
Petani menanam padi di tengah isu penggunaan kecerdasan buatan oleh perusahaan teknologi dalam memengaruhi sistem pangan global (The Guardian)
JawaPos.com - Perusahaan teknologi terbesar dunia seperti Google, Microsoft, Amazon, IBM, dan Alibaba kini mulai mendominasi pertanian global melalui kecerdasan buatan (AI) dan algoritme.
Pakar sistem pangan memperingatkan bahwa gelombang digitalisasi ini berpotensi menggeser kendali produksi pangan dari petani lokal ke korporasi multinasional sekaligus memperdalam ketergantungan petani terhadap teknologi dan input industri.
Peringatan ini tercantum dalam laporan terbaru think tank International Panel of Experts on Sustainable Food Systems (IPES-Food) berjudul Head In The Cloud. Laporan itu mengkritik peran perusahaan teknologi besar dan agribisnis dalam membentuk sistem pangan dunia.
Dilansir dari The Guardian, Rabu (4/3/2026), para ahli menyatakan bahwa kolaborasi antara Big Tech dan pertanian industri menciptakan model top-down, yakni sistem pengambilan keputusan yang dikendalikan dari atas oleh perusahaan besar, yang menekan petani untuk menanam jenis tanaman paling produktif dan menguntungkan secara komersial seperti jagung, padi, gandum, kedelai, dan kentang, sementara keanekaragaman lokal yang telah lama dibudidayakan sering diabaikan.
Pat Mooney, penulis asal Kanada sekaligus pakar pertanian yang menjadi kontributor laporan Head in the Cloud dari IPES-Food, memperingatkan secara tegas, "Perusahaan-perusahaan ini sedang bermain dengan sistem pangan, dan kita tidak mampu membiarkan sistem pangan itu dimainkan begitu saja."
Dia menambahkan bahwa algoritme yang mereka dorong cenderung hanya fokus pada lima tanaman pokok, yaitu jagung, padi, gandum, kedelai, dan kentang. Akibatnya, varietas lokal seperti teff yang telah lama dibudidayakan petani di Ethiopia sering diabaikan.
Peringatan serupa disampaikan Lim Li Ching, salah satu ketua IPES-Food, dalam wawancara dengan SciDevNet Dia menegaskan, "Alat-alat ini mahal, sangat intensif energi dan sumber daya. Mereka bergantung pada konektivitas yang berkelanjutan dan model langganan yang tidak dapat diakses oleh sebagian besar petani kecil."
Menurut Ching, strategi ini berisiko menciptakan technological lock-in, di mana petani yang sudah masuk ke ekosistem digital tertentu akan kehilangan kontrol atas data dan alat keputusan mereka sendiri.
Laporan IPES-Food juga menyoroti penggunaan pertanian presisi berbasis AI, yaitu metode yang memanfaatkan satelit, sensor tanah dan cuaca, serta data untuk merekomendasikan jenis tanaman sesuai kondisi lahan. Meskipun metode ini diklaim meningkatkan efisiensi dan produktivitas, praktiknya sering memaksa petani membeli benih, mesin, dan input kimia yang terikat lisensi korporasi, sehingga ketergantungan terhadap perusahaan besar justru meningkat.
Kekhawatiran lain muncul terkait dominasi modal di sektor ini. Nilai pasar pertanian digital mencapai USD 30 miliar pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 84 miliar pada 2034, atau sekitar Rp 509 triliun dengan kurs Rp 16.890 per dolar AS, didukung lembaga seperti World Bank dan Uni Eropa.
Selain itu, kritik dari komunitas global menyoroti bahwa aliansi Big Tech dan agribisnis mendefinisikan ulang inovasi menurut kepentingan mereka sendiri, bukan berdasarkan kebutuhan petani atau keberlanjutan ekosistem pangan. Seperti ditegaskan Mooney, inovasi harus berakar pada pengetahuan lokal dan memberdayakan petani untuk melestarikan keanekaragaman hayati, bukan memperkuat praktik agrikultur industri yang intensif input dan berisiko tinggi terhadap perubahan iklim.
Dalam hal ini, dengan meningkatnya tekanan terhadap sistem pangan global akibat perubahan iklim, konflik geopolitik, dan ketimpangan akses, laporan ini menyerukan kebijakan yang memprioritaskan inovasi berkelanjutan, inklusif, dan memberi otonomi kepada komunitas tani. Hal ini bukan sekadar meningkatkan produktivitas, tetapi lebih jauh menentukan siapa yang mengendalikan inovasi dan siapa yang paling diuntungkan dari transformasi digital di sektor pangan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Racing Santander vs Elche di Liga Spanyol 2026/2027: Tuan Rumah Kunci 3 Poin!
Prediksi Skor Alaves vs Villarreal di Liga Spanyol 2026/2027: Sengit, Berakhir Imbang?
Prediksi Skor Deportivo Alaves vs Villarreal di Liga Spanyol: Babazorros Bisa Buat Kejutan
Kronologi Kericuhan di Pejompongan yang Tewaskan Lansia dan Bikin Pelajar Babak Belur
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Newcastle di Liga Inggris 2026/2027: Sengit, Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Levante vs Real Betis di Liga Spanyol 2026/2027: Tim Tamu Bisa Curi 3 Poin!
Prediksi Skor Bournemouth vs Everton di Liga Inggris 2026/2027: Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Coventry City vs Hull City di Liga Inggris 2026/2027: Bisa Berakhir Imbang!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Susunan Pemain AC Milan vs Venezia: Fisik Adrien Rabiot Belum Siap, Rafael Leao Absen
