
Ilustrasi: Kericuhan di AFCON. (Istimewa)
JawaPos.com - Final Piala Afrika (AFCON) 2025 di Rabat, Maroko meninggalkan lebih banyak cerita panas dibanding euforia juara.
Laga penentuan antara tuan rumah Maroko vs Senegal yang seharusnya menjadi perayaan sepak bola Afrika justru berakhir dengan kericuhan, memunculkan pertanyaan tentang kesiapan Maroko sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030.
Pertandingan yang berlangsung di Stadion Pangeran Moulay Abdellah itu dimenangi Senegal dengan skor tipis 1-0 lewat gol di perpanjangan waktu.
Gol kemenangan yang dicetak Pape Gueye menit ke 94 memastikan trofi AFCON dibawa pulang ke Dakar, Senegal.
Namun, hasil tersebut tertutup oleh aksi kontroversi wasit, aksi protes pemain, serta kerusuhan suporter yang mencoreng laga final tersebut.
Situasi mulai memanas saat memasuki waktu injury time babak kedua. Senegal sempat merayakan gol Ismaila Sarr, tetapi wasit menganulirnya.
Tak lama berselang, Maroko mendapat penalti setelah Brahim Diaz dinilai dilanggar. Keputusan ini memicu reaksi keras dari kubu tim Senegal.
Pelatih Senegal, Pape Thiaw, kemudian menarik timnya keluar lapangan sebagai bentuk protes. Pertandingan tertunda lebih dari seperempat jam sebelum akhirnya dilanjutkan.
Penalti Maroko yang dieksekusi Brahim Diaz dengan gaya Panenka justru gagal setelah ditepis dengan mudah oleh Edouard Mendy.
Momentum itu berlanjut hingga perpanjangan waktu, di mana Senegal tampil lebih tenang dan efektif.
Ketegangan di dalam lapangan ternyata merembet ke tribun penonton. Sejumlah suporter Senegal mencoba memasuki area lapangan dan terlibat bentrokan dengan petugas keamanan.
Lemparan benda dan aksi saling dorong tak terhindarkan. Seorang relawan dilaporkan mengalami cedera dan harus dibawa keluar stadion.
Insiden tidak berhenti sampai di situ. Seusai pertandingan, pelatih kedua tim terlibat adu argumen, sementara suasana konferensi pers berubah kacau akibat pertikaian antarsesama jurnalis. Final AFCON yang seharusnya menjadi cerminan positive sepak bola Afrika justru berubah menjadi citra negatif.
Reaksi keras datang dari berbagai pihak. Presiden FIFA Gianni Infantino secara terbuka mengecam insiden tersebut. Ia menilai kejadian di Rabat tidak bisa ditoleransi dan menegaskan bahwa kekerasan, baik di dalam maupun di luar lapangan, tidak memiliki tempat dalam sepak bola modern.
CAF selaku otoritas sepak bola Afrika juga bergerak cepat. Dalam pernyataan resminya, CAF mengutuk perilaku tidak pantas yang terjadi selama final dan memastikan akan melakukan penyelidikan menyeluruh.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
