← Beranda
IHSG Berpeluang Tembus 6.215, tapi Risiko Koreksi Masih Membayangi
Djati Waluyo• Senin, 12 Oktober 2026 | 14.32 WIB
Ilustrasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan berpeluang untuk rebound atau berbalik menguat pada perdagangan 12 hingga 16 Oktober 2026.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, memperkirakan IHSG bergerak konsolidatif pada kisaran 6.000–6.215 pada pekan depan. 

Penembusan resistance rentang tersebut berpotensi membuka ruang penguatan menuju 6.297, sedangkan pelemahan di bawah support 5.973 akan meningkatkan risiko koreksi lanjutan.

Baca Juga: Akhirnya Tiongkok dan Uni Eropa Capai Kesepakatan Soal Penjualan Kendaraan Hibrid

Ia menambahkan untuk jangka pendek, area 6.008–6.025 menjadi zona koreksi yang perlu dicermati, dengan support terdekat di 6.018. 

"Dalam skenario bullish, IHSG berpeluang melanjutkan rebound menuju area penutupan gap di 6.227–6.231. Namun, apabila gagal mempertahankan momentum dan menembus ke bawah 5.973, risiko koreksi lanjutan menuju 5.850–5.911 perlu diwaspadai," ujar Brigita dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (12/10).

Brigita mengatakan, Secara teknikal IHSG menguat 1,04 persen ke level 6.093,76 pada Jumat (9/10) lalu dan ditutup di atas MA3. Indeks juga berhasil bertahan di atas level psikologis 6.000. 

Baca Juga: Konflik AS-Iran Memanas, Rupiah Berpotensi Kembali Tertekan

Pada timeframe mingguan, IHSG menguat 0,94 persen dengan dukungan volume pembelian, tetapi belum menembus MA20 sehingga pemulihan tren jangka menengah belum terkonfirmasi.

Dari sisi momentum, histogram negatif MACD yang terus menyempit mengindikasikan tekanan jual mulai mereda. Namun, potensi death cross pada Stochastic RSI di area pivot menunjukkan bahwa penguatan jangka pendek masih berisiko tertahan.

Sentimen Global dan Domestik 

Brigita menyebut, terdapat sejumlah sentimen dari global dan domestik memengaruhi pergerakan saham dalam sepekan terakhir.

"Pergerakan pasar global sepanjang pekan 5–9 Oktober 2026 diwarnai volatilitas saham teknologi, tingginya imbal hasil obligasi AS, dan risiko geopolitik," ujarnya.

Ia menjelaskan Wall Street sempat bergerak bervariasi seiring tekanan pada saham teknologi akibat kekhawatiran terhadap prospek pendapatan OpenAI serta kenaikan yield US Treasury yang meningkatkan tekanan terhadap valuasi saham.

Di pasar obligasi, yield US Treasury 10Y tetap berada di level tinggi, meskipun sempat terkoreksi setelah lelang obligasi AS mendapat respons permintaan yang kuat. 

Baca Juga: P2G Minta Pemerintah Siapkan Kajian soal Wacana Siswa Tak Otomatis Naik Kelas,

"Sentimen membaik pada Jumat (9/10), ketika Dow Jones naik 0,83 persen, S&P 500 menguat 0,59 persen, dan Nasdaq naik 0,64 persen, didukung pemulihan saham teknologi dan meredanya tekanan pasar obligasi,” ucapnya.

Pergerakan Komoditas

Brigita mengatakan, dari sisi komoditas, harga minyak bergerak volatil akibat perubahan ekspektasi pasokan dan meningkatnya risiko geopolitik. WTI sempat turun ke USD 88,28 per barel pada Rabu (7/10) sebelum kembali naik tajam +3,64 persen ke level USD 91.49 per barel pada Kamis.

Ia menjelaskan penguatan dipicu meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, kekhawatiran terhadap potensi tindakan militer AS terhadap Iran, serta ancaman Badai Isaias terhadap produksi minyak di Teluk Meksiko.

"Pada Jumat (9/10) WTI kembali naik tipis 0,19 persen ke USD 91,66 per barel seiring gangguan produksi akibat badai yang mengimbangi tekanan dari perkembangan diplomatik AS - Iran. Di sisi lain, emas menguat 1,47 persen ke USD 4.193,9 per troy ounce pada 9 Oktober, didukung pelemahan dolar AS dan permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian pasar," ucapnya.

Baca Juga: KDM Pastikan Warga Jabar Sakit Dapat Perawatan Gratis Kelas 3

Sementara itu, harga batu bara Newcastle terkoreksi ke USD 148,85 per ton pada penutupan 9 Oktober setelah sempat menyentuh USD 152 per ton, level tertinggi dalam 23 bulan. 

Permintaan listrik India dan China serta keterbatasan pasokan domestik China menjadi faktor pendukung harga, meskipun pemulihan produksi China berpotensi membatasi kenaikan lebih lanjut.

Rekomendasi Saham 

IPOT merekomendasikan sejumlah saham yang menarik untuk dicermati pada perdagangan, yakni PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), serta Reksa Dana Syariah Premier ETF Gold Sharia Indonesia dengan kode XGLD.

Pertama, saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS). IPOT merekomendasikan buy EMAS dengan area entry 7.950–8.075, target price 8.700, dan stop loss 7.625.

Secara teknikal, pergerakan EMAS menunjukkan potensi penguatan lanjutan setelah berhasil bergerak di atas MA5 hingga MA50. Selain itu, indikator Trade Flow mengindikasikan adanya akumulasi dari smart money dan investor asing yang memperkuat sinyal positif tersebut.

Baca Juga: Modifikasi Motor Tipis-Tipis, Ini 4 Bagian yang Bisa Diubah Tanpa Mengganggu Kenyamanan

Kedua, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan rekomendasi buy pada level entry 6.950, target price 7.400, dan stop loss 6.825.

Pergerakan ICBP mengonfirmasi sinyal rebound dengan membentuk pola candlestick bullish marubozu. Tren jangka pendek juga menunjukkan penguatan seiring posisi harga yang kembali bergerak di atas MA5 hingga MA20.

Ketiga, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) dengan rekomendasi buy pada level entry 1.070, target price 1.120, dan stop loss 1.050.

EDITOR: Bintang Pradewo