
Wakil Rektor I Universitas Lambung Mangkurat Iwan Aflanie saat menjadi narasumber dalam podcast Banyak Tanya by Jawa Pos di Jakarta pada Jumat (31/7). (Renda Eko Riyadi/JawaPos.com)
JawaPos.com - Perguruan tinggi dinilai perlu mulai membuka program pendidikan doktor (S-3) secara mandiri sebagai langkah strategis untuk mempercepat peningkatan jumlah dosen bergelar doktor. Hal itu menanggapi wacana kewajiban S-3 bagi dosen di perguruan tinggi dalam Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) baru.
Wakil Rektor I Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Iwan Aflanie mengatakan, kampus yang memiliki kebutuhan besar akan dosen bergelar doktor sebaiknya membangun "pabrik" sendiri dengan membuka program doktor pada bidang-bidang yang memang dibutuhkan.
"Kalau memungkinkan, bikin pabrik sendiri. Maksudnya buka prodi S-3 untuk bidang-bidang yang diperlukan sebagai percepatan," ujar Iwan dalam podcast Banyak Tanya di YouTube Jawa Pos TV, dikutip Senin (3/8).
Ia mencontohkan pengalaman ULM saat belum memiliki Program Doktor di bidang Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Ketika itu, banyak dosen yang masih bergelar magister (S-2) atau telah menyelesaikan pendidikan spesialis, tetapi belum memiliki gelar doktor.
Menurutnya, mengirim para dosen tersebut untuk kuliah di luar daerah bukan perkara mudah. Terutama bagi dosen yang juga berprofesi sebagai dokter dan memiliki praktik sehingga sulit meninggalkan daerah dalam waktu lama.
"Kami harus siapkan tempat mereka sekolah. Tantangan menyekolahkan dokter itu besar karena mereka punya tempat praktik yang sulit ditinggalkan. Kalau harus dikirim ke luar daerah, artinya praktik mereka tutup," jelasnya.
Karena itu, ULM kemudian berupaya menghadirkan Program Doktor Kedokteran dan Ilmu Kesehatan agar para dosen tetap dapat menjalankan tridarma perguruan tinggi sembari menempuh pendidikan doktoral.
Meski demikian, Iwan mengakui membuka program doktor bukan pekerjaan sederhana. Selain harus memenuhi berbagai persyaratan akademik, perguruan tinggi juga harus melewati proses perizinan dan akreditasi yang cukup panjang.
Karena itu, menurutnya, perguruan tinggi yang belum memiliki kapasitas perlu berkolaborasi dengan kampus-kampus yang lebih mapan sebagai pendamping atau tandem.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Herri Pras Akhirnya Minta Maaf Usai Digeruduk Petarung MMA karena Hina UAH dan UAS
Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Prediksi Skor Lillestrom SK vs Viktoria Plzen di Liga Europa: Duel Berpotensi Berjalan Terbuka
Prediksi Skor PSIM vs Dewa United di BRI Super League: Laskar Mataram Berpeluang Beri Kejutan!
Blunder Berujung Gol, Fitrah Maulana Ungkap Perasaannya Usai Persib Menang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Prediksi Skor Lion City Sailors vs Adelaide United di ACL Two: Tuan Rumah Diunggulkan Menang Lagi

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022