukungan, kita akan terus mengulangi siklus di mana stigma menguasai narasi tentang kesehatan mental.

Dalam era digital ini, media massa dan media sosial memiliki tanggung jawab besar untuk mengubah cara kita mendiskusikan kesehatan mental. Data menunjukkan, orang lebih siap untuk berbicara dan terlibat dalam diskusi ketika mereka tahu bahwa ada komunitas yang mendukung di belakang mereka. Kita perlu memanfaatkan momen ini untuk mendobrak stigma dan menormalisasi pembicaraan tentang kesehatan mental.

Mari kita jadikan Hari Kesehatan Mental Sedunia ini sebagai titik balik untuk mendukung keberanian speak up sebagai langkah awal menuju dunia yang lebih peduli. Tidak sekadar satu hari dalam kalender, tetapi sebagai ajakan permanen untuk menciptakan ruang yang aman dan inklusif bagi setiap orang yang berjuang dengan kesehatan mental mereka.

Speak up bukan hanya tentang keberanian untuk berbicara, melainkan juga tentang tanggung jawab kita semua untuk mendengarkan. (*)

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore