Logo JawaPos
Author avatar - Image
06 Desember 2025, 23.14 WIB

Gajah

Dalam bukunya, When El­e­­phants Weep, Jeffrey Mous­saieff Mason, seorang peneliti yang mendalami emosi pada hewan, mengu­raikan bagaimana gajah merasakan teror dan trauma. Ia memberikan contoh ba­gai­mana anak-anak gajah di Kenya yang diselamatkan dari perburuan, mereka se­ring terbangun dari tidurnya meronta-ronta dan menge­luarkan suara yang nyaring.

Anak-anak gajah itu me­nyak­sikan bagaimana ke­luarganya dibunuh dan ga­dingnya dipotong oleh pem­buru. Begitu pula kisah-kisah yang bertutur tentang induk gajah yang tidak mau meninggalkan jasad anak­nya, atau kawanan yang ber­keliling seperti me­la­ku­kan ritual berkabung ketika ke­hilangan anggota ke­lom­pok­nya. Mereka dapat me­ra­sakan kegembiraan, ke­se­dihan dan juga trauma. 

Melindungi gajah sesung­guh­nya berarti melindungi hutan, dan melindungi hu­tan berarti melindungi ma­nusia dan semua makhluk. Merleau-Ponty menyebutnya sebagai intertwining atau keterjalinan antar; tubuh manusia, tubuh gajah, ter­hu­bung di dalam tubuh hu­tan. Menjaga keseimbang­an yang luhur ini sewajibnya menjadi keutamaan kita semua, sebab dunia yang kita hidupi bukanlah dunia milik manusia saja. Dunia ini tumbuh dari kehadiran se­ga­la yang hidup. Merusak sa­lah satunya berarti merobek keutuhan yang ada. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore