
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Keris tidak hanya disukai karena fisiknya yang artistik. Lebih dari itu, keris merupakan simbol budaya suatu era. Selain lambang kebesaran negara dan ketokohan pemimpin, keris merepresentasikan perkembangan seni dan perpolitikan saat dibuat.
---
Itulah yang diungkapkan Moch. Manshur Hidayat, ketua Paguyuban Pelestari Tosan Aji dan Pusaka (Pataka) Surabaya. Pria 47 tahun tersebut menjelaskan, ratusan tahun lalu, keris tidak dimiliki sembarangan orang. Yang dipercaya untuk membawanya hanya orang kepercayaan raja. ”Istilahnya intelijen. Dulu namanya telik sandi atau mata-mata,” ujarnya ketika ditemui di rumahnya di kawasan Wonocolo, Surabaya, Rabu (7/10).
Alumnus FISIP Unair itu menyebutkan, hingga saat ini, dirinya memiliki 1.300 bilah keris. Seluruh tosan aji yang memiliki wujud berbeda dirawat secara apik hingga kini. Bukan hanya peninggalan Mataram. Ketua pelaksana harian Paguyuban Senapati Nusantara itu juga mempunyai pusaka peninggalan kerajaan lain seperti Majapahit, Singosari, Pajang, dan Bali. Selain didapat dari teman, tosan aji dibeli dari kolektor. Dia meyakini sebagian tosan aji memiliki penunggu di dalamnya. Upaya perawatan melalui prosesi jamasan dan warangan harus rutin dilakukan agar fisik benda pusaka dan batin pemiliknya tetap terjaga.
Hidayat menyatakan, keris identik dengan senjata pada zaman kerajaan lawas. Karena keris digunakan untuk berperang, pembuatannya tidak sembarangan. Fisiknya tidak sekadar ditempa secara sungguh-sungguh. Setiap empu selalu melakukan ritual khusus saat membuat keris. Misalnya, tirakatan dan semedi. Diharapkan, benda pusaka itu memiliki kesaktian dan pemiliknya menang perang.
Nah, ada beberapa pembuat keris yang memasukkan penunggu ke dalamnya. Untuk membikin sebilah keris, empu menggunakan kemampuan cipta, rasa, dan karsa. ”Jadi, saya percaya bahwa ada yang gaib dalam keris. Namun, bagi saya, Allah itu lebih mahasakti,” tegasnya.
Menurut Hidayat, orang boleh percaya dengan kegaiban suatu benda pusaka. Namun, hal itu tidak boleh melebihi kepercayaannya kepada Tuhan. ”Intinya, jangan sampai musyrik,” tuturnya.
Selama puluhan tahun mengoleksi keris, banyak hal yang dialami Hidayat terkait dengan kegaiban. Saat membersihkan senjata, Hidayat pernah diganggu penunggunya. Keris obah atau bergerak sendiri. Namun, nyalinya tidak ciut. ”Niat saya baik dengan merawat penuh perhatian. Jadi, saya tidak takut,” kata Hidayat.
Sebagai kolektor, budayawan itu pun sering disambati banyak orang. Bahkan, ada yang meminjam keris untuk beberapa keperluan. Ada teman yang sengaja mendatangi Hidayat karena sulit menjual tanahnya. Dia ingin meminjam keris yang bisa melancarkan usaha. ”Spontan saja, saya pilih satu keris. Alhamdulillah, beberapa hari kemudian dia bilang tanahnya sudah laku,” ujar Hidayat.
Dia meyakini bahwa bukan kerisnya yang sakti. Semua itu bisa terjadi berkat kekuasaan Tuhan. Selain meminta kelancaran usaha, ada yang mengaku kena guna-guna. Dia sakit-sakitan dan sulit sembuh. Orang itu lantas meminjam salah satu keris Hidayat lantaran diyakini bisa membantu penyembuhan.
Karena termasuk benda pusaka, Hidayat menegaskan bahwa perawatan keris tidak bisa asal-asalan. Tidak sekadar diwarangi dengan campuran batu arsenik dan air jeruk. Setiap keris harus dijamasi (disucikan). Prosesi jamasan selalu sakral dalam sebuah perawatan benda pusaka. Bagi orang Jawa, jamasan dilakukan setiap 1 Sura.
Beberapa ritual dilakukan dalam proses jamasan. Jamasan dilakukan dengan ubo rampe seperti jajan pasar, wewangian (dupa dan minyak), air kelapa, bunga-bungaan (kantil, mawar, dan melati), serta larutan warangan. ”Selain memandikan keris, ada tumpengan atau doa bersama,” ungkap Hidayat.
Dia menuturkan, tumpengan dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur. Tujuannya, menyucikan diri. ”Yang pegang pusaka harus arif dan bijaksana. Jamasan mengingatkan kita untuk selalu berbuat baik,” tandas Hidayat.
---
TENTANG KERIS

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
