Logo JawaPos
Author avatar - Image
27 Agustus 2023, 16.08 WIB

Bola-Bola Grafologi

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

***

Syahdan Baldasar telah bekerja sebagai pelukis peniru. Keterampilannya yang hebat melahirkan seratus lukisan tiruan karya maestro. Yang mengejutkan, Baldasar tidak hanya membikin lukisan tiruan, tetapi juga menuliskan tanda tangan tiruan dalam lukisan-lukisan yang dikerjakan itu. Tiruan tanda tangan Baldasar luar biasa persisnya dan kena benar karakternya. Konon sebelum sampai ke situ, Baldasar mempelajari dulu ihwal pelukis yang dipalsukan tanda tangannya itu secara grafologis. Dari sejarah seninya, sejarah hidupnya, sampai psikologinya. Dutasena –yang pandai menjual karya seni apa saja– memang resmi menerima tawaran diri Baldasar untuk mengerjakan keduanya.

Belum sampai tiga tahun Baldasar sudah kaya raya. Rumahnya mograng-mograng di kaki bukit. Mobilnya banyak. Selain ada BMW 8 Series Coupe, terparkir juga di garasinya Lexus LC dan Bentley Flying Spur. Meski dua mobil terakhir ini ia beli seken dari seorang pengacara.

Tidak seperti pohon kemboja yang tak kenal musim untuk berbunga, musim mengoleksi lukisan mendadak anjlok. Resesi yang berkait-kait dengan konflik politik ditambah derita global lantaran pandemi Covid-19 adalah penyebabnya. Baldasar terdampak luar biasa sehingga tidak ada lagi pemasukan. Sementara biaya hidupnya sudah telanjur tinggi. Maka dengan hati berlumur frustrasi ia menghibur diri menonton promosi sepak bola Piala Dunia Qatar di televisi.

”Aku ada ide!” Tiba-tiba ia berjingkat dari sofanya.

Beberapa hari kemudian Baldasar sudah berada di keramaian Piala Dunia Qatar. Uang saya di bank masih lebih dari cukup kalau untuk sekadar melanglang, ucapnya dalam hati. Di lobi hotel ia bertemu Raffiri Armand, selebriti yang jadi sultan karena kaya tiada terkira. Mereka potret bersama sambil keduanya mengangkat sebutir bola.

Piala Dunia Qatar sudah usai. Argentina juara dan Prancis merana. Namun kegembiraan rakyat Argentina tak bisa mengalahkan sukacita Baldasar yang sedang tampil sebagai penghelat sebuah pameran dan lelang unik di sebuah mal. Kepada pengunjung yang hadir dalam opening ceremony ia berunjuk pidato.

”Hadirin yang berbahagia, Anda pasti hanya tahu bahwa saya seorang pelukis. Tetapi Anda kurang tahu bahwa saya sesungguhnya juga penggemar sepak bola yang tiada duanya. Selebihnya saya juga pengultus para pemain bola dunia. Oleh karena itu, ketika saya datang ke Piala Dunia Qatar beberapa waktu lalu, pekerjaan saya tak hanya menonton, tetapi juga mengejar para bintang untuk meminta tanda tangan. Luar biasa jerih payah saya untuk mendapatkan itu. Saya harus melobi para manajer kesebelasan untuk bisa masuk ke kamar ganti. Harus gesit beralasan agar saya bisa mendekati bintang pujaan di luar lapangan. Harus pintar menjalin kata-kata berbagai bahasa agar para jagoan bersedia membubuhkan tanda tangannya di atas bola yang saya bawa,” tutur Baldasar.

”Sedangkan bola-bola yang bertanda tangan ini bukanlah bola biasa. Karena 35 bola yang saya pamerkan sekarang sesungguhnya adalah bola yang pernah dimainkan di tengah lapangan. Hadirin bisa menghitung, setiap kali pertandingan biasanya menggunakan 7 sampai 10 bola. Karena bola yang tertendang jauh ke luar lapangan selalu segera digantikan dengan bola baru. Untuk itu, saya tak henti merayu para pemungut bola yang terposisi di tepian. Dengan berbagai cara pendekatan, saya bisa mengumpulkan banyak bola dari berbagai pertandingan.”

Sebagian tamu bertepuk tangan.

”Nah, 35 bola itulah yang ditandatangani oleh para bintang. Hadirin sekarang bisa menyaksikan bola-bola bertanda tangan itu. Bola-bola inilah yang akan saya lelang sekarang! Saya ingin 50 persen uang hasil lelang ini disumbangkan untuk korban tragedi Kanjuruhan.”

Semua tamu memberikan aplaus.

Baldasar turun dari mimbar. Ratusan tamu asyik menyaksikan displai bola bertanda tangan yang akan dilelang. Menakjubkan memang. Ada bola yang bertanda tangan Kylian Mbappe dan Olivier Giroud dari Prancis. Lionel Messi dan Enzo Fernandez dari Argentina. Takefusa Kubo pemain sayap dari Jepang. Hector Moreno bek tengah Meksiko. Goncalo Ramos dari Portugal. Joshua Kimmich dari Jerman. Cho Gue-sung dari Korea Selatan. Achraf Hakimi dan Mehdi Benatia dari Maroko. Dominik Livakovic kiper Kroasia, Mohammed Kudus dari Ghana, sampai Cristiano Ronaldo sang kapten legendaris Portugal.

”Sayang saya tidak berhasil mendekati Julian Alvarez si penyerang Argentina dan Cody Gakpo sayap jagoan dari Belanda. Saya kecewa,” kata Baldasar kepada sejumlah pengunjung. Wajahnya mengerut agak sedih.

Lalu lelang dilaksanakan dan berlangsung bukan main ramai. Semua bola grafologi itu terjual dengan harga tinggi setelah paddle bid naik bertubi-tubi. Pengunjung menghitung, tak kurang Rp 77 miliar terkumpul dari lelang itu! Lima puluh persen untuk korban tragedi Kanjuruhan. Lalu 50 persen tentu untuk Baldasar sang pemburu tanda tangan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore