Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 Oktober 2022 | 22.46 WIB

Puluhan PKL Tambak Asri Minta Pemkot Surabaya Tak Asal Menggusur

Spanduk penolakan penggusuran tanpa solusi terpasang di sekitar bawah tol Tambak Asri, Kota Surabaya. Paguyuban PKL Tambak Asri/Antara - Image

Spanduk penolakan penggusuran tanpa solusi terpasang di sekitar bawah tol Tambak Asri, Kota Surabaya. Paguyuban PKL Tambak Asri/Antara

JawaPos.com–Puluhan Pedagang Kaki Lima (PKL) di bawah Jembatan Tol Tambak Asri, Kota Surabaya, minta Pemkot Surabaya tidak asal menggusur tanpa ada solusi.

Juru Bicara (Jubir) Paguyuban PKL Bawah Tol Tambak Asri Daniel Lukas Rorong mengatakan, pihaknya menerima surat edaran dari Satpol PP Surabaya yang meminta lokasi jualan di bawah Jembatan Tol Tambak Asri di Kelurahan Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, dikosongkan paling lambat 21 Oktober.

”Para PKL resah setelah menerima surat edaran itu. Tapi PKL bisa bernapas lega karena rencana penggusuran lapak mereka ditunda Satpol PP,” kata Daniel Lukas Rorong seperti dilansir dari Antara.

Daniel mengaku pernah berkomunikasi dengan Asisten Dua Pemkot Surabaya Irvan Widyanto dan Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono melalui pesan WhatsApp (WA) untuk meminta solusi terkait hal tersebut. ”Ini karena surat edaran tersebut baru diterima para PKL Bawah Tol Tambak Asri pada 19 Oktober tanpa ada pemberitahuan sebelumnya berupa sosialisasi,” ujar Daniel Lukas Rorong.

Menurut Daniel, ada yang janggal dalam isi surat edaran karena ditujukan kepada pemilik bangunan liar di bawah jembatan tol itu. Padahal, ada sekitar 50-an PKL yang sampai saat ini masih aktif berjualan di sana. PKL tersebut berjualan dengan membuka warung kopi, warung makanan, soto rombong, sate ayam, konter pulsa, gorengan, potong rambut, tukang permak kain, sampai tambal ban.

”Sebelum pandemi Covid-19, ada 80-an yang tercatat sebagai PKL di sini,” terang Daniel Lukas Rorong.

Meski demikian, Daniel tidak memungkiri ada bangunan liar di bawah jembatan tol Tambak Asri. ”Kalau sasarannya memang bangunan liar, silakan dibongkar. Tapi kalau PKL kena dampaknya juga, ini yang perlu diadakan pertemuan terlebih dahulu untuk mencari solusi,” papar Daniel Lukas Rorong.

Salah seorang PKL setempat, Nurul, berharap tidak ada penggusuran di lapak tempatnya berjualan selama ini. ”Kalau digusur, saya dan suami mau berjualan di mana lagi? Di depan rumah warga, nanti diusir,” kata PKL yang berjualan sate ayam dan daging itu.

Hal senada diungkapkan Giati, yang membuka warung makanan. Dia berharap, jika digusur, paling tidak di relokasi sehingga bisa berjualan kembali.

Pemerintah Kota Surabaya sebelumnya merelokasi ratusan warga yang menempati bangunan liar di bawah jembatan tol dan Kampung 1001 Malam Jalan Lasem Barat, Dupak, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya, pada 17 Oktober 2022.

Menurut Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, setelah dikosongkan, lahan tersebut akan dibangun rumah pompa untuk mengatasi genangan di kawasan Kecamatan Krembangan dan sekitarnya. Sedangkan warga yang telah lama tinggal di kawasan ini juga dipindahkan ke Rumah Susun Sewa Sederhana (Rusunawa) Sumur Welut.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore