← Beranda
Alexandra Untono Ubah Purun dari Rumput Liar Jadi Ruang Ekonomi Baru Perajin Kalsel
Dimas Choirul• Minggu, 4 Oktober 2026 | 02.15 WIB
Alexandra Christy Untono (dua dari kanan) membersamai ibu-ibu di Kalimantan Selatan mencari penghasilan tambahan dari menganyam Purun. (Istimewa)

 Alexandra Christy Untono mengubah purun, rumput liar di lahan gambut Kalimantan Selatan, menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat pedesaan.

JawaPos.com – Beberapa waktu belakangan, kesibukan 126 perajin di 15 desa di Kalimantan Selatan makin bertambah.

Itu karena mereka harus memenuhi permintaan beragam produk anyaman berbahan purun, rumput liar yang tumbuh di lahan basah Kalimantan Selatan.

Kesibukan mereka tidak lepas dari tangan dingin Alexandra Christy Untono, yang menginisiasi Gaia Wave, sebuah wadah wirausaha sosial yang melibatkan para perajin dari 15 desa di Kalsel.

Baca Juga: Pengelolaan Gambut di Riau Dijadikan Percontohan Nasional, Menhut Sebut Sebagai Laboratorium Hidup

Melalui tangan siswi kelas 12 ACS Jakarta itu, purun diolah menjadi beragam produk fungsional yang membantu meningkatkan pendapatan perajin hingga 150 persen.

Purun dikenal sebagai sejenis rumput liar yang tumbuh subur di lahan-lahan basah di Kalsel.

Tanaman ini  tumbuh secara alami di lingkungan yang basah, termasuk kawasan gambut dan rawa. 

Kini, batang-batang purun diolah oleh para perajin menjadi beragam produk yang diminati pasar.

Menurut dia, Purun telah lama dimanfaatkan masyarakat Kalsel sebagai bahan anyaman.

Baca Juga: BPGMN Bakal Dibentuk, Prabowo Ajak Para Pakar Mengelola Gambut Nasional

“Purun tumbuh subur di lingkungan yang basah. Dengan menciptakan nilai ekonomi dari purun, kami ingin membantu membangun insentif agar masyarakat tetap melihat nilai dari lanskap tempat purun tumbuh,” ujar Alexandra, dikutip Sabtu (3/10).

Maka, untuk memastikan bahan baku purun tetap lestari, harus ada upaya menjaga tempat tumbuhnya, yakni lahan gambut.

Menjaga gambut tetap basah bukan hanya soal lingkungan, namun juga terkait dengan keberlanjutan kehidupan masyarakat yang bergantung pada lanskap tersebut, salah satunya lewat anyaman purun.

Dari sisi lingkungan, lahan gambut merupakan ekosistem yang menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar dan berperan penting dalam menjaga tata air.

Ketika gambut dikeringkan, dibakar, atau dialihfungsikan, fungsi ekologisnya dapat terganggu dan risiko kebakaran serta pelepasan karbon meningkat. 

Baca Juga: NASA Pantau Kebakaran Gambut Indonesia, Asap Selimuti Kalimantan hingga Malaysia

Sementara, dari sisi ekonomi, gambut menumbuhkan tanaman purun yang kini menjadi salah satu sumber ekonomi bagi para perajin di Kalsel.

Di tengah kebutuhan untuk menjaga ekosistem gambut, purun menawarkan sebuah titik temu antara kepentingan lingkungan dan ekonomi masyarakat.

Tanaman ini tumbuh subur pada kondisi lahan basah dan dapat dipanen dalam siklus tiga hingga enam bulan. 

"Dengan memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi pada purun yang tumbuh di lanskap tersebut, pemanfaatannya dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat hubungan antara kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan asal material," lanjut Alexandra.

Bagi Alexandra, gambut dan purun membuka peluang untuk menciptakan model ekonomi yang memberikan nilai lebih tinggi pada material lokal sekaligus mendukung masyarakat yang bergantung pada lanskap basah Kalimantan.

Baca Juga: Data Terkini BNPB, 734,81 Hektare Lahan Gambut Masih Terbakar, Karhutla Juga Terjadi di Kawasan IKN

Pemberdayaan Perempuan dan Dampak Positif Bagi Keluarga

Pada 2025, Alexandra mengunjungi Kalsel dan melihat kesenjangan antara keterampilan para perajin purun dengan akses terhadap pasar yang konsisten dan bernilai tambah.

Ia kemudian membangun model dari hulu hingga hilir: purun diproses dan dianyam oleh perajin lokal, lalu dikembangkan menjadi produk seperti tech organizer, document pouch, tas, aksesori, dan kebutuhan rumah tangga.

Saat ini, Gaia Weave bermitra dengan 126 perajin di 15 desa di Kalimantan Selatan dan memiliki kapasitas produksi sekitar 6.000 unit per bulan.

Produk-produknya telah tersedia di lebih dari 100 gerai ritel, termasuk Ranch Market dan Dekoruma.

Produk purun juga mulai digunakan pelanggan korporasi untuk kebutuhan merchandise, acara, dan hadiah karyawan.

Baca Juga: Tepung Ubi Bukan Solusi Utama Tangani Karhutla Kalimantan, Pahami Karakteristik Gambut

Dampak ekonomi menjadi salah satu hasil yang paling terukur dari pemnfaatan purun secara maksimal.

Kemitraan Gaia Weave telah membantu meningkatkan pendapatan perajin sekitar 100 hingga 150 persen.

Dari sebelumnya sekitar Rp 1 juta–Rp 1,5 juta, kini menjadi Rp 2,7 juta–Rp 3 juta per bulan.

Bagi sebagian perajin yang tetap bekerja sebagai petani, kegiatan menganyam juga menjadi sumber penghasilan tambahan yang dapat dilakukan dari rumah.

Salah satu mitranya, Idang, sebelumnya mengandalkan pekerjaan tani musiman dengan penghasilan sekitar Rp 40.000–Rp 50.000 per hari.

Baca Juga: Polda Kalsel Gunakan Cairan Tepung Ubi untuk Padamkan Karhutla Gambut

Setelah bergabung dengan inovasi milik Alexandra bersama para Perempuan lainnya, ia menganyam purun usai bekerja di ladang.

Dari kegiatan itu, kini ia memperoleh tambahan penghasilan sekitar Rp 80.000–Rp 100.000 per hari.

“Setelah pulang dari sawah, saya biasanya melanjutkan dengan menganyam di rumah. Sekarang keterampilan yang sudah kami miliki bisa menjadi tambahan penghasilan, dan hasil anyaman kami digunakan menjadi produk yang dipakai lebih banyak orang,” ujar Idang.

Bagi Alexandra, peningkatan nilai ekonomi material lokal perlu berjalan bersama dengan peningkatan nilai keterampilan masyarakat.

Menurut Alexandra, keberlanjutan juga perlu dilihat dari siapa yang memperoleh manfaat dalam rantai pasok.

Baca Juga: Ancaman Bara Gambut Masih Mengintai Kalimantan, BNPB Terjunkan Helikopter dan Modifikasi Cuaca

“Ekonomi sirkular bukan hanya tentang material yang dapat digunakan kembali atau terurai. Yang tidak kalah penting adalah memastikan orang-orang dalam rantai pasok mendapatkan manfaat yang adil,” katanya.

Pengalaman Alexandra dalam keberlanjutan dan kewirausahaan turut membentuk pendekatan Gaia Weave.

Ia pernah magang di Birufinery dengan fokus pada pemetaan lokasi rumput laut di Nusa Tenggara Timur dan mendirikan EcoFunCycle, jaringan daur ulang sampah yang telah mengolah lima ton material dari tiga sekolah.

Ia juga berperan sebagai perencana akademik untuk 25 modul kurikulum di Lapas Kelas 1 Anak.

Sebagai bagian dari generasi muda yang bergerak di bidang inovasi keberlanjutan, Alexandra melihat bahwa anak muda memiliki peran penting dalam menerjemahkan isu lingkungan menjadi solusi praktis.

Baca Juga: Menhut Raja Juli Pantau Karhutla Kalsel, Api Padam tapi Asap Lahan Gambut Masih Ada

Melalui inovasinya ini, ia juga berupaya memperluas percakapan mengenai material berkelanjutan, keterampilan perajin, dan ekonomi sirkular kepada masyarakat melalui berbagai kanal digital.

EDITOR: Bayu Putra