
MENJULANG MEGAH: Gedung baru di kompleks Rumah Sakit Islam Surabaya di kawasan Wonokromo. Gedung tersebut menjadi salah satu ikon di wilayah Surabaya Selatan. (Dokumentasi RS Islam Surabaya)
JawaPos.com – Jalan Kertopaten, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Simokerto, Surabaya, sangat bersejarah bagi Nahdlatul Ulama (NU). Di sanalah, organisasi yang kini berusia satu abad itu didirikan pada 31 Januari 1926. Bertepatan dengan 16 Rajab 1344 Hijriah.
Pendirian NU berlangsung di rumah KH Abdul Wahab Hasbullah di Jalan Kertopaten. Sebetulnya itu rumah mertuanya bernama Haji Musa. Di rumah itulah, pada 1914, Wahab Hasbullah muda mendirikan organisasi bernama Tashwirul Afkar. Saat itu usianya 26 tahun.
’’Ini semacam kelompok diskusi yang menjadi kawah pemikiran Kiai Wahab,’’ kata sejarawan NU Riadi Ngasiran kepada Jawa Pos, Senin (6/2).
Sebagai ulama yang pemikir, jelas Riadi, Kiai Wahab berkiprah mendirikan sejumlah organisasi. Selain Tashwirul Afkar, dia mendirikan organisasi pergerakan Nahdlatul Wathon atau Kebangkitan Tanah Air pada 1916. Kemudian mendirikan lagi Nahdlatut Tujjar yang berarti Kebangkitan Saudagar pada 1918.
Kiai Wahab mendirikan organisasi itu bersama tiga tokoh pesantren. Yaitu, KH Ahmad Dahlan Ahyad (Pesantren Kebondalem, Surabaya), KH Mas Alwi bin Abdul Aziz, dan KH Ridlwan Abdullah (Bubutan). Mereka juga menjadi tokoh awal berdirinya NU. Sebelum NU berdiri, sudah terbentuk tiga pilar. Yaitu, Nahdlatul Wathon, Tashwirul Afkar, dan Nahdlatut Tujjar. ’’Ini semacam jadi pemantik,’’ tuturnya.
Nah, pada saat mendirikan NU, para ulama berkumpul di Jalan Kertopaten. Sejumlah kiai dari berbagai daerah berdatangan pada hari bersejarah itu. Tokoh utama tentu Hadratusyekh KH Hasyim Asy’ari. Juga, KH Wahab Hasbullah, KH Bishri Syansuri (Jombang), KH Asnawi (Kudus), KH Nawawi (Pasuruan), KH Ridwan (Semarang), KH Ma’shum (Lasem), KH Nahrawi Thohir (Malang), Ndoro Munthaha (menantu Syaikhona Kholil, Bangkalan, Madura), KH Abdul Hamid Faqih (Gresik), KH Abdul Halim Leuwimunding (Cirebon), KH Ridlwan Abdullah (Surabaya), KH Mas Alwi bin Abdul Aziz (Surabaya), dan KH Abdullah Ubaid (Surabaya).
Pada awal-awal berdiri tahun 1926–1930, pertemuan pengurus NU sering digelar di Gedung Onderling Belang. Bangunan itu terletak di Jalan Penghela Nomor 2, Surabaya. Gedung tersebut pernah difungsikan sebagai percetakan, kini menjadi kawasan pertokoan. Namun tidak tercatat sebagai aset milik NU.
Situs sejarah perjalanan NU yang paling penting dan terawat sampai sekarang adalah Gedung Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO) di Jalan Bubutan VI Nomor 2, Surabaya. Itu adalah kantor pertama PBNU dan saat ini menjadi kantor PCNU Surabaya. Gedung tersebut juga menjadi Monumen Resolusi Jihad Fi Sabilillah NU.
Resolusi jihad menyeru umat Islam di Jawa dan Madura untuk melakukan perjuangan fi sabilillah demi kemerdekaan Indonesia dan agama Islam.
’’Monumen ini sebagai pengingat agar generasi sekarang tahu bagaimana perjuangan ulama dan santri,’’ ujarnya.
Selain monumen itu, jelas Riadi, masyarakat umum bisa mengunjungi gedung PCNU Kota Surabaya. Gedung lawas yang terjaga keasliannya tersebut bisa dikunjungi sewaktu-waktu. Di dalamnya dipasang papan informasi sejarah perjuangan NU. Sejarah para pendiri hingga meletusnya resolusi jihad.
’’Gedung ini terbuka untuk pelajar atau mahasiswa yang ingin tahu sejarah NU,’’ kata wakil ketua Lesbumi PWNU Jawa Timur itu. Bangunan lain yang bersejarah adalah rumah milik KH Ridlwan Abdullah di Jalan Bubutan VI Nomor 20, Surabaya. Di rumah itu, para muassis berdiskusi mengenai nama NU. KH Achmad Saiful Chalim yang juga cucu KH Ridlwan Abdullah menuturkan, rumah tersebut masih terawat sampai sekarang dan menjadi saksi situs bersejarah NU.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
