← Beranda
Komdigi Bidik Tarif Internet Rp 100 Ribu untuk 100 Mbps, Perluas Fixed Broadband
Nanda Prayoga• Rabu, 14 Oktober 2026 | 23.54 WIB
Ilustrasi internet cepat menjadi kebutuhan mendasar saat ini. (Fort Collins Connexion).

JawaPos.com - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan layanan internet berkecepatan 100 Mbps dapat dinikmati masyarakat dengan biaya berlangganan sekitar Rp 100 ribu per bulan.

Untuk itu, kini Komdigi tengah mengkaji perluasan jaringan internet tetap atau fixed broadband untuk menekan biaya layanan internet di Indonesia. 

Wamenkomdigi Nezar Patria mengatakan, perluasan fixed broadband menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan keterjangkauan internet.

Langkah tersebut juga diharapkan memperluas pilihan layanan bagi masyarakat, terutama di wilayah padat penduduk yang masih menghadapi biaya konektivitas relatif mahal.

Baca Juga: Listrik di Batam Padam Massal, Komdigi masih Dalami Penyebabnya 

“Kita ingin ongkosnya juga semakin rendah dengan memperkuat fixed broadband, bukan cuma mobile broadband. Sekarang fixed broadband kita penetrasinya kurang lebih 22 persen dari total konektivitas yang ada,” ujarnya usai acara Digital Infrastructure Summit 2026 di Jakarta Pusat, dikutip Rabu (14/10).

Nezar menjelaskan, penetrasi fixed broadband di Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 22 persen.

Pemerintah berharap angka tersebut dapat meningkat hingga sekitar 50 persen agar akses internet rumah tangga semakin luas dan terjangkau.

Menurut dia, biaya berlangganan internet di Indonesia masih relatif tinggi. Padahal, dengan pendapatan per kapita yang mendekati 5.000 dolar AS, biaya internet rumah tangga idealnya berada di kisaran Rp 200 ribu per bulan.

Sementara itu, biaya berlangganan yang saat ini berada di sekitar Rp 300 ribu dinilai masih perlu ditekan.

Baca Juga: Biaya Ojol Pengantaran Barang dan Makanan Bakal Diatur, Komdigi Siapkan Aturan Transparansi Harga

Karena itu, pemerintah menargetkan masyarakat dapat menikmati layanan internet berkecepatan 100 Mbps dengan biaya sekitar Rp 100 ribu.

“Jadi kita punya target untuk 100 Mbps paling tidak bisa bayar cuma 100 ribu karena saat ini ongkos untuk langganan internet di Indonesia itu menurut data dari ITU itu masih tinggi,” jelasnya.

“Biayanya masih terlalu mahal, sehingga kita butuh perluasan jaringan, terutama fixed broadband, sehingga kita bisa tekan biayanya,” tegas Nezar.

Selain menekan biaya berlangganan, Kemkomdigi juga berupaya memperluas akses internet ke wilayah yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi.

Nezar menyebut cakupan jaringan 4G telah mencapai 97 persen wilayah berpenghuni. Namun, masih ada sejumlah kawasan dengan populasi kecil yang belum mendapatkan akses memadai.

Baca Juga: Komdigi Siapkan 250 Frekuensi dan 4 BTS Bergerak untuk Dukung MotoGP Mandalika 2026

Operator Wajib Bangun Jaringan di Wilayah Tertinggal 

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah memasukkan kewajiban pembangunan jaringan di wilayah tertinggal ke dalam kebijakan lelang spektrum frekuensi.

Melalui mekanisme ini, operator yang memenangkan lelang diharapkan turut membangun infrastruktur di daerah yang selama ini belum terlayani secara optimal.

“Kita mewajibkan semua pemenang-pemenang spektrum untuk pembangunan koneksi 4G maupun 5G untuk memperhatikan daerah-daerah ini,” ungkapnya.

Di sisi lain, pemerintah juga mendorong pengembangan jaringan 5G untuk meningkatkan kualitas konektivitas nasional.

Nezar menyebut penetrasi 5G di Indonesia saat ini masih berada di kisaran 8,5 persen sehingga perlu ditingkatkan untuk mendukung kebutuhan digital masyarakat.

Baca Juga: UU Satu Data Indonesia Disahkan, Komdigi Siapkan Sistem yang Saling Terhubung

“Kita menginginkan itu bisa ditingkatkan dan juga untuk memperkuat konektivitas di daerah-daerah yang populasinya padat tetapi ongkosnya masih mahal,” katanya.

Nezar menegaskan, pengembangan jaringan internet tetap dan seluler perlu berjalan beriringan.

Upaya pemerataan konektivitas tidak cukup hanya dengan memperluas cakupan jaringan, tetapi juga harus memastikan kualitas layanan dan biaya berlangganan dapat dijangkau berbagai lapisan masyarakat.

“Kita berharap ini bisa ditingkatkan sampai sekitar 50-an persen, sehingga dengan fixed broadband kita bisa mendapatkan keuntungan aksesibilitas yang lebih luas, termasuk di sini untuk memenuhi inklusivitas. Sehingga semua elemen masyarakat bisa menikmati dan mengakses jaringan ini dengan murah,” pungkasnya.

Baca Juga: Komdigi Tangani 4,1 Juta Konten Judi Online, Meutya: Diblokir Muncul Lagi

 

EDITOR: Bayu Putra