JawaPos.com - Wacana pemerintah untuk menggratiskan biaya pendidikan tinggi mendapat tanggapan positif dari mahasiswa.
Mahasiswa meminta wacana itu benar-benar direalisasikan, bukan hanya jadi janji manis belaka.
Sebab, kebijakan kuliah gratis dinilai dapat membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Terutama bagi mahasiswa jalur mandiri yang harus membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) dengan biaya yang cukup besar.
Baca Juga: Perjalanan Mewujudkan Kuliah Negeri Gratis, dari Janji Prabowo ke Meja Ratas
Hal itu disampaikan Adrian Kenzo Satriawan, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), Program Studi Antropologi.
Menurut Adrian, apabila kebijakan pendidikan tinggi gratis benar-benar direalisasikan, dirinya merasa bersyukur karena dapat membantu mengurangi beban orang tua.
“Jika benar-benar ada biaya kuliah gratis dari pemerintah, jelas senang dong. Alhamdulillah bisa membantu meringankan beban orang tua saya. Karena UKT lumayan mahal juga. Kasihan ibu saya,” ujar Adrian saat dikonfirmasi JawaPos.com, Rabu (7/10).
Adrian mengatakan, kondisi ekonomi keluarga sempat membuatnya mempertimbangkan untuk tidak melanjutkan kuliah di Unair meski dirinya telah dinyatakan lolos seleksi.
Ibunya yang bekerja sebagai pengemudi taksi online tetap berusaha agar Adrian dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
Baca Juga: Kuliah Negeri Gratis Butuh Anggaran Jumbo, Bisa Terealisasi 100 Persen di 2029
“Sebetulnya kemarin saya sempat tidak masukin (melanjutkan kuliah), meski sudah lolos tes, tetapi ibu mengusahakan agar saya tetap bisa kuliah di Unair. Karena kata ibu saya, masuk ke Unair itu susah,” katanya.
Bagi Adrian, pendidikan tinggi tetap penting meskipun kuliah tidak selalu menjadi jaminan seseorang akan mendapatkan kehidupan yang mapan.
Menurut dia, pendidikan di perguruan tinggi dapat menjadi bekal untuk menghadapi masa depan sekaligus memperluas cara pandang seseorang.
“Ibu punya prinsip, meski kuliah tidak menjamin kita kaya, tetapi pendidikan di perguruan tinggi menjadi bekal untuk masa depan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Tapi dengan kita mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi, bisa memberikan pandangan lebih luas pada kita,” tuturnya.
Karena itu, Adrian berharap wacana pendidikan tinggi gratis tidak berhenti sebagai pembahasan atau sekadar rencana.
Baca Juga: Pengamat: Kuliah Negeri Gratis Bisa Diterapkan 2027, Tapi Parsial
Dia berharap kebijakan tersebut benar-benar dapat diwujudkan sehingga mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi memiliki kesempatan lebih besar untuk mengakses pendidikan tinggi.
“Semoga pendidikan gratis ini tidak sekadar wacana saja atau prank,” kata Adrian.
Hapus Jalur Mandiri agar Tak Ada Diskriminasi
Nadia, (nama samaran), mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran (Unpad) menyebut rencana kuliah gratis harus diikuti oleh penyederhanaan sistem seleksi masuk PTN.
Tahun ini, kampus masih menerima mahasiswa melalui jalur mandiri, yang mayoritas berasal dari kalangan mampu.
Bila kuliah negeri gratis jadi diterapkan untuk seluruh mahasiswa kampus negeri, ia mengusulkan agar jalur mandiri dihapus.
Baca Juga: Kampus Swasta soal Kuliah Negeri Gratis: Hapus Jalur Mandiri, Alihkan Bantuan
Tujuannya agar seluruh mahasiswa PTN mendapat kesempatan pendidikan yang setara tanpa dibebani perbedaan biaya masuk.
"Harusnya jalur mandiri tuh ditiadakan. Karena seharusnya namanya juga perguruan tinggi negeri, harusnya memang disupport full sama pemerintah," ujarnya saat dihubungi JawaPos.com, dikutip Jumat (9/10).
Nadia yang mulanya masuk lewat jalur mandiri merasakan langsung betapa beratnya membiayai kuliah, ketika kondisi ekonomi keluarga berubah akibat ayahnya sakit hingga meninggal.
Biaya kuliah yang tetap harus dibayar, ditambah tidak adanya keringanan yang memadai dari kampus, membuatnya sempat terpaksa cuti dan harus berjuang agar bisa melanjutkan pendidikan.
Mahasiswa Jalur Mandiri Juga Berharap Kuliah Gratis
Nadia menilai pendidikan gratis sangat penting, terutama bagi mahasiswa yang harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Baca Juga: Mahasiswa PTN Dijanjikan Kuliah Gratis, Bagaimana Nasib Kampus Swasta?
Jika biaya pendidikan ditanggung pemerintah, mahasiswa bisa lebih fokus belajar dan menyelesaikan studi dengan hasil yang optimal.
"Penting banget pendidikan itu. Karena saya ngerasain sendiri susahnya pendidikan tanpa adanya biaya. Apalagi kalau sambil kerja, bagi-bagi waktu lagi, bagi pikiran, bagi tenaga, itu juga susah banget," kata Nadia.
Menurut dia, kebijakan kuliah gratis dapat membantu mahasiswa menyelesaikan pendidikan lebih cepat tanpa terus dibayangi persoalan biaya.
Karena itu, ia berharap program tersebut tidak mengabaikan mahasiswa yang masuk melalui jalur mandiri.
Kondisi Ekonomi Keluarga Berubah di Tengah Kuliah
Pengalaman Nadia menjadi salah satu alasannya menyoroti beban biaya mahasiswa jalur mandiri.
Baca Juga: Kemendiktisaintek Serius Siapkan Skema untuk Realisasikan Pendidikan Tinggi Negeri Gratis
Saat mendaftar melalui jalur tersebut, ia mengajukan pembayaran Iuran Pengembangan Institusi (IPI) secara bertahap dalam dua termin.
Namun, kondisi keluarganya berubah ketika sang ayah jatuh sakit. Ayahnya merupakan satu-satunya anggota keluarga yang bekerja, tetapi harus mengambil cuti besar selama tiga bulan tanpa dibayar oleh perusahaan tempatnya bekerja.
Situasi semakin sulit setelah ayahnya meninggal sekitar setahun kemudian. Keluarga Nadia kehilangan sumber penghasilan, sementara kewajiban pembayaran biaya kuliah masih berjalan.
"Jadi sama sekali nggak ada penghasilan, sedangkan saya pun masih ada cicilan buat IPI itu," tuturnya.
Nadia mengaku telah mengajukan keringanan biaya kepada kampus agar tetap bisa melanjutkan kuliah.
Baca Juga: Dorong Pendidikan Gratis, Prabowo Bentuk Tim Khusus untuk Kaji Anggaran
Namun, menurut dia, keringanan yang diberikan hanya sekitar 25 persen dari Uang Kuliah Tunggal (UKT), sedangkan tagihan IPI tidak mengalami pengurangan.
Besarnya biaya yang masih harus dibayar membuat Nadia kesulitan memenuhi kewajiban kuliah.
Mahasiswa semester 9 itu pun harus berulang kali mendatangi kantor program studi hingga rektorat untuk memperjuangkan kelanjutan pendidikannya.
"Setiap semester tuh menurut saya melelahkan banget karena kantor ke prodi, ke pusat, ke rektorat, bolak-balik untuk memperjuangkan pendidikan saya biar tetap lanjut," katanya.
Pada semester sebelumnya, Nadia mengaku masih berusaha melanjutkan kuliah dengan menawarkan jumlah pembayaran UKT sesuai kemampuan ekonominya.
Baca Juga: Wagub Papua Pegunungan Minta Prabowo Bangun Sektor Pendidikan, Makan Gratis Diutamakan
Namun, permintaan tersebut tidak disetujui oleh pihak kampus sehingga dia terpaksa mengambil cuti.
Kondisi itu membuat Nadia akhirnya menjalani pekerjaan sambil berusaha mempertahankan pendidikannya.
"Seharusnya hal-hal seperti itu diperhatikan banget karena ini masalahnya di luar rencana. Kita nggak tahu bakal terjadi seperti ini," ungkapnya.
Kuliah Gratis Harus Merata Tanpa Terkecuali
Bagi Nadia, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kemampuan ekonomi mahasiswa bisa berubah sewaktu-waktu.
Mahasiswa yang semula mampu membayar biaya kuliah belum tentu dapat mempertahankan kemampuan tersebut hingga menyelesaikan studi.
Baca Juga: Prodi Sarjana Farmasi dan Prodi Pendidikan Profesi Apoteker FKIK UAJ Raih Akreditasi Unggul
Karena itu, ia berharap kebijakan kuliah gratis benar-benar memperhatikan kebutuhan mahasiswa tanpa membedakan jalur masuk.
Menurut Nadia, penghapusan jalur mandiri dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangibeban biaya yang berpotensi menghambat mahasiswa menyelesaikan pendidikan.
Ia juga berharap kampus memiliki mekanisme keringanan yang lebih responsif ketika mahasiswa mengalami perubahan kondisi ekonomi secara drastis.
Dengan begitu, mahasiswa tidak harus menghadapi risiko terhentinya pendidikan hanya karena kesulitan membayar biaya kuliah.
Baca Juga: MGBKI Soroti Dualisme Pendidikan Dokter Spesialis, Serahkan Amicus Curiae Uji UI Kesehatan ke MK