Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 24 Desember 2022 | 16.10 WIB

Kaleidoskop 2022: Gempa Bumi Cianjur, Bencana dengan 600 Korban Tewas

Photo - Image

Photo

JawaPos.com–Selama 2022, terdapat 3.318 peristiwa bencana alam di Indonesia berdasar Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 4 Desember 2022.

Bencana alam yang paling banyak terjadi adalah banjir yakni 1.420 kejadian atau 42,8 persen dari total kejadian bencana hingga awal Desember tahun ini. Selanjutnya, terdapat 989 kejadian cuaca ekstrem, 608 tanah longsor, dan 250 kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ada pula gempa bumi yang terjadi sebanyak 25 kejadian, gelombang pasang/abrasi 22 kejadian, serta 4 kejadian kekeringan.

Wilayah yang mengalami kejadian bencana alam terbanyak selama periode tersebut berada di Jawa Barat, yakni sebanyak 775 kejadian. Jawa Tengah dan Jawa Timur masing-masing 457 dan 380 kejadian.

Seluruh kejadian bencana itu membuat lebih dari 5,7 juta orang terpaksa mengungsi, 563 orang meninggal dunia, 8.694 orang luka-luka, dan 43 orang hilang. Bencana tersebut juga mengakibatkan 72.218 rumah rusak, dengan rincian 13.842 rumah rusak berat, 17.210 rusak sedang, dan 41.166 rusak ringan.

Kemudian, sebanyak 1.732 fasilitas umum juga dilaporkan mengalami kerusakan, terdiri dari 1.047 fasilitas pendidikan rusak, 595 fasilitas peribadatan rusak, dan 90 fasilitas kesehatan rusak.

Bencana alam yang memakan banyak korban jiwa adalah gempa bumi di Kabupaten Cianjur. Gempa bumi dengan magnitudo 5,6 melanda wilayah barat daya Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, pada Senin (21/11) pukul 13.21 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa bumi itu berada di koordinat 6,84 Lintang Selatan dan 107,05 Bujur Timur, sekitar 10 kilometer barat daya Kabupaten Cianjur, di kedalaman 10 km.

Korban meninggal tercatat 335 ditambah delapan orang yang belum ditemukan. Pemerintah Kabupaten Cianjur mencatat jumlah korban meninggal akibat bencana gempa bumi Cianjur 5,6 magnitudo sebanyak 600 orang. Bupati Cianjur Herman Suherman mengatakan, jumlah korban itu bertambah setelah dilakukan pendataan ulang. Sekitar 265 korban gempa yang meninggal tidak dilaporkan namun langsung dimakamkan keluarganya.

”Banyak yang tidak melaporkan anggota keluarganya yang meninggal akibat gempa, setelah dilakukan pendataan ulang jumlahnya mencapai 600 orang yang tersebar di sejumlah desa di Kecamatan Pacet, Cugenang, Cianjur, dan Warungkondang,” kata Herman seperti dilansir dari Antara.

Bupati menjelaskan, di Kecamatan Cugenang dilaporkan 400 orang meninggal dunia akibat gempa tersebut. Termasuk delapan orang yang belum ditemukan. Demikian pula di Kecamatan Pacet, Cianjur, dan Warungkondang, karena sudah dimakamkan tapi tidak dilaporkan, sehingga mereka tidak masuk dalam daftar di Pemkab Cianjur.

Bupati meminta RT/RW dan perangkat desa mendata ulang warga yang meninggal akibat gempa dan tidak dibawa ke rumah sakit atau puskesmas. ”Data korban meninggal berdasar nama per alamat dengan surat keterangan kematian dari pemerintah desa, sehingga data tersebut akan diteruskan ke Kemensos agar keluarga yang ditinggalkan dapat menerima uang duka,” ujar Herman.

Dia menambahkan, uang duka akan diserahkan akhir tahun kepada ahli waris setelah mendapat persetujuan dari Kementerian Sosial. ”Sudah kami serahkan dan akan segera dicairkan dari kementerian untuk selanjutnya akan dibagikan kepada ahli waris di akhir tahun,” ucap Herman Suherman.

Pemkab Cianjur mencatat korban tewas akibat gempa di Cianjur bertambah menjadi 335 orang. Itu setelah tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi jenazah bocah laki-laki berusia 11 tahun di Desa Cibulakan, Kecamatan Cugenang. Sedangkan delapan lainnya masih dicari.

Kepala BPBD Cianjur Rizal mengatakan, jasad korban ditemukan Minggu (11/12) malam, saat petugas gabungan TNI/Polri bersama sukarelawan dan warga sedang melakukan bersih-bersih puing rumah yang akan dibangun kembali pemiliknya. Petugas mencium bau tak sedap, sehingga langsung melakukan pencarian,” kata Rizal.

Petugas akhirnya menemukan jasad korban yang sudah membusuk dan langsung dibawa ke RSUD Sayang Cianjur. Hasil identifikasi korban atas nama Rifki sudah dilaporkan orang tuanya hilang sejak Senin (21/11) saat gempa 5,6 magnitudo mengguncang Cianjur.

Atas temuan tersebut, tim SAR gabungan akan memfokuskan pencarian korban yang masih dilaporkan hilang diduga tertimpa bangunan rumah yang ambruk di wilayah tersebut. Itu dilakukan sambil membantu warga menyingkirkan material rumah yang ambruk sebelum dibangun kembali.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore