
Suasana Jembatan Suramadu sehari jelang Hari Raya Idul Adha. Rafika Yahya/JawaPos.com
JawaPos.com–Sehari menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 1421 H, pada Senin (19/7), tidak tampak aktivitas atau mobilitas di sepanjang Jembatan Suramadu. Padahal, aktivitas toron atau pulang kampung bagi warga Surabaya menuju Madura biasa dilakukan.
Dari pantauan JawaPos.com, sejak pukul 10.00 WIB hingga siang, jalanan sepanjang Jembatan Suramadu lengang. Kabag Ops Pol Pelabuhan Tanjung Perak Kompol Eko Nur Wahyudiono menjelaskan, lengangnya jalanan karena pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat.
”PPKM Darurat ini kan harusnya selesai Selasa (20/7). Namun kami lakukan sampai tanggal 24. Selama PPKM darurat, kami lakukan penyekatan atau pembatasan kendaraan,” kata Eko.
Menurut dia, penyekatan atau pembatasan sudah dilakukan sejak PPKM mikro. Yakni sebelum Juli. PPKM mikro itu untuk pembatasan wilayah.
”Untuk toron, sejak 17–24 Juli, kita pertebal. Karena seluruh Indonesia memperketat pembatasan antardaerah,” tegas Eko.
Penyekatan itu dilakukan untuk melakukan pemeriksaan kepada pengendara. Misalnya, kelengkapan surat dari warga ketika akan melintas. ”Kami minta tunjukkan surat SIKM, surat tugas dari perusahaan, dan sertifikat vaksin pertama,” terang Eko.
Pemeriksaan itu, dilaksanakan berdasar sektor pekerjaan. Sebab menurut aturan PPKM darurat, warga yang boleh melintas antardaerah hanya mereka yang bekerja di sektor kritikal dan esensial.
Eko menambahkan, warga sudah mengetahui dan menyadari hal itu. ”Mereka langsung menunjukkan (surat),” kata Eko.
Eko juga memastikan penyekatan yang dilakukan sejak 17–24 Juli dilakukan selama 24 jam. Ratusan personel yang bertugas dibagi 3 sif.
”Untuk penyeberangan Suramadu itu kita siagakan 30 personel dari Polres Tanjung Perak, 30 personel dari Polda Jatim, 30 dari Brimob, 30 dari TNI AD, 30 dari Linmas, 30 dari Satpol PP, dan 18 personel dishub. Dibagi dalam 3 sif dari masing-masing instansi,” papar Eko.
Salah satu warga Madura yang biasa Toron atau mudik jelang Idul Adha adalah Mutibo, 47. Warga asal Sumenep itu tinggal di Jalan Tunjungan Surabaya. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Mutibo mengaku tidak toron. Alasannya karena ribet.
”Males aku. Nanti di Suramadu ditanya-tanya surat. Timbang ribet gak toron ae (daripada ribet lebih baik nggak toron),” ujar Mutibo.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
