Logo JawaPos
Author avatar - Image
21 Maret 2026, 15.38 WIB

Tak Mudik, Tapi Tetap Hangat! Kisah Dian Perantau dari Bandung Rayakan Lebaran di Sidoarjo Penuh Makna

Dian dan keluarga shalat Idulfitri di Masjid Agung Sidoarjo dipadati jemaah, termasuk para perantau yang tidak mudik. (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com) - Image

Dian dan keluarga shalat Idulfitri di Masjid Agung Sidoarjo dipadati jemaah, termasuk para perantau yang tidak mudik. (Moch. Rizky Pratama Putra/JawaPos.com)

 

JawaPos.com — Gema takbir menggema di Masjid Agung Sidoarjo saat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah tiba. Ribuan jemaah memadati pelataran, menciptakan suasana khidmat sekaligus hangat di jantung Kota Udang.

Sebagai salah satu masjid terbesar di wilayah tersebut, Masjid Agung Sidoarjo menjadi titik temu warga lokal hingga para perantau.

Mereka datang dari berbagai daerah, membawa cerita dan pengalaman masing-masing dalam merayakan hari kemenangan.

Di antara lautan jemaah, ada kisah sederhana namun penuh makna dari seorang perantau asal Bandung bernama Dian. Tahun ini, ia memutuskan tidak mudik ke kampung halaman dan memilih merayakan Lebaran di Sidoarjo.

Keputusan itu bukan tanpa alasan, karena keluarga istrinya menetap di kota tersebut. Bagi Dian, kebersamaan dengan keluarga mertua tetap menghadirkan suasana Idulfitri yang hangat dan berkesan.

"Masjid ini adalah Masjid Agung, salah satu masjid terbesar di Sidoarjo. Di sini kita bisa berkumpul dan bersilaturahmi dengan warga Sidoarjo lainnya," ujar Dian kepada JawaPos.com, Sabtu (21/3/2026).

Ia mengaku, merantau bukan berarti kehilangan makna Lebaran yang sesungguhnya. Justru, momen ini menjadi kesempatan memperluas ikatan kekeluargaan di tempat yang baru.

"Saya merantau dari Bandung. Kebetulan tahun ini saya tidak pulang ke Bandung karena mertua saya tinggal di sini, jadi saya merayakan Lebaran bersama mereka," imbuh pria 43 tahun tersebut.

Pengalaman merayakan Idulfitri di luar kampung halaman bukanlah hal baru bagi Dian. Dalam beberapa tahun terakhir, ia terbiasa berpindah tempat, mengikuti situasi dan kondisi keluarga.

"Tahun-tahun sebelumnya saya sering berkeliling; kadang di sini, terkadang di Surabaya, atau di kampung halaman saya di Bandung."

Meski begitu, ia menegaskan tidak ada perbedaan berarti dalam menjalankan ibadah. Baik di kota asal maupun di tanah rantau, nilai kebersamaan tetap menjadi inti dari perayaan Idulfitri.

"Menurut saya tidak ada perbedaan yang signifikan. Jika di rumah sendiri saya bersama keluarga inti, di sini saya bersama keluarga istri dan tetangga. Semuanya adalah bagian dari keluarga besar, dan yang terpenting adalah menjaga ikatan silaturahmi."

Editor: Banu Adikara
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore