Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 12 Oktober 2020 | 03.48 WIB

Keris Kerap Bergerak Sendiri saat Disucikan

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Keris tidak hanya disukai karena fisiknya yang artistik. Lebih dari itu, keris merupakan simbol budaya suatu era. Selain lambang kebesaran negara dan ketokohan pemimpin, keris merepresentasikan perkembangan seni dan perpolitikan saat dibuat.

---

Itulah yang diungkapkan Moch. Manshur Hidayat, ketua Paguyuban Pelestari Tosan Aji dan Pusaka (Pataka) Surabaya. Pria 47 tahun tersebut menjelaskan, ratusan tahun lalu, keris tidak dimiliki sembarangan orang. Yang dipercaya untuk membawanya hanya orang kepercayaan raja. ”Istilahnya intelijen. Dulu namanya telik sandi atau mata-mata,” ujarnya ketika ditemui di rumahnya di kawasan Wonocolo, Surabaya, Rabu (7/10).

Alumnus FISIP Unair itu menyebutkan, hingga saat ini, dirinya memiliki 1.300 bilah keris. Seluruh tosan aji yang memiliki wujud berbeda dirawat secara apik hingga kini. Bukan hanya peninggalan Mataram. Ketua pelaksana harian Paguyuban Senapati Nusantara itu juga mempunyai pusaka peninggalan kerajaan lain seperti Majapahit, Singosari, Pajang, dan Bali. Selain didapat dari teman, tosan aji dibeli dari kolektor. Dia meyakini sebagian tosan aji memiliki penunggu di dalamnya. Upaya perawatan melalui prosesi jamasan dan warangan harus rutin dilakukan agar fisik benda pusaka dan batin pemiliknya tetap terjaga.

Hidayat menyatakan, keris identik dengan senjata pada zaman kerajaan lawas. Karena keris digunakan untuk berperang, pembuatannya tidak sembarangan. Fisiknya tidak sekadar ditempa secara sungguh-sungguh. Setiap empu selalu melakukan ritual khusus saat membuat keris. Misalnya, tirakatan dan semedi. Diharapkan, benda pusaka itu memiliki kesaktian dan pemiliknya menang perang.

Nah, ada beberapa pembuat keris yang memasukkan penunggu ke dalamnya. Untuk membikin sebilah keris, empu menggunakan kemampuan cipta, rasa, dan karsa. ”Jadi, saya percaya bahwa ada yang gaib dalam keris. Namun, bagi saya, Allah itu lebih mahasakti,” tegasnya.

Menurut Hidayat, orang boleh percaya dengan kegaiban suatu benda pusaka. Namun, hal itu tidak boleh melebihi kepercayaannya kepada Tuhan. ”Intinya, jangan sampai musyrik,” tuturnya.

Selama puluhan tahun mengoleksi keris, banyak hal yang dialami Hidayat terkait dengan kegaiban. Saat membersihkan senjata, Hidayat pernah diganggu penunggunya. Keris obah atau bergerak sendiri. Namun, nyalinya tidak ciut. ”Niat saya baik dengan merawat penuh perhatian. Jadi, saya tidak takut,” kata Hidayat.

Sebagai kolektor, budayawan itu pun sering disambati banyak orang. Bahkan, ada yang meminjam keris untuk beberapa keperluan. Ada teman yang sengaja mendatangi Hidayat karena sulit menjual tanahnya. Dia ingin meminjam keris yang bisa melancarkan usaha. ”Spontan saja, saya pilih satu keris. Alhamdulillah, beberapa hari kemudian dia bilang tanahnya sudah laku,” ujar Hidayat.

Dia meyakini bahwa bukan kerisnya yang sakti. Semua itu bisa terjadi berkat kekuasaan Tuhan. Selain meminta kelancaran usaha, ada yang mengaku kena guna-guna. Dia sakit-sakitan dan sulit sembuh. Orang itu lantas meminjam salah satu keris Hidayat lantaran diyakini bisa membantu penyembuhan.

Karena termasuk benda pusaka, Hidayat menegaskan bahwa perawatan keris tidak bisa asal-asalan. Tidak sekadar diwarangi dengan campuran batu arsenik dan air jeruk. Setiap keris harus dijamasi (disucikan). Prosesi jamasan selalu sakral dalam sebuah perawatan benda pusaka. Bagi orang Jawa, jamasan dilakukan setiap 1 Sura.

Beberapa ritual dilakukan dalam proses jamasan. Jamasan dilakukan dengan ubo rampe seperti jajan pasar, wewangian (dupa dan minyak), air kelapa, bunga-bungaan (kantil, mawar, dan melati), serta larutan warangan. ”Selain memandikan keris, ada tumpengan atau doa bersama,” ungkap Hidayat.

Dia menuturkan, tumpengan dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur. Tujuannya, menyucikan diri. ”Yang pegang pusaka harus arif dan bijaksana. Jamasan mengingatkan kita untuk selalu berbuat baik,” tandas Hidayat.

---

TENTANG KERIS


  • Keris melambangkan budaya pada masa pembuatannya. Hidayat mencontohkan salah satu koleksinya, yakni keris singobarong. Keris itu tampak tajam dan menarik karena ada kepala singa di atas gagangnya. Keberadaan singa menandakan adanya akulturasi budaya antara Jawa dan Tiongkok pada masa pembuatannya. Keris tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Mataram.

  • Hidayat mengingatkan, pesona keris membuat banyak yang memanfaatkannya untuk hal-hal kurang baik. Untuk kolektor keris pemula, dia menyarankan untuk belajar lebih banyak dulu. Sebab, hanya tangan yang berpengalaman yang bisa membedakan mana keris yang spesial dan mana yang biasa saja.


Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=CrSgAZLVGvI&ab_channel=JawaPos

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore