Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 Juni 2021 | 19.48 WIB

Belum Berhasil Jadi Dosen, Alumnus S-2 Unair Jadi Kades di Gresik

SRIKANDI: Diana Eviana, (Dok. Pribadi) - Image

SRIKANDI: Diana Eviana, (Dok. Pribadi)

JawaPos.com – Jumlah kepala desa (Kades) perempuan di Gresik makin banyak. Minggu lalu (13/6), giliran Diana Eviana yang terpilih sebagai Kades Desa Metatu, Benjeng. Perempuan 27 tahun itu menggantikan Nur Asikin, Kades sebelumnya yang meninggal dunia pada September 2020.

Diana merupakan lulusan S-1 Jurusan Televisi dan Film Universitas Negeri Jember. Lalu, dia melanjutkan ke jenjang pascasarjana (S-2) di Universitas Airlangga dengan jurusan media dan komunikasi. Sosok Diana yang bergelar magister dari kampus ternama dan menjabat Kades itu pun menjadi perbincangan.

’’Sebetulnya ayah yang maju jadi calon Kades, tapi tidak lolos. Akhirnya saya yang disuruh ikut seleksi. Itu pun tidak langsung saya iyakan. Sebab, saya tidak memiliki background di pemerintahan. Selain itu, saya kan baru saja lulus kuliah (pascasarjana, Red),” ungkap Diana saat dihubungi Jawa Pos, Senin (14/6).

Diana baru menamatkan S-2 di Unair pada Maret 2020. Sebetulnya, setelah lulus, Diana ingin menjadi dosen. Beberapa kali dia melamar. Namun, belum juga ada panggilan untuk mengajar di perguruan tinggi. Diana tetap memilih hidup di desa. Nah, mulai Agustus 2020, dia ikut menerjuni bisnis keluarganya. Yakni, usaha furnitur. Dia tidak ikut campur bisnis yang sudah dipegang ayahnya, tapi memilih jalan sendiri.

Keluarga Diana memang memiliki bisnis furnitur cukup sukses di Desa Metatu. Wilayah pasarnya meliputi Kecamatan Benjeng dan Cerme. Sebagai generasi milenial dan berlatar belakang pendidikan yang baik, tentu Diana memiliki ide dan inovasi dalam pengembangan bisnisnya tersebut.

Di antaranya, menggandeng vendor. Wilayah bisnisnya pun bukan lagi di Gresik, melainkan di ibu kota. Pemasaran produk-produknya itu dikemas lebih modern dengan sentuhan digital. ’’Kini dapat tambahan amanat baru, sebagai Kades,’’ ujarnya.

Pada hari pertama setelah dilantik sebagai Kades kemarin, Diana mengaku masih cukup kikuk. Maklum, selama masa belajar dan kuliah, praktis waktu Diana banyak dihabiskan di luar desa. Namun, hal itu tidak lantas membuat perempuan yang masih single tersebut minder. Apalagi, dia berlatar belakang jurusan komunikasi. ’’Hari pertama, saya manfaatkan keliling ke rumah-rumah warga. Kulo nuwun dan mohon doa restu,” katanya.

Sama dengan Kades lain, Diana juga memiliki keinginan yang tinggi untuk mengembangkan desanya lebih maju. Menurut dia, Metatu memiliki potensi yang cukup besar. Mayoritas warganya sudah mandiri dari segi pekerjaan. Dari sisi letak geografis, Metatu juga terbilang strategis karena penghubung antar kecamatan. ’’Sebagian besar warga adalah pedagang dan pekerja industri jasa. Saya berharap ke depan Metatu menjadi salah satu desa percontohan,” ungkapnya.

Sistem pemilihan Kades PAW (pergantian antarwaktu) di Desa Metatu tersebut terbilang baru kali pertama di Gresik. Yakni, menggunakan sistem musyawarah mufakat yang diikuti perwakilan masyarakat. Mereka terdiri atas unsur di setiap RT, RW, BPD, tokoh masyarakat, pemuda, dan perangkat desa. Tidak menggunakan pemilihan langsung seperti pilkades pada umumnya.

Baca Juga: Dewan Pendidikan Minta Dispendik Surabaya Tinjau Ulang Rencana PTM

Nah, dari hasil seleksi, muncul tiga kandidat. Ketiganya adalah Abdul Fatah, M. Lutfi Khambali, dan Diana Eviana. Dari total 187 peserta musyawarah, Abdul Fatah mendapatkan 11 suara, M. Lutfi 70 suara, dan Diana meraih 104 suara. Dari 330 desa se-Kabupaten Gresik, setidaknya ada lebih dari 15 Kades perempuan.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore